Place Your Ad
Place Your Ad
Iklan
Berita

Jejak Pengabdian Mengantar Tomy Lenunduan Kepemimpinan Bonum Commune Pemuda Katolik Tanimbar

×

Jejak Pengabdian Mengantar Tomy Lenunduan Kepemimpinan Bonum Commune Pemuda Katolik Tanimbar

Sebarkan artikel ini

Saumlaki, Kapatanews.com – Pagi di Negeri Seira selalu datang tanpa gegap gempita. Ia hadir pelan, menyentuh tanah, menyapa gereja tua, dan mengajarkan satu hal yang jarang dipelajari orang: bahwa yang bertahan bukan yang paling keras bersuara, melainkan yang paling setia berjalan. Dari ruang sunyi itulah nama Tomy Lenunduan tumbuh bukan sebagai ambisi, melainkan sebagai harapan.

Menjelang Musyawarah Komisariat Cabang (Muskomcab) Pemuda Katolik Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dinamika organisasi bergerak semakin nyata. Konsolidasi mulai terbaca, arah mulai ditentukan. Namun di antara hiruk-pikuk dukungan dan peta politik internal, satu nama menguat dengan cara yang berbeda. Tidak lewat baliho, tidak lewat janji. Ia menguat lewat cerita-cerita kecil yang hidup di ingatan orang muda Seira Blawat.

Scroll Keatas
Iklan
Scroll Kebawah

Tomy Lenunduan bukan figur yang lahir dari sorotan. Ia dibentuk oleh pagi-pagi panjang di gereja yang belum ramai, oleh rapat OMK yang lebih sering dihadiri semangat daripada fasilitas, oleh langkah-langkah sunyi mendampingi orang muda yang hampir menyerah. Ia belajar memimpin bukan dari mimbar kekuasaan, tetapi dari kesediaan memikul tanggung jawab yang sering tidak terlihat dan tidak dipuji.

Sebagai Ketua Anak Cabang Pemuda Katolik Wermaktian sekaligus Ketua OMK Seira Blawat, Tomy hidup di jantung akar rumput. Di sanalah ia mendengar denyut kegelisahan generasi muda, memahami luka-luka kecil organisasi, dan belajar bahwa kepemimpinan sejati bukan soal memerintah, melainkan menemani.

Dukungan yang kini mengalir kepadanya tidak lahir dari euforia Muskomcab. Ia lahir dari pengalaman hidup bersama. Dari orang-orang muda yang menyaksikan sendiri bagaimana Tomy hadir ketika tidak ada siapa-siapa. Dari mereka yang tahu bahwa ia tidak pernah menagih pengakuan atas kerja-kerja sunyi yang ia lakukan.

Sinyal politik internal semakin terang ketika Ketua Caretaker Pemuda Katolik Wermaktian, Vicram Seralurin, berbicara dengan keyakinan yang lahir dari perjalanan bersama.

“Beliau mengorbankan jiwa dan raga untuk Gereja dan masyarakat Seira Blawat,” ucap Vicram. “Kalau Pemuda Katolik kuat, dampaknya bukan untuk satu orang, tapi untuk banyak orang.”

Kalimat itu menggema lebih dalam daripada sekadar dukungan. Ia adalah kesaksian. Sebuah pengakuan bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari strategi, tetapi dari ketekunan.

Vicram juga membuka kembali memori lama Pemuda Katolik Wermaktian tentang masa ketika solidaritas lintas komisariat anak cabang menjadi kekuatan yang nyata. Tentang bagaimana kerja bersama pernah mengantar figur senior, Nelis Waturu, ke pucuk kepemimpinan. Bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai pengingat bahwa sejarah selalu berpihak pada mereka yang setia membangun dari bawah.

Namun suara yang paling menggetarkan justru datang dari Pemuda Seira Blawat. Mereka tidak berbicara lantang. Mereka berbicara dengan mata yang basah dan ingatan yang panjang.

“Ini bukan soal siapa yang maju,” kata salah satu dari mereka. “Ini soal kejujuran melihat siapa yang benar-benar bekerja.”

Bagi mereka, Tomy tidak pernah mengejar jabatan. Ia menunggu. Ia mendengar. Ia menempatkan Gereja, adat, dan persaudaraan di atas kepentingan pribadi. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh kepentingan, sikap ini menjadi semacam perlawanan sunyi dan justru di situlah kekuatannya.

Dukungan dari Seira Blawat bukan karena Tomy adalah putra daerah. Ia karena Tomy telah membuktikan dirinya. Karena kepemimpinan, bagi mereka, bukan soal berdiri di depan, tetapi soal kesediaan berdiri paling lama di belakang, memikul beban saat yang lain lelah.

Di mata para aktivis senior Pemuda Katolik, Tomy Lenunduan adalah jembatan. Ia menjembatani semangat muda dengan kebijaksanaan organisasi, idealisme dengan kesabaran, keberanian dengan etika. Modal politiknya bukan uang atau pengaruh, melainkan kepercayaan sesuatu yang hanya bisa dibangun oleh waktu.

Meski dukungan mengalir semakin deras, Tomy tetap berjalan pelan. Ia belum mendeklarasikan diri. Ia memilih menunggu titah pastor paroki, sebagai bentuk ketaatan iman dan hormat pada Gereja.

“Pemuda Katolik lahir dari Gereja,” ujarnya suatu ketika. “Kalau Gereja tidak berkenan, jabatan apa pun tidak ada artinya.”

Kalimat itu tidak terdengar strategis. Tapi justru di sanalah banyak kader menemukan keyakinan: bahwa Tomy memahami kepemimpinan sebagai panggilan, bukan perebutan.

Narasi yang ia bawa sederhana, namun meneduhkan: Bonum Commune kebaikan bersama. Bahwa Pemuda Katolik harus bangkit dan berjalan bersama. Bahwa organisasi ini tidak boleh menjadi arena saling menyingkirkan, melainkan ruang saling menguatkan.

Muskomcab Pemuda Katolik KKT kini berada di persimpangan. Ia bisa berlalu sebagai rutinitas, atau menjadi titik balik. Dan di tengah semua itu, dari Seira Blawat, harapan tumbuh tanpa spanduk, tanpa deklarasi.

Jika hari ini Tomy Lenunduan melangkah, itu bukan langkah seorang diri. Itu langkah bersama langkah yang membawa doa, kepercayaan, dan air mata orang-orang muda yang percaya bahwa kepemimpinan sejati selalu lahir dari kesetiaan yang dijalani dalam diam.

Di jalan sunyi itulah, Tomy Lenunduan belajar memimpin. (Nik Besitimur)

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP