Place Your Ad
Place Your Ad
Iklan
Berita

Puskesmas Seira Tanpa Dokter, Nyawa Masyarakat di Ujung Tanduk

×

Puskesmas Seira Tanpa Dokter, Nyawa Masyarakat di Ujung Tanduk

Sebarkan artikel ini
Oplus_16908288

Bayi Meninggal, Warga Desak Bupati Bertindak Sebelum Lebih Banyak Korban Berjatuhan

Tanimbar, Kapatanews.com – Derita warga Pulau Seira, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, kian memuncak. Sudah berbulan-bulan tidak ada satupun dokter yang bertugas di Puskesmas Seira. Pelayanan kesehatan praktis lumpuh total. Warga kini hidup dalam bayang-bayang maut, terutama ketika penyakit datang di tengah malam, sementara jarak menuju Saumlaki membutuhkan perjalanan laut yang tidak selalu bersahabat.

Scroll Keatas
Iklan
Scroll Kebawah

Kondisi ini bukan lagi sekadar keluhan administratif. Ini soal nyawa.

Informasi yang dihimpun media ini menyebutkan, dokter terakhir yang bertugas adalah tenaga program Nusantara Sehat. Masa kontraknya berakhir pada Oktober lalu, dan sejak itu tak ada pengganti. Puskesmas hanya ditangani tenaga medis terbatas tanpa kewenangan penanganan kasus-kasus serius.

“Kalau sakit parah, ya pasrah saja. Mau rujuk ke Saumlaki harus tunggu kapal atau cuaca bagus. Banyak yang tidak sempat sampai,” ungkap seorang warga kepada wartawan, Jumat (14/2), dengan suara bergetar. Ia meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir mendapat tekanan.

Menurutnya, sudah beberapa warga meninggal dunia karena terlambat mendapatkan penanganan medis lanjutan.

“Ini bukan cerita baru. Kami sudah lama menjerit, tapi seperti tidak ada yang dengar.”ungkapnya.

Tragedi terbaru yang mengguncang nurani adalah meninggalnya seorang anak kecil akibat dugaan kurang gizi. Warga menyebut, orang tua anak tersebut hanya mampu memberikan susu kental manis merek “Cap Nona” sebagai pengganti asupan gizi yang seharusnya. Anak itu akhirnya meregang nyawa dalam kondisi memprihatinkan.

“Itu bukan semata salah orang tuanya. Itu tanda bahwa edukasi kesehatan tidak berjalan. Tidak ada pendampingan serius untuk ibu hamil dan ibu menyusui,” kata sumber yang sama.

Ia menegaskan, tugas tenaga medis bukan hanya menunggu pasien datang ke puskesmas, tetapi aktif melakukan pengawasan, edukasi, dan pemantauan kondisi ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.

“Kalau mental ibu terganggu karena tekanan ekonomi dan tidak ada pendampingan, anak yang jadi korban.”ucapnya.

Warga menilai, minimnya perhatian terhadap pelayanan kesehatan dasar di Seira adalah bentuk kelalaian yang tak bisa lagi ditoleransi. Mereka mendesak Bupati Kepulauan Tanimbar, Ricky Jauwerissa dan Wakil Bupati Julyana Ch Ratuanak untuk segera memprioritaskan penempatan dokter tetap di Puskesmas Seira.

“Jangan sibuk urus hal-hal yang tidak menyentuh kebutuhan dasar rakyat. Kesehatan itu hak hidup. Kalau ini terus dibiarkan, berarti pemerintah membiarkan warganya mati perlahan,” tegas sumber tersebut.

Ketiadaan dokter juga berdampak pada pelayanan ibu hamil berisiko tinggi. Tanpa pemeriksaan rutin dan deteksi dini, potensi komplikasi kehamilan sulit terpantau. Warga mengaku sering hanya mengandalkan pengalaman bidan dan perawat yang jumlahnya terbatas.

Situasi ini diperparah dengan kondisi geografis Seira yang terpisah laut dari pusat pemerintahan di Saumlaki. Dalam kondisi darurat, perjalanan laut bisa memakan waktu berjam-jam. Tidak jarang cuaca buruk membuat evakuasi medis mustahil dilakukan.

Seorang tokoh masyarakat yang juga meminta namanya tidak disebutkan mengatakan, pemerintah daerah harus berhenti menganggap persoalan ini sebagai isu kecil. “Setiap hari tanpa dokter adalah ancaman. Ini bom waktu kemanusiaan.”

Warga kini menanti langkah konkret, bukan sekadar janji. Mereka meminta penempatan dokter definitif, penguatan program gizi, serta pengawasan intensif terhadap ibu hamil dan balita. Mereka juga mendesak agar ada evaluasi serius terhadap sistem distribusi tenaga kesehatan di wilayah kepulauan.

“Kalau tidak segera ada tindakan, kami akan bersuara lebih keras. Ini soal hidup dan mati,” ujar sumber itu menutup pembicaraan.

Pulau Seira hari ini bukan hanya menghadapi gelombang laut, tetapi juga gelombang ketidakpastian atas hak dasar mereka untuk sehat dan hidup layak. Pemerintah daerah kini berada di persimpangan: bertindak cepat, atau membiarkan sejarah mencatat bahwa jeritan warga dibiarkan tenggelam bersama ombak. (KN-07)

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP