Place Your Ad
Place Your Ad
Iklan

Iklan
Berita

Tajuk Redaksi: Paskah di Bibir, Kepalsuan di Perilaku

×

Tajuk Redaksi: Paskah di Bibir, Kepalsuan di Perilaku

Sebarkan artikel ini
Oplus_16908288
Iklan

Saumlaki, Kapatanews.com – Paskah kembali dirayakan. Gereja-gereja penuh, pujian menggema, dan nama Yesus Kristus dikumandangkan sebagai simbol kemenangan atas dosa dan maut. Di ruang ibadah, suasana tampak suci. Wajah-wajah penuh ketenangan, kata-kata penuh harapan, dan doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk.

Namun, pertanyaan paling mendasar justru tidak lahir di dalam gereja, melainkan di luar: apakah Paskah benar-benar dihidupi, atau hanya dirayakan?

Scroll Keatas
Iklan
Scroll Kebawah

Realitas sosial menunjukkan jawaban yang tidak nyaman. Di tengah semarak perayaan, kehidupan sehari-hari justru memperlihatkan ironi yang sulit dibantah. Banyak yang rajin hadir di gereja, tetapi gagal menghadirkan nilai-nilai iman dalam tindakan nyata. Kejujuran dikhotbahkan, tetapi praktik manipulasi tetap berjalan. Kasih diucapkan, tetapi kebencian masih dipelihara. Pengampunan diajarkan, tetapi dendam tidak pernah benar-benar dilepaskan.

Paskah, yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan, dalam banyak kasus justru berhenti sebagai rutinitas tahunan.

Lebih memprihatinkan lagi, muncul fenomena yang mencederai makna iman itu sendiri: sebagian orang menjadikan agama sebagai label sosial, bukan sebagai kompas moral. Kehadiran di gereja dianggap cukup untuk membuktikan kesalehan, tanpa diikuti oleh perubahan karakter. Akibatnya, yang lahir bukanlah kesaksian iman, melainkan kontradiksi yang mencolok.

Di tengah kondisi ini, publik mulai bersuara bahkan dengan nada yang tajam. Tidak sedikit yang menilai bahwa orang-orang yang tidak aktif beribadah justru lebih menunjukkan nilai kemanusiaan yang sejati: jujur, tulus, dan menghargai sesama. Sementara itu, sebagian yang aktif dalam aktivitas keagamaan justru terjebak dalam praktik hidup yang jauh dari ajaran yang mereka yakini.

Ini bukan sekadar kritik. Ini adalah peringatan.

Sebab ketika kata dan perbuatan tidak lagi berjalan seiring, maka yang dipertaruhkan bukan hanya integritas pribadi, tetapi juga kredibilitas iman itu sendiri. Paskah kehilangan maknanya ketika kebangkitan hanya menjadi narasi, bukan realitas.

Kebangkitan Yesus Kristus bukanlah peristiwa simbolik yang cukup dikenang setiap tahun. Ia adalah panggilan untuk perubahan yang konkret dari hidup lama menuju hidup baru, dari kepalsuan menuju kejujuran, dari egoisme menuju kasih yang nyata. Tanpa itu, Paskah hanya akan menjadi seremoni yang indah di permukaan, tetapi kosong di dalam.

Gereja tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan ini. Pembinaan iman tidak boleh berhenti pada penyampaian pesan moral di mimbar. Ia harus menyentuh kehidupan nyata umat, menegur ketika perlu, dan membentuk karakter yang konsisten antara iman dan tindakan. Sebab tanpa ketegasan moral, gereja berisiko menjadi ruang nyaman bagi rutinitas tanpa perubahan.

Namun, tanggung jawab utama tetap berada pada individu. Tidak ada perayaan, seagung apa pun, yang mampu mengubah seseorang tanpa kesediaannya untuk berubah. Paskah menawarkan makna, tetapi manusia yang menentukan apakah makna itu akan dihidupi atau diabaikan.

Tajuk ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, tetapi untuk menggugah. Sebab iman yang sejati tidak membutuhkan pembelaan, melainkan pembuktian. Ia hidup bukan dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan. Ia terlihat bukan di dalam gereja, tetapi di dalam kehidupan.

Paskah seharusnya menjadi titik balik. Tetapi jika setelahnya tidak ada yang berubah, maka yang terjadi bukan kebangkitan melainkan pengulangan.

Dan selama itu terus terjadi, Paskah akan tetap dirayakan dengan meriah, tetapi kehilangan daya ubahnya. Saatnya berhenti menjadikan Paskah sebagai label. Saatnya menjadikannya sebagai kehidupan.

Redaksi – Kapatanews.com

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP