By: Hobarth Williams Soselisa.
Ambon, Kapatanews.com – Pohon beringin itu sudah tua, dan ia belajar dari usianya. Ia tahu bahwa singgasana yang akan diperebutkan dalam Musyawarah Daerah X DPD II Partai Golkar Kota Ambon pada 10 Oktober 2026 bukan sekadar kursi kekuasaan, melainkan simpul dari sebuah teori besar yang namanya demokrasi internal partai. Dalam kajian ilmu politik, musyawarah daerah adalah institusi rekrutmen politik: arena tempat fungsionaris partai memilih pemimpin melalui prosedur kelembagaan yang sah, bukan melalui sentiment, uang, atau tekanan elite. Beringin tua itu memahaminya dengan bahasa yang lebih sederhana—ia menyebutnya cara keluarga besar memilih siapa yang paling layak memikul tandu.
Namun beringin itu juga ingat bahwa keluarga besarnya pernah retak. Musda yang tertunda dan diwarnai gesekan antar kader hingga memaksa DPD I Golkar Maluku turun tangan adalah pelajaran mahal tentang rapuhnya modal sosial ketika kepercayaan antar anggota terkikis. Para akademikus menyebut fenomena itu sebagai krisis legitimasi kelembagaan; beringin menyebutnya luka di akar. Sejarah partai-partai di Nusantara mencatat betapa mudah pohon raksasa roboh bukan karena badai dari luar, melainkan karena rayap yang diam-diam menggerogoti persaudaraan di dalam. Atas dasar itu, Maka Musda X, secara akademik, adalah ujian pemulihan modal sosial—perbaikan ikatan kepercayaan dan jaringan kerja sama yang menjadi napas organisasi politik mana pun.
Di noktah inilah beringin tua itu menoleh kepada seorang perempuan: Ely Toisutta. Ia mengenalnya bukan karena gemerlap jabatannya, melainkan karena panjangnya jejak di tanah. Kader sejak 1998; gadis desa yang menempuh pendidikan di sekolah-sekolah negeri Ambon dan merampungkan sarjana sosialnya di usia empat puluh, sambil membesarkan tiga anak. Bagi beringin, riwayat ini penting secara teoretis: dalam studi rekrutmen politik, jalur panjang dari bawah adalah bentuk pengasahan kader yang paling sahih. Angka-angka pemilu yang menanjak—915, lalu 1.548, lalu 2.562 suara—adalah bukti empiris legitimasi elektoral yang dibangun bukan sekaligus, melainkan ditumbuhkan, sebagaimana akar yang menjalar diam-diam.
Beringin itu juga teringat pada sosok yang pernah diceritakan ranting-rantingnya: al-Malika al-Hurra Arwa al-Sulayhi, ratu Yaman yang memerintah lebih dari tujuh dekade hingga 1138 dengan keadilan yang menetes sampai ke rakyat terkecil. Dalam studi kewanitaan, kepemimpinan perempuan seperti Arwa dilihat sebagai representasi substantif—kehadiran perempuan di struktur kekuasaan yang membawa kepentingan kelompok yang selama ini tersisih. Sejarah modern Kota Ambon melanjutkan tradisi itu: Ely adalah perempuan pertama Ketua DPRD Kota Ambon, kini Wakil Wali Kota. Beringin tua itu tersenyum; ia tahu bahwa perempuan pertama yang memimpin dewan itu memilih membangun, bukan membalas.
Dalam bahasa kekeluargaan Golkar, Musda sesungguhnya adalah moncong—musyawarah mufakat warisan tradisi, diselenggarakan bukan untuk mengalahkan saudara, melainkan untuk mempertemukan kembali saudara. Dukungan yang mengalir kepada Ely dari SOKSI, pleno pimpinan kecamatan, hingga organisasi sayap lainnya, bisa ditelaah secara akademik sebagai konsolidasi elite, tetapi beringin membacanya lebih hangat: sanak saudara berkumpul di pelataran, saling menegur, lalu bersama-sama memilih. Bahkan ketika ada dua nama bersaing hingga menit akhir pendaftaran, beringin itu mengingatkan para rantingnya: kompetisi dalam keluarga adalah mekanisme seleksi, bukan perang—yang kalah tetap keluarga, yang menang tetap saudara. Kejelasannya, 10 Oktober nanti, yang dipertaruhkan bukanlah kursi ketua, melainkan teori yang menopangnya: bahwa partai hanya sekuat kepercayaan yang mengepalinya, dan kepercayaan hanya sekuat kesediaan pemimpinnya untuk menunduk ke tanah.
Pernyataan Ely setelah pendaftaran kemarin —”saya tidak datang untuk mengubah warna Golkar, tetapi untuk memastikan setiap ranting beringin kembali menyentuh tanah rakyat kecil”. Kalimat yang terucap dari pernyataan itu, adalah rumusan akademik yang dibalut kerendahan hati: Dan hanya orang yang rendah hati yang bisa menyatukan, tegas di prinsip karena imannya, lembut di hati karena pengalamannya, membumi karena asalnya.
Pada akhirnya, beringin tua itu tidak meminta singgasananya diisi oleh orang hebat. Ia hanya meminta diisi oleh orang ang bayangannya selalu jatuh ke tanah asal. Sebab dalam ilmu politik maupun dalam pengalaman tua beringin, hukumnya sama: singgasana hanyalah kayudan ukiran; yang membuat partai hidup adalah tanah tempat rakyat kecil berpijak. Dan selama bayang singgasana itu selalu jatuh ditanah asal, Sang Srikandi Ambon Manis e akan menorehkan sejarah baru, menyuburkan jiwa, menguningkan pusat peradaban Maluku, negeri Nusa Apono pada waktunya sehingga Golkar Kota Ambon akan terus berakar di malam, berteduh di siang, dan berbunga pada setiap musim demokrasinya (Redaksi)



