Place Your Ad
Place Your Ad
Iklan
Berita

Penulis Buku “Tuhan dan Mesin”, Ois Wuritimur, Suarakan Iman di Era Algoritma

×

Penulis Buku “Tuhan dan Mesin”, Ois Wuritimur, Suarakan Iman di Era Algoritma

Sebarkan artikel ini
Oplus_16908288

Maluku, Kapatanews.com – Di zaman ketika layar lebih sering menyala daripada nurani, dan notifikasi lebih cepat dijawab daripada doa, seorang mahasiswa Sistem Informasi, Ois Batayaman Wuritimur, meluncurkan sebuah buku yang bukan sekadar bacaan melainkan gugatan intelektual.

Melalui karya debutnya, Tuhan dan Mesin: Mencari Makna di Dunia yang Terotomasi, ia mengajukan pertanyaan yang jarang berani diajukan oleh generasinya sendiri: Jika algoritma semakin menentukan hidup manusia, apakah Tuhan masih memiliki ruang dalam kesadaran modern?

Scroll Keatas
Iklan
Scroll Kebawah

Buku yang akan terbit pertengahan Februari 2026 ini tidak lahir dari romantisme anti teknologi, juga bukan manifesto spiritual yang menolak kemajuan. Ia lahir dari ruang paling konkret: meja belajar, baris kode, dan kegelisahan seorang mahasiswa yang hidup di antara server dan sunyi.

Teknologi Bukan Lagi Alat, Tapi Struktur Kesadaran

Dalam Bab pertama, Ois menolak cara berpikir lama yang menganggap teknologi sekadar alat. Baginya, mesin telah berubah menjadi arsitektur kesadaran. Ia membentuk cara manusia memandang dunia, menentukan preferensi, bahkan mengarahkan emosi.

Algoritma tidak hanya merekomendasikan lagu atau film; ia membentuk selera. Ia tidak hanya menampilkan berita; ia mengatasi realitas. Dunia digital bukan lagi ruang tambahan ia telah menjadi habitat utama.

Di titik inilah Ois menyodorkan paradoks modernitas: semakin otomatis dunia, semakin rapuh pengalaman makna. Manusia hidup dalam efisiensi tinggi, namun batinnya sering terasa kosong. Dunia bergerak cepat, tetapi jiwa tertinggal.

Privasi Spiritual: Benteng Terakhir Manusia

Salah satu gagasan paling orisinal dalam buku ini adalah konsep “privasi spiritual”. Di tengah era transparansi digital, ketika hampir semua aktivitas terdokumentasi dan terhubung, Ois mengajukan tesis radikal: ruang batin yang tak tersentuh algoritma adalah bentuk iman baru.

“Privasi sejati,” tulisnya, “adalah ruang batin, tempat manusia dapat berdiam dan berdialog dengan dirinya sendiri atau dengan Tuhan.”

Dalam masyarakat yang mengukur eksistensi lewat visibilitas, menjaga ruang sunyi justru menjadi tindakan perlawanan. Bagi Ois, kehilangan ruang sunyi sama dengan kehilangan kedalaman eksistensi. Dan ketika manusia tak lagi mampu hening, ia perlahan kehilangan kemampuan untuk mendengar baik suara hati maupun suara Tuhan.

Dataisme: Tuhan Baru Tanpa Kasih

Terinspirasi dari pemikiran Yuval Noah Harari, penulis membedah fenomena yang ia sebut sebagai “iman pada data”. Dalam dunia yang mengagungkan statistik, metrik, dan prediksi, data sering diperlakukan sebagai kebenaran tertinggi.

Algoritma menjadi entitas yang serba tahu: ia tahu kebiasaan belanja, pola tidur, bahkan kecenderungan emosi manusia. Namun, berbeda dengan Tuhan dalam tradisi iman, algoritma tidak mengenal kasih. Ia tidak memahami penderitaan. Ia hanya menghitung.

Di sinilah kritik Ois menjadi tajam: ketika manusia menyerahkan keputusan terdalamnya pada sistem rekomendasi, ia bukan sekadar memanfaatkan teknologi ia sedang merelakan kebebasan eksistensialnya.

Pendidikan di Tengah Ancaman Mekanisasi

Dalam bab tentang pendidikan, Ois mengangkat kegelisahan yang relevan bagi generasi muda Indonesia. Ia mempertanyakan arah pendidikan yang semakin pragmatis dan terfokus pada keterampilan teknis.

Jika sekolah hanya melatih manusia agar kompatibel dengan sistem, siapa yang melatihnya untuk bijaksana? Jika kurikulum hanya mengejar efisiensi, siapa yang menjaga nilai kemanusiaan?

Ia mengingatkan bahwa mesin dapat mengajarkan kecepatan, tetapi tidak kebijaksanaan. Ia dapat mengolah informasi, tetapi tidak membentuk karakter. Pendidikan yang kehilangan dimensi moral, menurutnya, hanya akan melahirkan operator sistem bukan manusia merdeka.

Apakah Mesin Bisa Memiliki Jiwa?

Bab ketujuh menjadi puncak refleksi filosofis buku ini. Ois mengajak pembaca menatap langsung pertanyaan yang sering dihindari: jika kecerdasan buatan semakin canggih, mungkinkah ia memiliki kesadaran?

Jawabannya tegas. Mesin dapat meniru percakapan, ekspresi, bahkan empati secara simulatif. Namun ia tidak pernah benar-benar mengalami cinta, kehilangan, atau keheningan doa. Ia memproses data, bukan menghayati makna.

“Mesin dapat meniru pikiran, tapi tidak dapat meniru hati. Selama manusia masih mampu mencintai, dunia tidak akan kehilangan maknanya.”

Kalimat itu bukan sekadar romantisme. Ia adalah pernyataan ontologis: bahwa kemanusiaan tidak terletak pada kecerdasan, melainkan pada kedalaman pengalaman batin.

Buku Debut, Tapi Bukan Pemikiran Dangkal

Sebagai karya pertama, Tuhan dan Mesin tampil dengan keberanian intelektual yang jarang ditemukan pada penulis seusianya. Ia tidak terjebak dalam glorifikasi teknologi, juga tidak larut dalam ketakutan apokaliptik. Ia berdiri di tengah kritis, reflektif, dan sadar.

Ois Batayaman Wuritimur menulis bukan sebagai pengkhotbah, melainkan sebagai pencari. Ia mengakui bahwa generasinya adalah generasi yang tumbuh bersama layar, namun ia menolak untuk membiarkan layar mendikte makna hidupnya.

Di tengah gemerlap inovasi dan kompetisi digital, buku ini hadir sebagai pengingat bahwa ada sesuatu yang tak boleh hilang: suara manusia di dalam dirinya sendiri.

Dan mungkin, dalam dunia yang semakin bising oleh mesin, keberanian untuk bertanya tentang Tuhan justru menjadi tindakan paling revolusioner.

Informasi Buku

Judul: Tuhan dan Mesin: Mencari Makna di Dunia yang Terotomasi

Penulis: Ois Batayaman Wuritimur

Jumlah Halaman: ±212 halaman

Terbit: Pertengahan Februari 2026

Distribusi: Toko buku utama dan platform daring di Indonesia

Buku ini bukan sekadar refleksi mahasiswa. Ia adalah undangan bagi siapa pun insinyur, pendidik, rohaniwan, hingga generasi digital untuk bertanya kembali: Di antara data dan doa, di antara mesin dan manusia, kita ingin menjadi apa? (Nik Besitimur)

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP