Saumlaki, Kapatanews.com – Di tengah capaian penghargaan sektor kesehatan yang diterima Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, kondisi berbeda justru ditemukan di lapangan. Sejumlah puskesmas dilaporkan belum memiliki dokter tetap, termasuk Puskesmas Seira yang hingga kini masih mengalami kekosongan tenaga medis definitif. Minggu, (15/02/2026).
Ketiadaan dokter tetap di Puskesmas Seira membuat pelayanan kesehatan masyarakat berjalan tidak maksimal. Tenaga kesehatan yang tersedia hanya perawat dan bidan, sementara penanganan kasus tertentu membutuhkan kewenangan dan kompetensi dokter.
Warga Pulau Seira mengaku kesulitan setiap kali menghadapi kondisi medis yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Pasien dengan penyakit komplikasi atau kondisi darurat harus dirujuk ke Kota Saumlaki, ibu kota Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Perjalanan menuju Saumlaki bukan perkara mudah. Dengan kondisi geografis kepulauan, warga harus menempuh perjalanan laut berjam-jam, bahkan menghadapi risiko cuaca buruk yang dapat mengancam keselamatan pasien.
“Kalau sakit ringan mungkin masih bisa ditangani. Tapi kalau sudah berat, kami harus cari perahu untuk ke kota. Itu sangat berisiko,” ungkap seorang warga Seira yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Masalah ini bukan persoalan baru. Usulan agar Puskesmas Seira memiliki dokter tetap telah beberapa kali disampaikan kepada pemerintah daerah, namun hingga kini belum ada realisasi yang jelas.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, salah satu kendala utama adalah sistem kontrak tenaga dokter dengan upah yang dinilai sangat kecil. Skema tersebut membuat banyak dokter enggan ditempatkan di wilayah terpencil seperti Seira.
Dengan beban kerja yang berat serta keterbatasan fasilitas, insentif yang rendah dianggap tidak sebanding dengan tantangan yang harus dihadapi tenaga medis di daerah kepulauan. Akibatnya, tidak ada dokter yang bersedia bertugas secara permanen.
Selain persoalan tenaga dokter, fasilitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Seira juga dinilai belum memadai. Peralatan medis terbatas dan ketersediaan obat-obatan tidak selalu lengkap.
Dalam kondisi darurat, keluarga pasien sering kali harus bergerak cepat mencari transportasi laut untuk membawa anggota keluarganya ke Saumlaki. Situasi ini menimbulkan kecemasan dan tekanan psikologis, terutama ketika pasien berada dalam kondisi kritis.
Sebagai wilayah kepulauan dengan rentang kendali yang jauh, keberadaan dokter tetap menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa dokter, pelayanan kesehatan primer sulit berjalan optimal dan keselamatan warga menjadi taruhan.
Kondisi tersebut memunculkan ironi di tengah klaim peningkatan capaian pelayanan kesehatan daerah. Di atas kertas, indikator mungkin menunjukkan kemajuan, tetapi di Pulau Seira, masyarakat masih berjuang mendapatkan akses layanan dasar.
Kini, masyarakat Seira secara terbuka mendesak Bupati Kepulauan Tanimbar, Ricky Jauwerissa dan Wakil Bupati dr. Julyana Ch Ratuanak untuk segera menyikapi persoalan tersebut.
Warga meminta kedua pimpinan daerah itu turun langsung melihat kondisi riil di lapangan dan mengevaluasi kebijakan kontrak serta besaran insentif tenaga dokter agar lebih layak dan kompetitif.
Bagi masyarakat Seira, persoalan ini bukan sekadar isu administratif, melainkan menyangkut hak dasar atas pelayanan kesehatan dan keselamatan jiwa. Mereka berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret sebelum muncul korban yang tidak diinginkan. (KN-07)



