Oleh : Prof.Dr. Ir. Fransina.S. Latumahina,S. Hut.M.P.IPU. ASEAN Eng, Guru Besar Bidang Perlindungan dan Kesehatan Hutan Unpati Ambon – Sekretaris DPD GAMKI Maluku – Ketua Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Region Maluku ( APIKI)
Ambon,Kapatanews.com – Transformasi Pengelolaan Hutan Pulau-Pulau Kecil: Dari Monitoring menuju Diagnosa Kesehatan Ekosistem Hutan secara komprehensif Untuk Pencapaian Hutan Yang Lestari. Tulisan saya ini menjadi sangat relevan bagi kita yang hidup di wilayah kepulauan, khususnya di Maluku, dimana hutan pada pulau-pulau kecil bukan hanya sebagai sumber daya alam, namun juga penyangga kehidupan. dimana kawasan hutan ini melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi benteng alami dari badai, menyediakan air bersih, menopang sektor perikanan, dan menjadi fondasi ekonomi masyarakat pesisir.
Namun, kita pun sadar, kesehatan hutan di pulau-pulau kecil semakin terancam oleh tekanan ekologis dan tekanan antropogenik, karena itu kita perlu melakukan sebuah lompatan paradigma dalam pengelolaan hutan menuju hutan yang Lestari.
Hutan yang sehat memiliki ekosistem yang dinamis, tangguh, dan berfungsi secara baik, namun hal Ini bukan hanya tentang seberapa banyak pohon yang ada, namun lebih kepada seberapa baik hutan tersebut mampu menjalankan perannya dalam menjaga keseimbangan alam dan mendukung ekosistem kehidupan.
Konsep Hutan yang sehat perlu diarahkan pada integrasi science dengan traditional ecological knowledge (TEK), sistem “one island one ecosystem health report, penggunaan indeks kesehatan berbasis pohon (IHK-Pohon), serta penggunaan teknologi low-cost untuk monitoring secara real time.
1. Konsep Kesehatan Ekosistem Hutan di Maluku
Konsep kesehatan ekosistem hutan yang lestari pada pulau-pulau kecil di Maluku merupakan konsep yang unik, karena dipengaruhi oleh kondisi spasial yang terbatas, tekanan ekologi yang tinggi, dan keterkaitan erat antara hutan dan kehidupan masyarakat pesisir:
A.Selama beberapa dekade, konsep hutan lestari (sustainable forest) sering dipahami melalui aspek ekonomi, ekologi, dan sosial secara umum, namun dalam dasawarsa terakhir, perkembangan ilmu kehutanan modern menunjukkan bahwa kunci utama keberlanjutan justru terletak pada kondisi kesehatan hutan itu sendiri.
Hutan dikatakan lestari bukan hanya karena luasnya stabil, jumlah kayunya cukup, atau memiliki nilai ekonomi jangka panjang, tetapi karena seluruh komponen ekosistemnya berada dalam kondisi sehat, berfungsi dengan baik, dan mampu mempertahankan resiliensi ekologisnya.
Dengan demikian, kesehatan hutan adalah fondasi dari hutan lestari. Kesehatan hutan merujuk pada kondisi dinamis ekosistem hutan, di mana struktur, fungsi, produktivitas, dan kapasitas adaptif hutan berjalan secara optimal dan seimbang.
B.Indikator kesehatan hutan meliputi produktivitas, pertumbuhan pohon, keanekaragaman hayati,resistensi terhadap hama penyakit, kemampuan menyerap karbon, kualitas tanah, air, dan integritas ekosistem secara keseluruhan. Hutan yang sehat adalah hutan yang tidak mengalami stres ekologis berkepanjangan, dan mampu pulih (resilient) dari gangguan.
C. Hutan hanya dapat lestari apabila kondisi kesehatannya dipelihara, dipantau, dan didiagnosa secara terus menerus. Hutan yang sehat menunjukkan proses ekologis berjalan normal, tutupan vegetasi stabil, pohon-pohon menunjukkan vitalitas tinggi, keanekaragaman hayati terjaga, kualitas tanah dan air sangat baik.
Kesehatan hutan adalah kondisi dasar yang harus dipenuhi agar keberlanjutan dapat dicapai, karena hutan yang sehat mampu memulihkan dirinya setelah gangguan seperti penebangan, kebakaran, badai, intrusi air laut (untuk hutan pesisir), serangan hama, maupun perubahan iklim ekstrem
2. Hubungan Kesehatan Hutan dan Hutan Yang Lestari
Pulau-pulau kecil di Maluku merupakan ekosistem yang unik, rentan, namun memiliki peran ekologis yang sangat penting bagi keberlanjutan hidup masyarakat lokal.
Keberadaan hutan baik hutan daratan, hutan rawa, hingga hutan mangrove menjadi penopang utama keseimbangan ekologi, sumber penghidupan, dan sistem perlindungan alami.
Dalam konteks tersebut, konsep kesehatan hutan dan kelestarian hutan tidak dapat dipisahkan, keduanya merupakan dua sisi mata uang yang saling menguatkan, terutama pada wilayah pulau kecil yang ruang ekologinya terbatas.
Hasil penelitian penulis pada beberapa kawasan hutan pada pulau kecil di Maluku, menemukan bahawa indikator kesehatan hutan yakni Keanekaragaman hayati yang stabil, struktur tegakan yang seimbang antara pohon muda, sedang, dan dewasa, tidak adanya gangguan signifikan seperti penyakit, hama, kebakaran, atau eksploitasi berlebihan, tntegritas tanah dan air yang terjaga, termasuk kemampuan hutan untuk menyerap air hujan dan mencegah erosi dan kualitas tutupan lahan yang optimal, terutama pada hutan pesisir dan mangrove yang sangat vital.
Jika salah satu indikator diatas terganggu, maka keseluruhan fungsi ekologis pulau kecil dapat mengalami penurunan diantaranya hilangnya tutupan mangrove akan menyebabkan abrasi, masuknya air laut ke pemukiman, hingga berkurangnya populasi ikan.
Konsep hutan lestari menekankan bahwa hutan harus dikelola untuk memenuhi kebutuhan generasi kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang.
Pada pulau kecil di Maluku, prinsip ini sangat relevan karena keterbatasan ruang dan daya dukung alam dimana hutan yang lestari mencakup pemanfaatan sumber daya secara bijak, seperti pengambilan kayu, sagu, atau hasil hutan non-kayu, perlindungan kawasan sensitif, seperti hutan mangrove, hutan lindung, dan daerah tangkapan air, adanya keterlibatan masyarakat adat, yang memiliki kearifan lokal seperti sasi dalam menjaga keseimbangan alam dan monitoring serta evaluasi berkelanjutan melalui pemetaan, inventarisasi, dan pengawasan partisipatif.
Dengan pengelolaan lestari, hutan tetap mampu menyangga kehidupan masyarakat, baik dari aspek ekonomi, sosial budaya, maupun ekologi, Kesehatan hutan dan konsep hutan lestari saling menguatkan dimana hubungannya dapat dilihat dalam beberapa aspek yakni :
a. Kesehatan Hutan adalah Prasyarat Kelestarian ekosistem
Hutan yang sehat memiliki struktur ekosistem yang stabil, produktif, dan tidak mengalami degradasi. Tanpa hutan yang sehat, mustahil mencapai pengelolaan lestari karena fondasi ekologisnya rapuh.
b. Pengelolaan Hutan Yang Lestari
Praktik lestari seperti pembatasan eksploitasi, rehabilitasi mangrove, dan konservasi kawasan penting membantu memulihkan fungsi ekologis hutan. Di pulau kecil, praktik seperti sasi menjadi bentuk nyata pengelolaan lokal yang menjaga kesehatan ekosistem.
c. Ketahanan Pulau Kecil
Pulau kecil menghadapi ancaman perubahan iklim, abrasi, dan kenaikan muka air laut, dimana hutan yang sehat dan dikelola secara lestari dapat berfungsi sebagai penahan gelombang, penyerap karbon,penyangga air tanah, dan penopang mata pencaharian masyarakat.
Tanpa kondisi hutan yang sehat maka pulau kecil menjadi semakin rentan terhadap bencana ekologis. Beberapa faktor yang menjadi tantangan kesehatan dan kelestarian hutan di Maluku, antara lain pembukaan lahan, terutama untuk perkebunan atau pemukiman, eksploitasi mangrove untuk kayu bakar atau tambak, perubahan iklim yang intens, keterbatasan pengawasan, karena banyaknya pulau kecil dan minimnya sumber daya aparat, serta kurangnya edukasi masyarakat terkait dampak jangka panjang kerusakan hutan .
Tantangan diatas menjadikan kesehatan hutan dan kelestarian hutan semakin penting untuk diarusutamakan. Untuk itu menurut penulis, beberapa upaya untuk menjaga keseimbangan ekologis hutan di Maluku yakni :
a. Penguatan kearifan lokal, termasuk revitalisasi sasi dan praktik adat lainnya.
b. Monitoring kesehatan hutan melalui pemetaan, penggunaan GIS, Artfisial Intelegensi dan inventarisasi hutan berbasis komunitas.
c. Pengurangan tekanan ekonomi, dengan membuat usaha ekonomi alternatif bagi masyarakat disekitar Kawasan hutan.
d. Penegakan hukum dan zonasi kawasan hutan, terutama pada pulau kecil yang rentan.
e. Kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, swasta, tokoh agama, dan komunitas lokal untuk pengelolaan hutan secara terpadu (4)(6)
3. Konsep Kesehatan Ekosistem Hutan di Pulau Kecil
Kesehatan ekosistem hutan di pulau kecil menggambarkan sebuah kondisi dimana seluruh komponen ekosistem baik pohon, tanah, air, fauna, mikroorganisme, serta interaksi ekologis dapat berfungsi secara optimal dalam ruang yang terbatas, rentan, dan dinamis. (10) Pada pulau-pulau kecil di Maluku, kesehatan ekosistem merujuk pada kemampuan hutan menahan tekanan lingkungan yang ekstrem, mempertahankan fungsi jasa ekosistem untuk perlindungan pantai, air, tanah, karbon, keanekaragaman hayati endemik, dan menopang kesejahteraan masyarakat pesisir yang sangat tergantung pada kawasan hutan.
Pulau-pulau kecil di Maluku memiliki ciri yang khas dan sangat mempengaruhi pendekatan terhadap kesehatan hutan dengan karakteristiknya yang unik antara lain:
a. Luas wilayah yang terbatas dimana hutan di pulau kecil tidak memiliki ruang pemulihan alami yang luas
b. Muncul beragam gangguan diantaranya penebangan, pembukaan hutan yang menghasilkan dampak besar
c. Pulau-pulau kecil di Maluku rentan terhadap Perubahan Iklim dimana Maluku adalah episentrum perubahan iklim akibatnya terjadi kenaikan muka laut abrasi pantai
d. Terjadi peningkatan intensitas badai, dan suhu permukaan laut
e. Ketergantungan yang tinggi pada ekosistem pesisir dimana hutan mangrove, hutan pantai, dan hutan rawa memiliki fungsi vital dalam menjaga perikanan, air tanah, dan perlindungan desa pesisir
f. Keterbatasan Sumber Air Tawar dimana Pulau kecil memiliki lensa air tanah yang tipis
g. Kerusakan hutan mempercepat intrusi air laut dan kekeringan
h. Budaya dan sistem pengetahuan lokal yang kuat dimana masyarakat adat Maluku memiliki sistem larangan (sasi), zonasi adat
i. Pengetahuan spasial yang sangat penting dalam menjaga kesehatan ekosistem. Dalam penerapan konsep kesehatan hutan maka beberapa dimensi Kesehatan Ekosistem Hutan di Pulau Kecil yang harus dipahami secara multidimensi yakni :
a. Dimensi Struktural yang mencakup kerapatan dan jumlah pohon, komposisi jenis asli,ukuran, tinggi, diameter pohon, regenerasi alami, tingkat defoliasi, nekrosis, dan keberadaan pohon sakit, mati atau rebah.
b.Dimensi Fungsional yang mencakup fungsi ekologis utama yang meliputi penyangga pantai terhadap abrasi dan gelombang, penyimpan karbon (blue carbon & green carbon), pengatur siklus air, stabilisasi suhu mikro, penyedia habitat biota darat dan pesisir.
c. Dimensi Resiliensi yang merujuk pada kemampuan Kawasan hutan memulihkan diri setelah gangguan
Pada pulau kecil, resiliensi dipengaruhi oleh ketebalan tanah, kecepatan regenerasi,tekanan pasang-surut, dan tekanan antropogenik. Hutan dengan resiliensi tinggi mampu mempertahankan keseimbangan ekologi meskipun sering terjadi gangguan.
Bertolak dari tiga dimensi Kesehatan hutan diatas maka prinsip pengelolaan kesehatan Hutan pada Pulau-Pulau Kecil Maluku antara lain
1. Berbasis Diagnosa: menggunakan Tingkat Kesehatan Tumbuhan ( TKT) dan ekosistem.
2. Berbasis Lanskap Pesisir : hutan-pantai-mangrove harus satu kesatuan.
3. Berbasis Jasa Ekosistem: perlindungan air, pantai, keanekaragaman, karbon.
4. Berbasis Kearifan Lokal: sasi, larangan adat, zonasi pemanfaatan.
5. Berbasis Teknologi: drone, GIS, citra satelit, sensor pantai.
6. Berbasis Partisipasi Masyarakat: perempuan, adat, pemuda sebagai co-manager.
7. Berbasis Konservasi Ekonomi Hijau: Kelola,pulihkan, dan menghasilkan manfaat ekonomi.
4. Transformasi Kesehatan Hutan di Maluku
Dalam bingkai kesehatan hutan, maka hutan yang sehat dan lestari dipahami sebagai sistem kehidupan yang dinamis (selalu berubah), kompleks (berinteraksi banyak komponen), adaptif (merespons perubahan), dan berkelanjutan (dapat bertahan lintas generasi)
Dengan cara pandang ini, kebijakan, pengelolaan,serta penelitian tidak hanya berfokus pada produktivitas hutan semata namun sudah waktunya mengarahkan fokus dan penentu arah kebijakan pembangunan di Maluku baik yang digaungkan oleh dunia perguruan tinggi maupun pemerintah kabupaten Kota Se- Maluku yakni pada paradigma kesehatan hutan dan vitalitas ekosistem hutan jangka Panjang.
Konsep “Hutan Lestari dalam Bingkai Kesehatan Hutan” menegaskan bahwa hutan yang sehat adalah syarat mutlak bagi keberlanjutan dimana keberlanjutan tidak akan mungkin dicapai tanpa memahami, memantau, dan mendiagnosa kesehatan hutan. Hutan adalah sistem hidup yang memerlukan pendekatan kesehatan ekosistem, bukan sekadar evaluasi tutupan lahan.
Diagnosa kesehatan harus menjadi standar dalam pengelolaan hutan modern. Dengan kerangka ini, konservasi, pemanfaatan, dan pemulihan hutan akan menjadi lebih terarah, ilmiah, dan efektif.
Dalam pandangan saya, selama ini pengelolaan hutan lebih banyak bertumpu pada monitoring secara konvensional dengan menghitung luas tutupan lahan, mencatat jumlah pohon, atau memetakan area hutan yang rusak, tentu ini penting.
Namun kita membutuhkan pendekatan yang lebih dalam, lebih presisi, dan lebih bersifat early warning system sehingga disinilah upaya diagnosa kesehatan ekosistem hutan menjadi kunci.
Diagnosa kesehatan ekosistem tidak hanya menilai kondisi fisik, tetapi juga menilai fungsi ekologis hutan, memahami tingkat stres ekosistem, mengukur resiliensi terhadap perubahan iklim,mendeteksi kerusakan sejak dini, memetakan ancaman nyata maupun potensial, serta merumuskan tindakan pemulihan yang tepat sasaran.
Dengan pendekatan diagnosa, kita tidak hanya mengetahui hutan itu rusak, namun juga mengetahui mengapa hutan menjadi rusak, seberapa besar tingkat kerusakannya, dan bagaimana tindakan yang paling efektif untuk memulihkannya.
Bagi pulau-pulau kecil, kesalahan dalam pengelolaan hutan memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar dibandingkan daratan besar. Pulau kecil memiliki daya dukung terbatas, rentan terhadap perubahan iklim, memiliki keterbatasan air tanah, terpapar langsung oleh abrasi dan kenaikan muka laut,dan sangat tergantung pada keseimbangan ekosistem pesisir.
Dengan demikian maka, ketidak-sehatan hutan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga ekonomi, budaya, dan keberlanjutan hidup masyarakat. Oleh karena itu, transformasi dari monitoring menuju diagnosa yang komprehensif merupakan kebutuhan mendesak dalam menilai Kesehatan ekosistem hutan pada pulau – pulau kecil di Maluku.
Kesehatan ekosistem adalah prasyarat bagi keberlanjutan jangka Panjang, tanpa kesehatan ekologis, fungsi-fungsi hutan seperti penyimpanan karbon, perlindungan keanekaragaman hayati, penyangga pesisir, dan penyediaan jasa ekosistem tidak dapat dipertahankan.
Oleh karena nya saya mengusulkan beberapa pendekatan diagnostik yang dapat memberikan beberapa manfaat strategis antara lain:
a.Informasi Ilmiah yang lebih presisi untuk kebijakan dimana data kesehatan ekosistem mendukung pengambilan keputusan berbasis sains
b.Efektivitas Pengelolaan Berbasis Risiko dimana kerusakan dapat diatasi sebelum berkembang menjadi degradasi yang sulit dipulihkan
c. Penguatan adaptasi terhadap perubahan Iklim Pulau-pulau kecil, kawasan pesisir, dan hutan mangrove yang sangat rentan terhadap kenaikan muka laut, badai, perubahan pola curah hujan sehingga dengan diagnosa kesehatan ekosistem memungkinkan penguatan kapasitas adaptif sejak dini
d.Mendukung Kolaborasi Multidisiplin untuk menghubungkan ekologi, kehutanan, klimatologi, data spasial, teknologi drone, serta ilmu sosial dalam sebuah sistem terpadu
Jika kita ingin mencapai hutan yang lestari pada pulau-pulau kecil di Maluku, maka beberapa hal yang saya usulkan untuk segera mengalami transformasi diantaranya :
1. Mengubah cara pandang dari sekadar memonitor tutupan lahan menjadi pemahaman kesehatan ekosistem hutan secara komprehensif
2. Membangun kolaborasi antara akademisi, pemerintah, gereja, pemuda, LSM, OKP,perempuan, dan masyarakat lokal/adat setempat
3. Mengembangkan kebijakan berbasis sains dan kearifan lokal.
4. Mengintegrasikan konsep konservasi hutan dengan ekonomi hijau.
5. Menjadikan diagnosa kesehatan ekosistem sebagai standar pengelolaan hutan.(11)
Dengan ke 5 langkah ini, kita bukan hanya menjaga hutan, tetapi menjaga masa depan generasi pada pulau-pulau kecil di Maluku.
5. Komitmen Moral Terhadap Upaya Pelestarian Hutan di Maluku
Arah pengembangan konsep kesehatan ekosistem hutan di pulau kecil Maluku bukan hanya agenda teknis, tetapi agenda moral. Kita bertanggung jawab menjaga tanah, laut, dan hutan sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Hutan yang sehat akan melahirkan pulau kecil yang tangguh, Lestari dan akan melahirkan Maluku yang kuat secara ekologis, ekonomi, dan budaya. Keberlanjutan hutan bukan sekadar konsep ekologis, tetapi juga komitmen moral, sosial, dan akademik.
Dengan berpindah dari monitoring konvensional menuju diagnosa kesehatan ekosistem, kita menegaskan bahwa pengelolaan hutan pada pulau – pulau kecil haruslah secara ilmiah,akurat,proaktif, berbasis resiliensi, dan berorientasi jangka panjang
Marilah kita menjadikan pendekatan diagnostik ini sebagai standar baru dalam kajian kehutanan Indonesia secara luas, terutama di Maluku sehingga kawasan hutan di Maluku tetap sehat, produktif, dan lestari untuk generasi sekarang maupun yang akan datang
Penulis mengingatkan semua orang Maluku untuk bersama menjaga kesehatan ekosistem hutan pada pulau-pulau kecil karena hal ini bukan sekadar tugas pemerintah atau lembaga konservasi, melainkan tanggung jawab kolektif semua orang Maluku dengan mengedepankan sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta, kita dapat memastikan bahwa kekayaan alam yang tak ternilai ini dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang, sembari tetap menjaga keseimbangan ekologis.
Mari kita bekerja bersama untuk memastikan hutan pada pulau-pulau kecil di Maluku tetap hidup, tetap sehat, dan tetap menjadi sumber kehidupan bagi manusia Maluku. Upaya Bersama ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Maluku yang berkelanjutan.
Transformasi pengelolaan hutan dari monitoring menuju diagnosa kesehatan ekosistem bukan lagi pilihan, tetapi sebuah nilai yang harus dilaksanakan di Maluku, untuk pulau-pulau kecil, dan untuk keberlanjutan kehidupan semua mahkluk hidup. Mari kita bergerak bersama, menjaga hutan, merawat pulau, dan mewariskan bumi yang lebih sehat bagi generasi mendatang (Redaksi)
Daftar Pustaka
1. Senoaji, G. dan Hidayat, M.F. 2016. Peranan Ekosistem Mangrove Di Pesisir Kota Bengkulu Dalam Mitigasi Pemanasan Global Melalui Penyimpanan Karbon.,” J. Manusia dan Lingkungan, , vol. 23, no. 3, pp. 327-333..
2.R. S. R. d. I. D. Sari, 2019. Biodiversitas Fauna Sebagai Salah Satu Indikator Kesehatan Hutan Mangrove.,” Parenial, vol. 15(2): , no. 2, pp. 62-69.
[06:48, 19/01/2026]
3. E. P. ODUM,1993. “Fundamentals of ecology,” Dasar-dasar ekologi / Eugene P. Odum ; penerjemah, Tjahjono Samingan ; penyunting, B. Srigandono, Vols. 979-420-284-3, no. 631-676, pp. xv, 697 hlm. : ilus. ; 21 cm.,
4. Walter Seidling,2019. Forest monitoring: Substantiating cause-effect relationships. Science of The Total Environment Volume 687, 15 October 2019, Pages 610-617
5. N. Brown et al. 2018.Predisposition of forests to biotic disturbances: predicting the distribution of acute oak decline using environmental factors, For. Ecol. Management
6. Forest health assessment using advanced geospatial technology in Buxa reserve forest, sub-Himalayan West Bengal, India. 2021, Forest Resources Resilience and Conflicts. Pages 49-61. Remote Sens. Environ.
7. Safe’i, R. & Tsani, M.K. (2016). Kesehatan Hutan. Yogyakarta: Plantaxia.
8. Safe’i, R., Erly, H., Wulandari, C. & Kaskoyo, H. (2018). Analisis keanekaragaman jenis pohon sebagai salah satu indikator kesehatan hutan konservasi. Jurnal Perennial, 14(2), 32-36.
9. F Latumahina, M Musyafa, S Sumardi, NS Putra. Respon semut terhadap kerusakan antropogenik dalam hutan lindung sirimau ambon (Ants Response to Damage Anthropogenic in Sirimau Forest Ambon). Jurnal Manusia dan Lingkungan 22 (2), 169-178
10. Fransina Latumahina, dkk.2024. Pengelolaan Hutan Di Pulau-Pulau Kecil. CV WIDINA MEDIA UTAMA
11. Fransina Latumahina,dkk. 2025. Perlindungan Hutan Mangrove Dalam Menghadapi Dampak Perubahan Iklim. Penerbit Widina
12. Fransina Latumahina, etc. 2024. International Journal on Advanced Science, Engineering and Information TechnologyISSN: 20885334 Volume: 4 Issue: Pages: 2031 – 2038
13. Susilawati, etc. 2025. Vegetation Health in Coffee Agroforestry: An Ecological Approach in Tiwingan Baru Village International Journal on Advanced Science, Engineering and Information TechnologyISSN: 20885334Volume: 15Issue: 5Pages: 1528 – 1536.
14. Abimanyu, B., Safe’i, R., and Wahyu, H., 2018. Analisis kerusakan pohon di hutan kota stadion Kota Metro Provinsi Lampung. Jurnal Hutan Pulau-Pulau Kecil, 3(1), pp. 112



