Penulis : Nik Besitimur (Jurnalis Kapatanews.com)
Hari itu seharusnya menjadi hari yang dipenuhi bunga, coklat, dan janji-janji manis yang diucapkan dengan mata berbinar, tetapi di sebuah rumah kontrakan tua di ujung gang sempit yang lembab, Hari Kasih Sayang datang tanpa pita merah, tanpa lilin makan malam, tanpa pelukan panjang yang dulu terasa begitu mudah bagi Arka dan Senja. Hujan turun sejak sore, menyisakan bau tanah basah yang merayap masuk melalui celah-celah jendela kayu yang tak lagi rapat, sementara lampu bohlam tunggal menggantung dengan cahaya pucat yang membuat ruangan kecil itu tampak lebih sendu dari biasanya, seolah bahkan dinding pun tahu bahwa cinta di dalamnya sedang berjuang untuk tidak benar-benar padam.
Arka duduk di tepi kasur tipis yang juga menjadi sofa, menatap sebuah laptop tua di atas meja kayu yang sedikit miring, layar yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri yang terlihat letih, sementara kipas kecil di dalamnya berdengung pelan seperti nafas yang tertahan. Laptop itu adalah saksi perjalanan mereka selama empat tahun, saksi film-film yang mereka tonton sampai tertidur, saksi tawa yang meledak hanya karena adegan sederhana, saksi rencana-rencana masa depan yang ditulis di catatan digital dengan keyakinan bahwa suatu hari semua kesulitan ini akan terasa seperti cerita perjuangan yang membanggakan.
Senja berdiri di dekat jendela, memeluk dirinya sendiri, bukan karena dingin semata tetapi karena ada jarak yang tak terlihat antara dirinya dan lelaki yang dulu begitu ia yakini sebagai rumahnya. Ia mengenakan pakaian sederhana, tanpa gaun indah atau riasan istimewa seperti pasangan lain yang mungkin sedang merayakan malam ini di restoran terang dengan lilin-lilin kecil, dan di matanya tidak ada kilau perayaan, hanya genangan pertanyaan yang terlalu lama dipendam dan akhirnya mencari jalan keluar.
Empat tahun lalu, Hari Kasih Sayang pertama mereka dirayakan dengan sangat sederhana, hanya mie instan yang dimasak bersama dan film romantis yang diputar di laptop dengan koneksi internet yang sering terputus, tetapi malam itu terasa hangat karena tangan mereka tak pernah lepas satu sama lain, karena mereka percaya bahwa kemiskinan tidak akan pernah mampu mengalahkan cinta yang tulus. Arka pernah berkata bahwa suatu hari ia akan membawa Senja makan malam di tempat yang layak, dan Senja tertawa sambil mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan itu selama mereka masih bisa duduk berdempetan dan berbagi mimpi.
Namun waktu mengubah banyak hal tanpa pernah meminta izin. Pekerjaan Arka yang tak kunjung stabil mulai mengikis rasa percaya dirinya, setiap lamaran yang tak mendapat balasan terasa seperti penolakan terhadap harga dirinya sebagai lelaki yang ingin memberi lebih. Senja yang harus bekerja lebih keras dan lebih lama, pulang dengan tubuh yang lelah dan hati yang penuh tekanan, mulai merasa bahwa ia berjuang terlalu sendirian, bahwa cinta yang dulu terasa ringan kini seperti beban yang terus dipanggul tanpa jeda.
Malam itu, di Hari Kasih Sayang yang seharusnya menjadi pengingat tentang alasan mereka bertahan, justru menjadi cermin tentang semua yang retak. Layar laptop menampilkan film romantis yang bahkan tidak benar-benar mereka tonton, adegan pasangan yang saling memeluk kontras dengan dua manusia di ruangan sempit yang tak lagi tahu bagaimana caranya saling mendekat tanpa melukai. Hujan mengetuk atap seng yang bocor, tetesannya jatuh ke dalam ember dengan irama yang monoton, seperti detak waktu yang menghitung mundur sesuatu yang tak ingin mereka akui.
“Aku capek, Ka,” suara Senja pecah akhirnya, pelan tetapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa semakin berat, dan kalimat itu bukan sekadar keluhan tentang hari yang panjang atau pekerjaan yang melelahkan, melainkan pengakuan bahwa ia kehabisan tenaga untuk terus menjadi penguat ketika dirinya sendiri rapuh. Ia menoleh, berharap melihat pengertian, berharap melihat Arka bangkit dan memeluknya seperti dulu, berharap mendengar satu kalimat sederhana yang bisa menenangkan badai dalam dadanya.
Arka menatapnya dengan mata yang sama lelahnya, ingin mengatakan bahwa ia juga capek, bahwa setiap malam ia merasa gagal karena belum mampu memberikan kehidupan yang lebih layak, bahwa setiap kali Hari Kasih Sayang datang ia merasa bersalah karena tak pernah bisa memberi lebih dari sekadar janji, tetapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan, terhalang oleh ego yang tipis tetapi tajam. Ia menjawab dengan nada yang tanpa sadar meninggi, mencoba membela diri padahal yang sebenarnya ia lakukan adalah menyembunyikan rasa takut kehilangan.
Perdebatan kecil berubah menjadi luka lama yang dibuka kembali, tentang perbedaan yang dulu dianggap bisa dijembatani, tentang keluarga yang tak pernah benar-benar merestui, tentang keyakinan yang berbeda yang pelan-pelan menjadi jurang, tentang masa depan yang semakin kabur. Kata-kata meluncur tanpa rem, saling melukai tanpa benar-benar berniat menghancurkan, tetapi justru itulah yang paling menyakitkan ketika dua orang yang saling mencintai berubah menjadi dua orang yang saling mempertahankan diri.
Senja akhirnya berjalan ke sudut ruangan, membuka lemari plastik tempat pakaian mereka bercampur tanpa sekat, dan mulai melipat beberapa helai baju dengan tangan gemetar. Setiap lipatan terasa seperti mengubur kenangan Hari Kasih Sayang pertama mereka, seperti memadamkan lilin kecil yang dulu mereka bayangkan akan terus menyala. Arka melihat tas kecil itu dan dadanya terasa sesak, seolah seluruh udara di ruangan itu tiba-tiba menghilang.
Ia ingin berdiri, ingin memeluk Senja dari belakang, ingin mengatakan bahwa ia tidak benar-benar ingin bertengkar di hari yang seharusnya penuh cinta, ingin mengakui bahwa ia takut hidup tanpanya jauh lebih daripada takut hidup dalam kekurangan, tetapi langkahnya terasa berat, terkunci oleh harga diri yang tak lagi relevan. Hujan di luar semakin deras, seakan langit pun ikut menangis untuk sesuatu yang tak mampu mereka selamatkan.
Ketika pintu kayu itu akhirnya terbuka, tidak ada drama besar, tidak ada teriakan, hanya langkah kaki Senja yang menjauh di lorong sempit, bercampur suara hujan dan aroma tanah basah. Pintu tertutup perlahan, dan bunyi kecil itu terasa seperti palu yang memaku akhir dari empat tahun perjuangan yang penuh tawa dan air mata.
Laptop diatas meja masih menyala, film romantis itu terus berjalan sampai akhirnya berhenti sendiri karena tidak ada yang menyentuhnya, dan Arka duduk sendirian di ruangan yang kini terasa jauh lebih sempit dari sebelumnya, menyadari bahwa Hari Kasih Sayang bukan tentang bunga atau cokelat yang tak pernah mampu ia beli, melainkan tentang keberanian untuk merendahkan ego dan berkata maaf sebelum semuanya terlambat.
Di tempat lain, di kamar sewaan yang lebih sunyi, Senja memeluk tas kecilnya dan membiarkan air mata jatuh tanpa ditahan, menyadari bahwa pergi pun tidak membuat rasa sakit berkurang, bahwa mencintai seseorang dengan segala kekurangannya adalah hal yang paling indah sekaligus paling melelahkan yang pernah ia rasakan.
Hari Kasih Sayang tahun itu tidak dipenuhi hadiah atau perayaan, melainkan oleh dua hati yang terpisah oleh kelelahan dan ego, dan mungkin suatu hari nanti, ketika hujan turun lagi di bulan Februari dan kenangan tentang laptop tua di rumah kontrakan itu kembali menghampiri, Arka dan Senja akan mengerti bahwa cinta tidak pernah benar-benar mati dalam satu malam; ia perlahan retak ketika dua orang lupa bahwa yang harus dimenangkan bukanlah perdebatan, melainkan satu sama lain.
Selamat Hari Valentine. Jika nanti hidup membuat kita lelah, semoga kita tidak saling melepaskan, melainkan saling menggenggam lebih erat. Karena cinta bukan tentang hari yang selalu indah, tetapi tentang tetap bertahan ketika semuanya terasa sulit. (KN-07)



