
Saumlaki, Kapatanews.com – Malam di Kota Larat kini bukan lagi sekadar pergantian waktu, melainkan berubah menjadi ruang sunyi yang menakutkan. Dalam hitungan detik, cahaya lenyap. Gelap menelan rumah-rumah, jalanan, dan harapan warga. Tidak ada peringatan. Tidak ada penjelasan. Hanya kegelapan yang datang seperti sesuatu yang sudah “diatur”. Senin, (6/04/2026).
Di bawah pengelolaan PT PLN (Persero), pemadaman listrik yang terjadi hampir setiap malam kini dirasakan warga bukan lagi gangguan teknis melainkan teror yang berulang.
Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku, suasana setiap malam kini terasa mencekam dan tidak wajar.
“Ini bukan mati lampu biasa. Waktunya selalu hampir sama. Seperti ada yang sengaja mematikan, Kami tidak tahu harus percaya siapa. Tidak ada penjelasan. Tidak ada kepastian. Hanya gelap dan rasa takut.” ujarnya lirih.
Dalam gelap itu, berbagai hal ikut “hidup”. Anak-anak menangis. Orang tua terjaga. Warga memilih berdiam di rumah, khawatir akan sesuatu yang tidak terlihat namun terasa nyata. Aktivitas ekonomi lumpuh. Warung tutup lebih cepat. Jalanan menjadi sunyi, bahkan terasa asing bagi warganya sendiri.
Ketiadaan informasi dari pihak berwenang membuat situasi semakin mencekam. Ketika tidak ada penjelasan, maka spekulasi berkembang liar. Warga mulai berbisik satu sama lain tentang kemungkinan adanya masalah besar yang sengaja disembunyikan.
“Kalau memang rusak, kenapa tidak jujur saja? Kenapa harus gelap terus setiap malam. Kami ini seperti dibiarkan dalam ketidaktahuan. Dan itu lebih menakutkan daripada gelap itu sendiri. kata narasumber lain yang juga meminta identitasnya disamarkan.
Pertanyaan demi pertanyaan menggantung tanpa jawaban. Mengapa listrik hanya stabil di siang hari? Mengapa justru pada malam hari saat masyarakat paling membutuhkan penerangan listrik selalu padam? Apakah ada krisis operasional yang tidak pernah diungkap? Ataukah ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi?
Di tengah ketidakpastian ini, muncul pula kecurigaan yang lebih dalam. Warga mulai meragukan transparansi pengelolaan listrik, bahkan menyinggung kemungkinan adanya praktik yang tidak wajar dalam operasional. Namun tanpa klarifikasi resmi, semua itu hanya menjadi bisikan dalam gelap yang perlahan berubah menjadi keresahan kolektif.
Yang paling disesalkan, hingga saat ini pihak PT PLN (Persero) tetap bungkam. Tidak ada penjelasan publik, tidak ada upaya komunikasi, seolah-olah kondisi ini adalah sesuatu yang harus diterima tanpa pertanyaan.
Padahal, listrik adalah hak dasar masyarakat. Ketika hak itu dirampas secara diam-diam setiap malam, yang tersisa bukan hanya ketidaknyamanan melainkan rasa tidak aman.
Kini, warga Larat tidak hanya hidup dalam gelap, tetapi juga dalam bayang-bayang ketidakpastian. Dan di tengah sunyi yang pekat itu, satu hal menjadi semakin jelas: yang padam bukan hanya listrik tetapi juga kepercayaan, perlahan-lahan, tanpa suara. (KN-13)




