Place Your Ad
Place Your Ad
Iklan
Opini

Tangan Dingin Wali Kota Ambon: Menjahit Rumah-Rumah Harapan Dalam Perspektif Pekerjaan Sosial

×

Tangan Dingin Wali Kota Ambon: Menjahit Rumah-Rumah Harapan Dalam Perspektif Pekerjaan Sosial

Sebarkan artikel ini
Foto : Dr. W. Hobarth Soselisa,S.Sos,M.Si, akademisi UKIM Ambon

Oleh : Hobarth Williams Soselisa.

Ambon,Kapatanews.com – Dulu kalau hujan, kami lebih dulu cemas daripada bersyukur,” ujar seorang warga penerima Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Ambon, mengenang bagaimana air kerap menerobos masuk melalui atap rumahnya yang bocor. Di gang sempit dan permukiman yang padat itu, harapan sering kali hanya bersembunyi di balik dinding lapuk dan lantai yang retak.

Scroll Keatas
Iklan
Scroll Kebawah

Kini, pelan namun pasti, di bawah kepemimpinan Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, kota ini mulai belajar mengulurkan tangan dinginnya: merapikan dinding, menguatkan fondasi, dan mengembalikan martabat 35 warganya melalui rumah yang lebih layak huni. Tagline pembangunan Kota Ambon, “Beta Par Ambon, Ambon Par Samua”, menemukan makna konkretnya di sini.

Kota ini dibangun bukan hanya untuk mereka yang suaranya nyaring terdengar di ruang-ruang formal, tetapi juga untuk keluarga-keluarga yang rumahnya nyaris rubuh dan suaranya sering tenggelam dalam riuhnya data dan laporan. Slogan itu, yang semula mungkin hadir sebagai rangkaian kata di baliho dan podium, menjelma menjadi lantai yang lebih kokoh dan atap yang lebih tegar di rumah-rumah warga berpenghasilan rendah.

Melalui BSPS, tangan dingin Wali Kota seperti menandatangani janji bahwa pembangunan tidak boleh meninggalkan siapa pun—bahwa jika “Beta Par Ambon”, maka Ambon sungguh-sungguh “Par Samua”. BSPS sejatinya bukan hadiah karitatif yang jatuh dari langit, melainkan sapaan negara yang mengajak warga berpenghasilan rendah untuk bangkit melalui swadaya.

Pemerintah menyediakan stimulan, sementara warga menyumbang tenaga, waktu, dan solidaritas sosial. Disinilah, sentuhan tangan dingin Wali Kota menjadi penting: ia tidak sekadar menandatangani dokumen, tetapi mengawal agar program ini benar-benar menyentuh rumah-rumah yang selama ini terpinggirkan dari peta pembangunan. Kota Ambon, melalui pemimpinnya, tidak lagi berdiri jauh di balik meja birokrasi; ia turun ke halaman rumah, berdiri di antara tumpukan batu bata dan kayu, menyapa warganya yang rapuh.

Dari perspektif pekerjaan sosial, BSPS adalah bentuk intervensi struktural yang menyentuh kebutuhan dasar akan rasa aman dan hunian layak. Rumah yang kokoh bukan hanya soal dinding dan atap, tetapi juga basis bagi fungsi-fungsi sosial keluarga: merawat anak, membangun relasi, dan menumbuhkan harapan.

Dalam konteks ini, Wali Kota Ambon tampil seperti pekerja sosial yang memegang mandat politis: ia mendengar keluh, memetakan kerentanan, dan mengkonversinya menjadi kebijakan yang berpihak. Keberpihakan inilah yang membuat “tangan dingin” bukan sekadar metafora, tetapi tampak nyata dalam wujud rumah-rumah yang disulap dari nyaris roboh menjadi lebih bermartabat. Artinya, kota menjadi terasa kuat di ruang-ruang kecil yang dulu remang. Rumah-rumah yang letih menahan hujan kini perlahan berdiri lebih tegak. Dinding yang retak seolah dijahit kembali oleh BSPS sebagai benang stimulan, sementara jarumnya adalah swadaya dan gotong royong warga sendiri.

Di ruang tamu yang dulu dipenuhi was-was, anak-anak kini belajar dengan lebih tenang, orang tua beribadah tanpa takut genteng jatuh. Ambon, lewat kebijakan perumahan yang digerakkan oleh Wali Kotanya, tidak lagi sekadar nama wilayah administratif, melainkan sosok yang hadir, memeluk warganya yang paling rentan. Di sinilah “Beta Par Ambon, Ambon Par Samua” tidak berhenti sebagai slogan, tetapi turun menjadi pelukan nyata bagi warga miskin kota.

Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, langkah ini sejalan dengan gagasan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Penyediaan hunian layak melalui skema stimulan memperkecil kawasan tidak layak huni, mengurangi risiko sosial, sekaligus memperkuat ketahanan keluarga. Di Ambon, BSPS menjadi jembatan antara agenda global dan realitas lokal.

Tagline pembangunan kota pun menemukan dimensinya yang lebih dalam: bahwa “Beta Par Ambon, Ambon Par Samua” berarti komitmen untuk memastikan setiap warga—tanpa kecuali—memiliki ruang hidup yang pantas bagi kemanusiaannya. Nilai-nilai pekerjaan sosial—keadilan sosial, penghormatan terhadap martabat manusia, dan pemberdayaan—menemukan bentuk praksisnya dalam cara kota ini menata warganya. BSPS menuntut kehadiran fasilitator, pendampingan, dan proses pemberdayaan agar penerima bantuan tidak hanya menjadi objek kebijakan, melainkan subjek yang berdaya dan terlibat aktif dalam memperbaiki rumah dan lingkungannya.

Di sini, tangan dingin Wali Kota bekerja bersama tangan-tangan warga: satu tangan memegang kebijakan dan anggaran, tangan lainnya menggenggam keswadayaan, gotong royong, dan solidaritas komunitas. Pada akhirnya, Ambon sedang menulis puisi sosialnya melalui batu bata dan semen. Tangan dingin Wali Kota Bodewin Wattimena menjadikan pemerintah kota bukan sekadar pengelola administrasi, tetapi sahabat yang membantu menegakkan kembali rumah-rumah yang hampir menyerah.

Tagline “Beta Par Ambon, Ambon Par Samua” tidak lagi sekadar kalimat dalam pidato, tetapi napas dari setiap rumah yang kini lebih layak dihuni. Jika pembangunan berkelanjutan adalah upaya menjaga bumi dan manusia tetap hidup bermartabat, maka rumah-rumah BSPS di Ambon adalah kalimat penting dalam narasi itu: bahwa tidak ada warga yang terlalu kecil untuk diperjuangkan, dan tidak ada rumah yang terlalu reyot untuk diselamatkan (Redaksi)

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP