Oleh: Dr. Hobarth Williams Soselisa, S.Sos., M.Si – Dosen dan Pemerhati Masalah Kesejahteraan Sosial di Maluku.
Ambon,Kapatanews.com – Dalam kehidupan yang kian dikelilingi gemerlap pencapaian dan sorotan citra, manusia sering dihadapkan pada tuntutan untuk “berkilau”. Ukuran keberhasilan bergeser dari makna menjadi tampilan; dari kebermanfaatan menjadi pengakuan.
Di tengah arus seperti ini, hadir satu renungan sederhana namun sarat makna: tidak semua harus menjadi berlian. Ada yang cukup menjadi garam — tidak dipamerkan, tidak diagungkan, tetapi selalu dibutuhkan.
Berlian memikat mata, tetapi garam menyentuh rasa. Ia tidak hadir untuk menjadi pusat perhatian, tetapi tanpanya segala menjadi hambar. Demikian pula dalam kehidupan sosial, ada begitu banyak pribadi yang memilih berjalan dalam diam: tenaga pendidik yang setia membentuk karakter, petani yang menjaga ketersediaan pangan, tenaga kesehatan yang berjaga ketika orang lain beristirahat, hingga orang tua yang mengorbankan kenyamanan diri demi masa depan anak. Mereka tidak menuntut tepuk tangan, tetapi kehadiran merekalah yang menjaga kehidupan tetap layak dijalani.
Ketulusan, dalam bentuk paling sederhana sekalipun, memiliki daya jangkau yang melampaui ingar-bingar pujian. Dunia tidak hanya membutuhkan figur-figur berkilau yang berdiri di panggung depan, tetapi juga membutuhkan mereka yang rela mengambil peran di balik layar, memastikan segala tetap berjalan dengan baik.
Menjadi “garam” berarti bersedia hadir pada setiap kebutuhan, memberi rasa tanpa syarat, dan menerima bahwa mungkin nama tidak tercatat, tetapi jejak kebaikan tertanam kuat di hati banyak orang. Karena itu, tidak mengapa bila hidup tidak menjadikan seseorang sebagai berlian yang dipamerkan. Jauh lebih mulia menjadi garam yang memberi rasa dan makna bagi sesama.
Pada akhirnya, sejarah kemanusiaan tidak hanya ditulis oleh mereka yang bersinar di permukaan, tetapi juga oleh mereka yang setia bekerja dalam hening, menjaga kehidupan tetap bernilai dan penuh harapan. (Redaksi)



