Oleh : Dr. Hobarth Williams Soselisa, S.Sos., M.Si
Tenaga Pengajar FISIP Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) dan pemerhati masalah sosial kemasyarakatan.
Ambon, Kapatanews.com – Di Tengah Derasnya Arus Jalan, Ada Dua Manusia Waras Berseragam dari Jalan Tulukabessy hingga Batu Merah Atas, dimana ditengah bisingnya suara kendaraan dan padanya jalanan, mereka tetap setia sebagai pengawal Lalu Lintas.
Integritas dua polisi ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tetap menghargai dan memberi hormat bagi mereka yang mengabdikan dirinya bagi rakyat dengan sungguh-sungguh
Memang setiap pergumulan hidup di ladaang pengabdian tiap orang berbeda-beda,tetapi kesungguhan dan hati yang bersih yang akan menjawab setiap Doa dan pergumulan setiap orang
Ke dua Pengayom ini : Barry Feliks Papilaya dan Erol Manuhutu telah menuai setiap jerih payah keringat mereka, pergumulan dan Doa mereka kini terjawab.Buah dari kesetian,ketekunan dan pengharapan di ladang yang mereka jalani
Menembus Seleksi, Menembus Rutinitas
Awal tahun 2026, dua anggota polisi lalu lintas dari Ambon berhasil menembus seleksi untuk mengikuti pendidikan sekolah perwira. Bagi publik , berita semacam ini mungkin terdengar biasa—rutinitas yang kerap berulang tiap tahun.
Namun bagi warga Ambon yang setiap hari melintasi jalur padat dari Jl. Cendrawasih, Rijali, hingga Batu Merah Atas, dua sosok itu lebih dari sekadar petugas berseragam. Mereka adalah wajah-wajah yang setia berdiri di tengah panas dan keramaian, memastikan arus kendaraan tetap teratur di tengah kepadatan yang kerap tak mengenal kompromi.
Ruas Jalan Sebagai Sekolah Lapangan
Setiap pagi, sebelum matahari menegakkan bayangan, dua manusia berseragam itu sudah berdiri di persimpangan kota. Di tengah lalu lintas yang padat, mereka menjadi jembatan antara keteraturan dan kekacauan.
Di bawah teriknya matahari dan di antara asap kendaraan, mereka terus bekerja tanpa kamera, tanpa publikasi, tanpa penghargaan seremonial. Setiap tiupan peluit menjadi bahasa komunikasi yang sederhana namun tegas.
Setiap tetes suet yang jatuh di wajah mereka adalah saksi dari tanggung jawab yang dijalani sepenuh hati. Ruas Tulukabessy dan Rijali bukan sekadar jalur ramai—di sanalah dua manusia berseragam ini menimba pengalaman tentang disiplin, ketekunan, dan kesabaran dalam menghadapi masyarakat dengan segala ragam karakter.
Integritas Sebagai Taruhan
Namun, lebih dari sekadar disiplin kerja, ada yang jauh lebih mendasar: integritas. Dalam dunia kerja yang sering kali terjebak dalam kompromi, mempertahankan kejujuran adalah keputusan yang mahal. Kedua Pengayom ini membuktikan bahwa integritas tidak bisa dipertontonkan, melainkan dijalani secara senyap namun konsisten.
Dalam tugas yang tampak sederhana seperti mengatur lalu lintas, mereka mempertaruhkan kehormatan dirinya. Mereka menyadari betul, sekali kepercayaan publik hilang, seragam yang dikenakan tak lagi bermakna.
Karena itu, di tengah godaan dan tekanan sosial yang datang tanpa henti, mereka tetap memilih jalan lurus: bekerja jujur, menjalankan tugas dengan rasa tanggung jawab. Integritas, bagi mereka, adalah taruhan yang harus dijaga sepenuh harga diri.
Ironi dan Harapan di Tengah Kemacetan
Zaman ini memuja simbol lebih dari substansi. Banyak yang mendambakan pengakuan cepat sementara kerja keras sering kali luput dari perhatian.
Keberhasilan dua insan berseragam ini justru menghadirkan ironi: mereka berhasil bukan karena pencitraan, tapi karena ketekunan yang teruji di lapangan.
Jalanan macet Ambon menjadi ruang uji kejujuran dan kesetiaan. Ketika sebagian orang menilai tugas mereka sebagai rutinitas kecil tanpa nilai strategis, keduanya justru menjadikannya panggilan hidup.
Di tengah kekacauan kecil di perempatan, mereka menjaga agar kota tetap berjalan dengan tertib—sebuah bentuk ketenangan yang mungkin tak terlihat, tetapi sangat dirasakan.
Peluh yang Jujur dan Makna yang Dalam
Kini, saat keduanya dipanggil untuk menempuh sekolah perwira, penghormatan moral patut disampaikan—bukan semata karena jabatan baru yang menanti, melainkan karena perjalanan panjang di baliknya. Mereka tumbuh dari lapangan yang keras, namun tidak kehilangan empati.
Mereka berdiri di simpang jalan antara logika dan nurani, dan memilih tetap berpihak pada pelayanan. Ambon mungkin kota kecil di ujung timur Indonesia, tetapi kisah dua polisi ini memberi pelajaran besar tentang arti pengabdian. Bahwa kenaikan pangkat sejati bukan soal seragam yang berubah, melainkan soal karakter yang tetap tegak. Suet yang terkucur dari wajah mereka adalah lambang kerja keras, kejujuran, dan keteguhan moral di tengah dunia yang sering kali menertawakan nilai-nilai semacam itu.
Mungkin Tuhan tidak turun langsung mengatur kemacetan di Ambon. Namun Ia menitipkan dua manusia waras berseragam untuk menunjukkan bahwa ketertiban dan integritas masih mungkin hidup, bahkan di tengah derasnya arus jalan dan derasnya cobaan hidup (Redaksi)



