Ambon, Kapatanews.com – Trend Perselingkuhan saat ini menjadi umum dalam setiap kehidupan keluarga dan perselingkuhan dapat dianggap sebagai salah satu aspek kehidupan keluarga yang seringkali menjadi sumber masalah. Perselingkuhan umumnya ditandai dengan perubahan sikap yang paling menyolok dan sering terjadi adalah kecenderungan untuk menyembunyikan sesuatu,bersikap defensif (bertahan) dan berbohong
“Menurut Bloow dan Hartnet, perselingkuhan secara terminologi adalah kegiatan seksual atau emosioanal yang dilakukan oleh salah satu atau kedua individu terikat dalam hubungan berkomitmen dan dianggap melanggar kepercayaan atau norma (terlihat maupun tidak terlihat) berhubungan dengan eksklusi-vitas emosional atau seksual”
Pada dasarnya, setiap individu menginginkan kehidupan yang normal dan dapat diterima dalam lingkungan sosial. Manusia secara alami mengikuti norma-norma yang berlaku dalam masayarakat termasuk norma-norma dalam kehidupan berkeluarga. Meskipun demikian faktor lingkungan sosial ,jabatan, status sosial dan pengalaman pribadi dapat mengubah prilaku seseorang.
Hal ini juga berlaku dalam konteks pernikahan, dimana situasi awal yang harmonis dapat berubah menjadi konflik dan pertengkaran ketika salah satu atau kedua pasangan terlibat dalam tindakan perselingkuhan. Keadaan ini seringkali sulit diatasi dan sayangnya banyak rumah tangga yang akhirnya berakhir dengan perceraian akibat dari perbuatan perselingkuhan
Menurut Hawari,mayoritas perselingkuhan dilakukan oleh pria,sementara wanita hanya sekitar 10% dimana pria cenderung melakukan perselingkuhan untuk memuaskan nafsu sementara wanita memilki kecenderungan menggunakan hati dan perasaan dalam melakukan perselingkuhan
Faktor Penyebab perselingkuhan
Umumnya perselingkuhan sering terjadi dikalangan keluarga yang memilki kualitas keagamaan yang tidak kokoh, dasar cinta yang lemah,kominikasi yang tidak lancar dan harmois, sikap egois yang berlebihan dari masing-masing pasangan, emosi yang tidak stabil serta ketidakmampuan untuk beradaptasi. Selain itu lingkungan yang tidak mendukung juga dapat mempengaruhi munculnya prilaku selingkuh.
Sebagai contoh, anak yang tumbuh dalam lingkungan perselingkuhan cenderung memilki kecenderungan untuk menjadi orang yang terlibat dalam perselingkuhan. Dari aspek pendiidkan anak, kondisi perselingkuhan dianggap sebagai lingkungan yang tidak menguntungkan karena sulit bagi anak untuk mendapatkan contoh dan pegangan hidup yang positif
Menurut Gifari faktor-faktor perseligkuhan antara lain :
Pertama : Terdapat peluang dan kesempatan ; ada dalam lingkungan pekerjaan yang jauh dari salah satu pasangan, tinggal terpisah dari pasangan dan mudah akrab dengan lawan jenis memungkinkan untuk membuka peluang dilakukannya perselingkuhan
Kedua : Konflik antar pasangan ; hubungan yang kurang harmonis seringkali menjadi alasan yang diungkapnya oleh salah satu pasangan atau keduanya kepada orang lain untuk mencari kebahagian dan kenyaanan diluar pernikahan
Ketiga : Ketidakpuasan seksual ; para psikiater mengakui bahwa banyak gangguan saraf dan mental bermula dari masalah seksual. Ganguan seksual dapat menyababkan berbagai penyakit psikosomatik yang akhirnya berdampak pada kesehatan fisik. Oleh karena itu kesehatan emosional seseorang sangat tergantung pada pengelolaan yang bijaksana dari aspek seksual.
Keempat: Adanya Abnormalitas atau prilaku seksual yang bersifat animalistis ; Dengan mudahnya akses terhadap video porno dan drama percintaan banyak pasangan yang menonton secara sembunyi tanpa sepengetahuan pasangannya. Dampaknya seringkali menjadi dorongan serta fantasi seksual untuk mencoba hal tersebut dalam hubungan pernikahan. Namun kenyataannya banyak pasangan yang tidak siap dan tidak setuju sehingga hal ini menyebabkan ketidakcocokan di tempat tidur dan menciptakan ketegangan dalam pernikahan yang akhirnya berakhir dengan perselingkuhan
Kelima : Kehilangan Iman ; kehilangan iman dapat menjadi penyebab prilaku buruk atau menyimpang. Kekosongan iman seringkali menjadi akar dari berbagai prilaku negatif. Rumahtangga dilanda badai seringkali menjadi tanda keroposnya iman sehingga dapat menyebabkan tindakan perselingkuhan atau persinahan.
Keenam : Hilangnya rasa malu; Rasa malu sebagian besar memilki keterkaitan dengan iman dan ke dua unsur itu seperti gula dengan manisnya atau garam dengan asinnya yang sulit dipisahkan
Cyber Affair, Fenomena Perselingkuhan Digital
Ironi perselingkuhan pasangan suami istri di era digital terletak pada paradoks di mana teknologi yang seharusnya mendekatkan, justru menjadi alat pemisah yang paling ampuh. Fenomena ini menciptakan situasi “bersama namun terasing” ( together alone ), di mana pasangan berada di ruang fisik yang sama, namun secara mental dan emosional terhubung dengan orang lain.
Pasangan suami – istri yang intens melakukan interaksi digital sangat rentan terhadap konfilk dan perselingkuhan. Aksi balas dendam terhadap salah satu pasangan yang berselingkuh membuka ruang kehancuran rumah tangga, Proses pembalasan dendam ini akhirnya akan menuntun kedua pasangan untuk sama-sama melakukan perselingkuhan karena merasa dihiananti,tidak dihargai,butuh perhatian dan hilangnya kehangatan dan cinta diantara sesama pasangan suami istri.
Berawal dari interaksi lawan jenis di plafrom digital .berlanjut percakapan intensif, saling curhat, saling memberi perhatian bahkan saling membuka kelemahan dan aib pasangan lalu melahirkan rasa kasih sayang ,bertukar foto dan video. akhirnya melakukan pertemuan secara fisik di dunia nyata,hingga melakukan aktifitas sexsual diluar pernikahan yang sah
Sungguh ironis sebuah problematika kehidupan rumahtangga pasangan suami – istri di era digital yang terlibat secara bersamaan dalam melakukan aktifitas perselingkuhan tanpa diketahui oleh salah satu pasangan. Fenomena ini sering terjadi tetapi begitu rapi disembunyikan. Saling menyalahkan, mengklaim diri yang paling benar dan menyalahkan salah satu pasangan yang berselingkuh, padahal ia sendiri adalah bagian dari pelaku perselingkuhan
Berikut adalah poin-poin ironi perselingkuhan di era digital:
Pertama : Selingkuh Tanpa Keluar Rumah: Teknologi memungkinkan seseorang berselingkuh secara emosional atau seksual ( cyber affair ) dari tempat tidur atau sofa yang sama dengan pasangannya. Perselingkuhan ini terjadi tanpa harus bertemu fisik, melalui chatting, media sosial, atau aplikasi pesan instan.
Kedua : “Micro-Cheating” yang Dianggap Remeh: Banyak yang merasionalisasi bahwa perselingkuhan digital bukan selingkuh sungguhan karena tidak ada kontak fisik. Padahal, micro-cheating (perilaku kecil yang mengarah pada pengkhianatan) atau keintiman emosional daring adalah bentuk perselingkuhan serius yang menghancurkan kepercayaan.
Ketiga : Komunikasi Intim ke Orang Asing, Dingin ke Pasangan: Ironinya, pasangan suami istri sering kali lebih terbuka, hangat, dan sering berkomunikasi dengan orang asing di dunia maya, sementara hubungan mereka sendiri menjadi dingin dan miskin komunikasi karena masing-masing sama-sama melakukan perselingkuhan
Keempat : Penyembunyian yang Sangat Mudah: Era digital memfasilitasi perselingkuhan dengan fitur seperti password ganda, secret chat, dan riwayat peramban yang bisa dihapus. Seseorang bisa menyembunyikan “hubungan kedua” mereka di depan mata pasangan sah.
Kelima : Saling Selingkuh secara bersamaan: Kondisi di mana suami dan istri sama-sama terlibat dalam perselingkuhan digital masing-masing, menciptakan rumah tangga yang utuh secara status tetapi hancur secara batin yang kemudian akan berdampak kepada hancurnya keluarga dan masa depan anak-anak
Keenam : Dampak Trauma Nyata dari “Dunia Maya”: Meskipun terjadi secara virtual, dampaknya terhadap kesehatan mental dan ketahanan keluarga sangat nyata, bahkan disamakan dengan selingkuh fisik yang traumatis.
Pada akhirnya, perselingkuhan di era digital sering kali berujung pada perceraian nyata, mempertegas ironi bahwa teknologi yang bertujuan meningkatkan konektivitas, sering kali justru digunakan untuk merusak komitmen, kepercayaan, hancurnya rumah tangga, keluarga dan rusaknya mental dan masa depan anak-anak ( Redaksi)



