Ambon, Kapatanews.com – Ada pepatah lucu tapi menyakitkan: “Apa gunanya mata jika melihat dengan telinga.” Bila kita renungkan, ungkapan ini bukan sekadar analogi, melainkan cerminan realitas kepemimpinan kita hari ini.
Seakan-akan sebagian pimpinan memiliki mata hanya sebagai hiasan wajah, tapi fungsi utamanya justru tertukar jadi telinga yang super sensitif. Mereka lebih percaya pada bisik-bisik koridor kantor, gosip selasar, dan pendapat yang terkadang berbenturan dengan fakta, dibandingkan melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Bukan rahasia lagi, banyak keputusan politik dan kebijakan publik yang lahir dari informasi abal-abal: mendengar dari “sumber terpercaya” tapi tanpa verifikasi langsung dan mengamini laporan yang jauh dari fakta hanya karena disuarakan oleh “orang dalam”. Bahkan lebih ekstrim, memilih mempercayai desas-desus tanpa peduli realitas yang bisa dilihat dan diukur.
Lucunya, budaya “melihat dengan telinga” ini seolah menjadi trademark kepemimpinan modern—sebuah fenomena yang patut dikaji lebih jauh. Seberapa efektifkah seorang pemimpin yang kurang menggunakan mata dan lebih dominan memakai telinga mereka?
Tentu, hasilnya adalah kebijakan yang sering kali meleset dari tujuan, salah sasaran, dan tak jarang menimbulkan kegaduhan lebih besar. Sementara itu, di tengah hiruk-pikuk kabar yang tak henti berhembus, mata yang seharusnya memeriksa dan memastikan kebenaran malah tertutup rapat oleh asumsi dan prasangka yang bias.
Bukannya turun langsung meninjau dan mengobservasi, lebih mudah bagi sebagian pimpinan untuk duduk manis di ruang ber-ac yang dingin dan menilai dunia lewat laporan yang sudah diedit atau bahkan “dibuat-buat”.
Jika kepemimpinan diibaratkan adalah seni mengarahkan tim, maka seni ini menjadi aneh saat pelukisnya tak mau melihat kanvasnya sendiri, melainkan hanya mendengarkan komentar penonton yang kadang tidak tahu apa-apa.
Ironisnya, mereka pun kerap bangga dengan keputusan yang dihasilkan, seolah-olah telah menemukan formula sempurna — padahal itu semua hanya hasil ekstrapolasi dari informasi yang tercerabut jauh dari kenyataan.
Sarkasme ini tentu bukan untuk menjatuhkan, melainkan mengingatkan bahwa mata adalah anugerah yang harus digunakan secara bijak. Melihat langsung bukan hanya soal visual, tapi soal integritas, keberanian, dan tanggung jawab untuk menghadapi fakta apa adanya. Ini adalah pelajaran krusial bagi para pemimpin yang ingin benar-benar mengabdi.
Semoga kelak, kita tidak lagi menjumpai pemimpin yang punya mata tapi “melihat dengan telinga.” Karena jika itu terjadi, sama saja kita memberi analogi ambisi dan realita yang terbalik—dan tentu, hasilnya hanya akan menjadi drama kepemimpinan yang membingungkan dan merugikan rakyat banyak.
Tuhan berkati selalu mereka yang berani melihat dengan mata terbuka (KN-01)



