Saumlaki, Kapatanews.com – Di Kecamatan Wuarlabobar, kehidupan rakyat kecil berjalan dalam sunyi yang panjang. Kenaikan harga kebutuhan pokok, sulitnya lapangan pekerjaan, dan terbatasnya akses ekonomi membuat banyak keluarga hidup dalam kecemasan yang tak terucap.
Setiap hari adalah perjuangan, setiap pagi adalah pertanyaan apakah dapur masih bisa berasap. Dalam kondisi seperti ini, rakyat tidak lagi berharap pada janji-janji besar, mereka hanya ingin bisa bertahan hidup dengan cara yang bermartabat.
Di tengah kesulitan itu, hadir sosok yang tidak pernah tampil di baliho atau mimbar besar, namun namanya hidup di hati masyarakat Wuarlabobar. Samuel J. Wuarlela, Sekretaris Camat Wuarlabobar, dikenal bukan karena jabatan, melainkan karena keberaniannya untuk tetap tinggal bersama rakyat ketika keadaan sedang paling sulit. Ia bukan datang sebagai penguasa, tetapi sebagai manusia yang peduli.
Dalam upaya membangkitkan kembali semangat petani, Samuel J. Wuarlela juga membangun koordinasi dan kerja sama yang intens dengan para penyuluh pertanian di Kecamatan Wuarlabobar. Melalui pendekatan edukatif dan dialog langsung di lapangan, petani didorong untuk kembali berkebun secara berkelanjutan.
Salah satu langkah nyata yang disepakati bersama adalah pengaturan pola tanam, di mana setelah musim panen padi selesai, lahan tidak dibiarkan kosong, tetapi langsung dilanjutkan dengan penanaman semangka sebagai komoditas lanjutan yang memiliki nilai ekonomi dan mampu menopang kebutuhan hidup masyarakat.
Samuel melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kebun-kebun rakyat perlahan ditinggalkan. Tanah yang dahulu menjadi sumber penghidupan kini dibiarkan kosong karena rasa putus asa. Banyak petani merasa usaha mereka sia-sia, hasil kebun tidak lagi cukup untuk menutup kebutuhan hidup yang semakin mahal.
Kondisi itulah yang menggugah hati Samuel. Ia tidak menunggu perintah, tidak menunggu anggaran, dan tidak menunggu program resmi. Ia memilih turun langsung ke lapangan, menyapa warga, duduk bersama petani, dan mendengarkan keluhan mereka tanpa jarak. Ia berbicara dengan bahasa sederhana, dengan nada yang penuh empati.
Samuel tidak pernah menjanjikan bantuan uang atau proyek. Yang ia sampaikan hanyalah keyakinan sederhana namun kuat: tanah tidak pernah mengkhianati orang yang mau bekerja. Ia mengajak masyarakat untuk kembali percaya pada kebun, kembali menggenggam cangkul, dan kembali bercocok tanam sebagai cara paling nyata untuk mempertahankan hidup.
Apa yang ia lakukan murni bersifat edukasi dan motivasi. Tidak ada anggaran kecamatan, tidak ada program pemerintah, dan tidak ada kepentingan pribadi. Semua dilakukan secara swadaya, dengan satu tujuan: agar masyarakat tidak menyerah pada keadaan dan tetap bisa makan dari hasil jerih payah sendiri.
Pada awalnya, ajakan itu tidak mudah diterima. Luka ekonomi yang dalam membuat sebagian warga ragu dan pesimis. Namun Samuel tidak pernah mundur. Ia terus hadir, terus berbicara, dan terus meyakinkan bahwa harapan masih ada selama tanah masih bisa ditanami.
Perlahan, perubahan mulai tampak. Lahan-lahan kosong kembali dibuka. Kebun-kebun yang sempat sunyi mulai hidup kembali. Ubi, jagung, semangka, padi kembali ditanam oleh tangan-tangan rakyat yang sempat lelah namun kini kembali berani berharap.
Hari demi hari, hasil dari kerja itu mulai dirasakan. Banyak keluarga kini kembali memiliki stok pangan dari kebun sendiri. Di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih, dapur tetap berasap, dan anak-anak tetap bisa makan dengan layak meski hidup dalam kesederhanaan.
Bagi masyarakat Wuarlabobar, Samuel bukan sekadar Sekcam yang bekerja di balik meja. Ia adalah orang yang hadir ketika mereka hampir menyerah. Ia tidak menggurui, tidak memerintah, tetapi berjalan bersama rakyat dalam kesulitan.
“Dia seng pernah janji apa-apa, tapi dia bikin kami kuat,” ujar seorang petani dengan suara bergetar. Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa besar arti kehadiran Samuel bagi masyarakat yang selama ini jarang diperhatikan.
Cinta rakyat kepada Samuel tumbuh dengan sendirinya. Bukan karena jabatan, bukan karena kekuasaan, tetapi karena ketulusan dan keberpihakan. Ia tidak menanam gedung atau monumen, tetapi menanam keyakinan bahwa rakyat kecil juga punya kekuatan untuk bertahan.
Di Wuarlabobar, nama Samuel J. Wuarlela disebut dengan rasa hormat dan terima kasih. Ia menjadi simbol bahwa aparatur negara masih bisa bekerja dengan hati, mendengar jeritan rakyat, dan hadir tanpa pamrih.
Di tengah luka ekonomi yang belum sepenuhnya sembuh, Samuel menjadi pengingat bahwa pelayanan sejati adalah kemanusiaan. Bahwa memotivasi rakyat untuk tetap hidup dan bertahan adalah bentuk pengabdian yang paling tulus.
Di antara kebun-kebun yang kembali hijau di Wuarlabobar, tersimpan kisah tentang seorang Sekcam yang dicintai rakyatnya, karena ia memilih tidak meninggalkan mereka saat keadaan paling gelap, dan justru menyalakan harapan ketika semua hampir padam. (Nik Besitimur)



