Oleh : Joga Papilaya- Wakil Ketua DPD Golkar Maluku
Ambon, Kapatanews.com – Partai Golongan Karya (Golkar) sebagai salah satu Partai terbesar di Indonesia,memulai perjalanan sejarah Politiknya pada 20 Oktober 1964, yang ditandai dengan bedirinya “Sekretariat Bersama Golongan Karya” (Sekber) Golkar oleh kalangan militer Angkatan Darat guna menampung berbagai organisasi fungsional dalam membendung segala isu yang mengganggu stabilitas Nasional saat itu. Di era Orde baru Golkar menjadi mesin Politik dan memenangkan seluruh pemilu pada tahun 1971-1997 dengan dukungan birokrasi dan militer. Pasca 1999 Golkar bertransformasi menjadi Partai politik terbuka dan tetap menjadi kekuatan politik yang signifikan dalam kekuasan pemerintahan
Di era Reformasi sampai sekarang, Golkar terus menunjukan ketahanan ( Resilensi) politik yang tinggi dengan beradaptasi pada sistim demokrasi serta selalu berada dalam ruang-ruang kekuasaan. Tradsi kekuasan ini tidak pernah hilang dan selalu menjadi roh dalam setiap perhelatan politik maupun pemerintahan. Dengan resilensi politik Golkar yang semakin tinggi tersebut, Partai Golkar selalu menempatkan kadernya di posisi strategis dalam setiap pemerintahan yang ada.
Tradisi Golkar Adalah Tradisi Kekuasaan Bukan Tradisi Agama
Mantan Ketua Umum Partai Golkar Yusuf Kalla pernah mengatakan bahwa ‘ Gokar dalam tradisinya mencakup aspek poltik praktis, kaderisasi serta selalu berada dalam pemerintahan dan kekuasaan guna memastikan Karya Kekaryaan dan pengabdian” yang menekankan pada aksi nyata dan keterlibatan langsung dalam masyarakat. Ucapan Yususf Kalla ini mengingatkan kita bahwa hari ini Partai Golkar Maluku telah kehilangan para kader pada pusaran kekuasaan pemerintahan di Maluku saat ini. Kehilangan tradisi kekuasaan ini telah menyebabkan keterpurukan yang dalam bagi Partai Golkar di daerah ini pada setiap tingkatan
Sebagai Partai yang berbasis nasionalis dengan tradisi kekuasaan, politik praktis dan kaderisasi, Partai Golkar selalu mengharamkan tradisi agama dalam bergolkar. Pancasila sebagai landasan idiologi selalu mengusung paradigma kekaryaan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur dengan memposisikan diri sebagai partai sentris (tengah) atau nasionalis konservatif yang berfokus pada pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional bukan agama
Ely Touisuta Kader Murni Golkar Yang Ada Dalam Kekuasaan
Dengan tradisi Golkar yang selalu berada dalam kekuasaan, menjadikan Elly Toisuta sebagai satu-satunya kader murni Golkar Maluku yang saat ini berada dalam lingkaran kekuasaan pemerintahan sebagai Wakil Walikota Ambon. Jabatan Toisuta tersebut merupakan kehormatan dan kebanggaan Golkar Maluku lebih khusus Golkar Kota Ambon
Jika ditelaa lebih mendalam jelang Musda Gokar Kota Ambon, maka tradisi Golkar yang selalu berada dalam kekuasaan, mengharuskan kader Golkar lainnya yang berkeinginan menjadi ketua Golkar Kota Ambon mestinya sadar dan legowo untuk memberi tanggungjawab Golkar kota Ambon dipimpin oleh Elly Toisuta. Hal ini wajib disadari oleh segenap kader partai baik itu calon maupun pemilik suara.
Elly Toisuta saat ini adalah kebanggan dan kehormatan partai Golkar Maluku apalagi Kota Ambon merupakan barometer politik Maluku. Segenap kader partai harus memberikan kehormatan dan penghargaan itu kepada Toisuta untuk membawa Golkar Kota Ambon lima tahun tahun ke depan lebih baik. Kita harus optimis dengan posisi Toisuta saat ini dan dipastikan pemilu 2029 Golkar Kota Ambon akan kembali merebut ketua DPRD Kota Ambon
Jika segenap kader partai tidak menyadari hal tersebut maka jangan salah jika kita akan ditertawakan oleh partai lain karena tidak menghargai kader sendiri yang saat ini berada dalam pusat kekuasaan. Sejarah mencatat Partai Golkar pernah tidak menghargai kader murni Golkar Alm Mukti Kaliobas sebagai Bupati SBT dua periode, dimana dua periode kepemimpinannya sebagai Bupati, Partai Golkar tidak memberi rekomendasi kepadanya . Apa yang dialami Mukti Kaliobas saat itu akhirnya berdampak pada kehilangan kursi Golkar dari dapil SBT dua periode berturut-turut
Hal ini mesti dicermati dan dievaluasi dengan baik oleh segenap kader partai jika kejayaan partai ini mau dikembalikan. Kesalahan yang sama jangan terulang lagi di Kota Ambon tetapi harus dibenahi demi kejayaan Partai Golkar
Polarisasi Isu Agama
Dinamika jelang musda Golkar Kota Ambon dengan mengedepankan polarisasi isu agama dalam perebutan kursi ketua Golkar dimana wajib diduduki oleh kader kristen Golkar sangatlah tendesius dan tidak memiiliki dasar organisatoris maupun dasar filosofi yang kuat. Secara infrastruktur organisasi , para pimpinan kecamatan Partai Golkar mayoritasnya adalah kader Golkar Kristen tetapi bukan berarti ini merupakan sebuah kewajiban yang harus dibernarkan bahwa kepemimpinan Golkar Kota Ambon adalah kader kristen Golkar
Klaim ini sangat bertolak belakang dan bertentangan dengan filosofi tradisi keGolkaran kita yang menitikberatkan pada “kekuasan,politik praktis dan kaderisasi” . Dengan demikian pendekatan agama tertentu di Golkar dalam kepemimpinan Golkar Kota Ambon adalah keliru dan tidak berdasar. Sejarah mencatat kepemimpinan Golkar Kota Ambon seperti Jhon Maleholo, Jance Wenno, Risard Louhanapessy dan Max Siahay bukanlah atas dasar tradisi agama tetapi atas dasar tradisi keGolkaran yang mencakup aspek kekuasaan,politik praktis dan kaderisasi
Jika Golkar Maluku ini diibaratkan sebagai ” Dusun Dati ” maka Jhon Maleholo, Jance Wenno,Risard Louhanpessy dan Max Siahay dalam kepemimpinan mereka maka mereka adalah pemilik dati sah dimana mereka tidak datang dari partai lain tetapi lahir,besar dan tumbuh dalam dati yang sama bernama Golkar dengan memenuhi semua syarat dalam tradisi Golkar
Menjadi pertanyaan bagi para calon di luar dari Elly Toisuta selaku pemilik dati sah saat ini, apakah mereka yang berambisi untuk merebut ketua Golkar Kota Ambon telah memenuhi tiga aspek dalam tradisi keGolkaran kita? apakah mereka telah mengikuti jenjang kaderisasi seperti Orentasi kader atau fungsionaris dll? . Pertanyaan -pertanyaan ini harus menjadi perenungan bersama dalam pengambilan keputusan untuk melahirkan kepemimpinan yang idial pada Golkar Kota Ambon ( Redaksi)





