Oleh : Pulo Lasman Simanjuntak
pulau kalimantan terbakar
dalam sajak airmata keluh kesah
hutannya telah berdarah
apinya seperti tembaga meleleh
sungguh memerah
panasnya juga menusuk
sampai kelamin satwa liar
ditebar menjalar
lahan-lahan rawa gambut
sungai-sungai sejarah
ikut mengering
kembali jadi tanah
yang telah retak
jiwa raganya
teriakan-teriakan mengerikan
bayi-bayi sesak nafas
dari belakang kelambu permukiman
menjelma jadi koor panjang
paling mematikan
sampai juga asap kuning jingga
ke langit kota jakarta
ke pintu istana negara
terkunci rapat
tak ada yang mau menyapa
hanya suara binatang dilindungi undang-undang paten
dari dalam hutan belantara
hanya suara percikan
ranting-ranting
makin membusuk
api terus mengejar
dengan napsu ganas
meliuk-liuk tubuhnya
ingin minta nyawa
dalam kamar bambu
tanpa oksigen
dan tiupan angin segar
hidup pada udara
yang beracun seribu kali
melewati ambang batas
antara langit dan wajah bumi
hingga hari ini
saat kutulis sajak ini
pulau.kalimantan masih terbakar
akan jadi jutaan titik-titik api
yang melahap dan hilang
dalam peta dunia
doaku,
semoga berlaksa-laksa malaikat
turun dari sorga
menebar awan tebal
jadi turun air hujan deras
sampai lidah-lidah banjir bandang
menelan rakus
tubuh kemarau
el nina membawa kebahagiaan
ataukah penderitaan
ketenangan rakyat dan bangsa ini
Jakarta, Selasa, 28 Oktober 2026
**/Pulo Lasman Simanjuntak, karya puisinya telah dibukukan dalam 7 buku antologi puisi tunggal, serta 50 buku antologi puisi bersama para penyair baik di Indonesia, sejumlah negara ASEAN dan India.Sering diundang sebagai pembaca puisi di Pusat Dokumentasi Sastra HB.Jassin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) di Taman Ismail Marzuki (TIM).Dikenal sebagai jurnalis dan kontributor untuk liputan berita seni, budaya, khususnya kesusasteraan.Kontak : 08561827332 (WA).



