Place Your Ad
Place Your Ad
Iklan
Berita

Demo Boikot Groundbreaking Inpex Masela Ditunda, Luturyali: Ledakan Aksi Lebih Besar Menanti

×

Demo Boikot Groundbreaking Inpex Masela Ditunda, Luturyali: Ledakan Aksi Lebih Besar Menanti

Sebarkan artikel ini

Saumlaki, Kapatanews.com – Pernyataan bahwa situasi benar-benar kondusif pasca penundaan aksi tiga organisasi besar di Kabupaten Kepulauan Tanimbar kini mendapat bantahan keras dari internal gerakan.

Penundaan disebut sebagai langkah taktis yang sarat pertimbangan moral dan religius, bukan tanda menyerah. Di balik suasana yang tampak tenang, bara konsolidasi justru diklaim semakin membara dan terorganisir, Jumat (20/02/2026).

Scroll Keatas
Iklan
Scroll Kebawah

Tiga organisasi, yakni Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Aliansi Tanimbar Raya (ALTAR), dan Forum Cinta Bumi Tanimbar (FCBT), memang sepakat menunda aksi boikot Groundbreaking terhadap proyek Blok Masela yang dikelola oleh Inpex Corporation bersama mitranya.

Namun keputusan tersebut ditegaskan bukan akhir dari gerakan. Narasi bahwa aksi mereda dinilai terlalu dini dan berpotensi menyesatkan opini publik. Penundaan ini berkaitan langsung dengan rencana groundbreaking proyek strategis nasional Blok Masela yang selama ini menjadi sorotan masyarakat Tanimbar.

Aksi boikot groundbreaking tersebut sebelumnya dirancang sebagai bentuk tekanan moral agar pihak perusahaan dan pemerintah membuka ruang dialog yang lebih transparan terkait dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Anders Luturyali, yang ikut berada dalam lingkar konsolidasi, berbicara lugas tanpa tedeng aling-aling. Ia menegaskan bahwa rakyat tidak pernah mencabut tuntutannya terhadap proses percepatan proyek yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan lokal.

“Kami hanya menunda. Bukan membatalkan. Jangan pernah salah tafsirkan sikap tenang sebagai tanda takut,” ujarnya tegas.

Menurut Anders, keputusan menunda diambil demi menghormati masa tenang menjelang Paskah dan awal Ramadan, dua momentum sakral yang sangat dijunjung masyarakat Tanimbar. Namun penghormatan itu tidak boleh dibaca sebagai kompromi terhadap substansi tuntutan yang hingga kini belum terjawab secara transparan oleh pengelola proyek Blok Masela.

Ia menyebut, aksi boikot groundbreaking Inpex Masela sejatinya bukan sekadar simbol penolakan, melainkan peringatan keras agar pembangunan tidak berjalan di atas kekhawatiran rakyat.

Groundbreaking, kata dia, tidak boleh hanya menjadi seremoni megah tanpa jaminan konkret bagi tenaga kerja lokal, kontraktor daerah, serta perlindungan lingkungan terutama hak-hak masyarakat lokal.

“Kalau ada yang menganggap ini sudah aman dan selesai, itu penilaian yang keliru dan terlalu percaya diri,” katanya dengan nada dingin.

Anders menegaskan bahwa stabilitas bukan sekadar soal tidak adanya massa di jalan. Stabilitas sejati lahir dari keadilan, keterbukaan, dan kesediaan mendengar aspirasi masyarakat secara sungguh-sungguh. Jika itu tidak terjadi, maka ketenangan hari ini hanya jeda sebelum gelombang berikutnya datang.

Rencana boikot groundbreaking sebelumnya mencakup mobilisasi massa dalam jumlah besar di Saumlaki sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Aksi tersebut dirancang damai dan konstitusional, dengan tuntutan utama menyangkut transparansi skema perekrutan tenaga kerja, pembagian manfaat ekonomi, dan kepastian perlindungan hak ulayat masyarakat adat.

Di berbagai titik, konsolidasi disebut terus berjalan. Pertemuan-pertemuan internal dilakukan secara sistematis untuk memperkuat substansi tuntutan, merapikan strategi, dan memastikan bahwa aksi mendatang tidak bersifat emosional, melainkan terukur dan berbasis data.

“Kami tidak ingin sekadar teriak. Kami ingin tuntutan yang jelas, terstruktur, dan tidak bisa dipatahkan dengan narasi normatif,” ujar Anders.

Ia juga menekankan bahwa hak menyampaikan pendapat dijamin undang-undang. Penundaan ini, menurutnya, justru menunjukkan kedewasaan gerakan, karena memilih menjaga harmoni sosial di tengah momentum keagamaan yang sensitif, tanpa mengorbankan prinsip perjuangan.

Namun Anders memberi peringatan keras bahwa kesabaran masyarakat bukan tanpa batas. Jika ruang dialog tidak dibuka secara jujur oleh pihak perusahaan maupun pemerintah daerah, maka tekanan publik akan kembali muncul dengan energi yang jauh lebih besar dan lebih terorganisir.

“Jangan uji kesabaran rakyat terlalu jauh. Kami memilih menahan diri sekarang, tetapi bukan berarti kami akan diam selamanya,” tegasnya.

Menurutnya, isu boikot groundbreaking Inpex Masela bukan kepentingan segelintir orang, melainkan menyangkut masa depan Tanimbar, hak masyarakat lokal atas sumber daya alamnya, serta prinsip keadilan dalam proyek strategis berskala internasional.

Ia menyebut, suara yang hari ini tertahan justru sedang dikumpulkan. Semakin lama tidak direspons secara terbuka, semakin besar pula daya dorongnya ketika dilepaskan dalam bentuk aksi lanjutan.

“Aksi berikutnya bukan sekadar simbolik. Kami pastikan akan lebih besar, lebih solid, dan lebih sulit diabaikan,” katanya.

Anders juga mengajak masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi, namun tetap kritis membaca situasi. Ia meminta publik memahami bahwa gerakan boikot groundbreaking ini bukan bentuk permusuhan terhadap investasi, melainkan kontrol sosial yang sah dalam sistem demokrasi.

Menurutnya, menghormati Pra Paskah dan Ramadhan adalah kewajiban moral. Tetapi setelah masa sakral itu berlalu, aspirasi akan kembali disuarakan secara terbuka dan konstitusional jika tuntutan belum mendapat kejelasan.

Ia memastikan tidak ada perpecahan di antara tiga organisasi. Soliditas disebut tetap terjaga, bahkan semakin kuat setelah melalui proses diskusi dan penyamaan persepsi terkait langkah strategis menghadapi tahapan awal proyek Blok Masela.

“Barisan kami tidak retak. Justru makin rapi,” ucapnya singkat.

Anders menegaskan bahwa penundaan bukan tanda surutnya komitmen. Justru, kata dia, ini adalah fase pematangan yang akan menentukan arah gerakan selanjutnya, termasuk kemungkinan kembali menggelar aksi boikot saat momentum groundbreaking benar-benar ditetapkan.

Ia mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan, suara rakyat yang ditekan hanya akan mencari jalannya sendiri untuk muncul ke permukaan.

“Tanimbar harus tahu, ini belum selesai. Ditunda bukan dikubur. Dan ketika waktunya tiba, gelombang itu akan kembali bukan sebagai bisikan, tetapi sebagai suara keras yang tak bisa lagi diabaikan,”tegasnya.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan dan selamat memasuki masa pra-Paskah, semoga damai dan pengharapan menyertai selalu. Tutup Anders. (KN-07)

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP