Saumlaki, Kapatanews.com – Setiap Minggu pagi, sebelum umat Wowonda sampai di pintu Gereja Santa Maria Imakulata, mereka lebih dulu berhadapan dengan rasa takut. Bukan takut akan khotbah, bukan takut akan dosa, melainkan takut terpeleset dan jatuh di sebuah jembatan kecil yang berada tepat di jalur utama desa.
Jembatan itu sudah lama rusak, papan-papannya yang terbuat dari pohon kelapa itu sangat licin, rangkanya rapuh, dan setiap langkah di atasnya selalu diiringi doa agar kaki tidak salah pijak.
Jalan ini bukan jalan samping. Ini adalah jalan utama yang menghubungkan pemukiman warga dengan gereja. Di depannya berdiri patung Santo Michael, simbol perlindungan dan keberanian iman umat. Ironisnya, tepat di bawah simbol perlindungan itu, warga justru dibiarkan berjalan dalam bahaya setiap hari, tanpa perlindungan nyata dari pemerintah desa yang seharusnya paling bertanggung jawab.
Bertahun-tahun kondisi jembatan ini dikeluhkan warga. Setiap musim hujan, ketakutan yang sama kembali hadir. Setiap Minggu, orang tua menggandeng anak-anak lebih erat, para lansia melangkah dengan ragu, dan umat saling mengingatkan agar berhati-hati. Sudah ada warga yang terjatuh. Peristiwa itu bukan rahasia. Semua orang tahu. Pemerintah Desa Wowonda pun tahu.
Namun yang tidak pernah datang adalah tindakan. Tahun berganti tahun, anggaran desa terus berjalan, tetapi jembatan di jalan utama menuju gereja tetap dibiarkan. Tidak ada perbaikan serius. Tidak ada prioritas. Seolah-olah keselamatan warga bukan urusan mendesak, seolah-olah jatuhnya warga hanyalah cerita kecil yang tidak cukup penting untuk digarap.
Pembiaran ini terasa semakin menyakitkan karena lokasinya tidak tersembunyi. Jembatan itu berada di pusat aktivitas warga, dilewati setiap hari, terlihat jelas oleh siapa pun yang melintas. Sulit diterima jika disebut tidak diketahui. Yang terjadi bukan ketidaktahuan, melainkan pengabaian yang terlalu lama dibiarkan tanpa rasa bersalah.
Di tengah kelelahan warga menunggu, muncul satu orang yang justru tidak memiliki kewenangan desa. Namanya Moses Maresyembun, S.Ap, seorang Aparatur Sipil Negara. Ia bukan kepala desa, bukan mengurus dana desa, dan tidak memiliki kewajiban formal untuk membangun jembatan itu. Tetapi ia memiliki kepedulian yang tidak dimiliki oleh mereka yang seharusnya bertindak.
Setiap kali melintasi jembatan itu, Moses melihat sendiri bagaimana warga berjalan dengan rasa was was. Ia mendengar cerita tentang mereka yang sempat jatuh, tentang ibu-ibu yang menahan napas saat hujan, tentang orang tua yang terpaksa tetap lewat karena tidak ada jalan lain. Dari situlah kegelisahan itu tumbuh, dan ia memilih tidak lagi menunggu.
Ketika Pemerintah Desa Wowonda terus diam, Moses justru bergerak. Ia tidak berbicara panjang di forum, tidak menyalahkan siapapun di ruang publik. Ia memilih bekerja. Ia mendatangi gereja, menyampaikan kegelisahan yang sama kepada para pastor, dan mencari dukungan dengan cara yang jujur dan terbuka.
Dukungan itu datang dari Pastor Paroki Santa Maria Imakulata Wowonda, RD Sebastianus Takndare, bersama Pastor Alo Matruti, Pastor Jemris Rangkoli, Pastor Sipe Matruti serta para donatur Desa Wowonda. Mereka bergerak bukan karena proyek, bukan karena kepentingan pribadi, tetapi karena melihat langsung penderitaan umat yang terlalu lama diabaikan.
Saat pembangunan jembatan akhirnya dimulai, reaksi warga bukan hanya senyum. Banyak yang menitikkan air mata. Ada rasa lega, tetapi juga rasa perih. Lega karena akhirnya bisa melintas dengan aman. Perih karena jembatan yang begitu vital baru terwujud setelah warga berhenti berharap pada pemerintah desa dan bergantung pada inisiatif pribadi.
Dukungan warga kepada Moses tumbuh dengan sendirinya. Bukan karena ia mencari pengakuan, tetapi karena ia melakukan apa yang seharusnya sudah lama dilakukan oleh Pemerintah Desa Wowonda. Kehadirannya justru memperlihatkan betapa kosongnya perhatian pemerintah desa terhadap kebutuhan paling dasar warganya.
Ini bukan sekadar cerita tentang jembatan. Ini adalah catatan tentang bagaimana pemerintah desa bisa kehilangan kepekaan, bahkan terhadap jalan utama yang setiap hari dilewati warganya menuju rumah ibadah. Tentang bagaimana keselamatan publik bisa tersingkir oleh kelalaian yang terus dibiarkan.
Kini jembatan itu akan berdiri dan bisa dilewati dengan aman atas perjuangan panjang Maresyembun Anak-anak tidak lagi ditarik dengan cemas, orang tua tidak lagi berhenti lama sebelum melangkah. Namun ingatan tentang rasa takut itu masih tinggal di benak warga. Luka karena diabaikan tidak sembuh hanya dengan kayu dan semen.
Di bawah patung Santo Michael, umat akan berjalan lebih tenang. Tetapi satu pertanyaan terus bergaung di antara warga: mengapa semua ini harus dilakukan oleh seorang ASN dan para pastor, bukan oleh Pemerintah Desa Wowonda yang memiliki kewenangan dan anggaran?
Jika berita ini membuat pembaca terdiam atau meneteskan air mata, itu karena kisah ini benar-benar terjadi. Karena di Wowonda, sebuah jembatan di jalan doa pernah dibiarkan rusak terlalu lama. Dan ketika pemerintah desa memilih diam, seorang anak negeri bernama Moses Maresyembun memilih untuk tidak menutup mata. (Nik Besitimur)



