Place Your Ad
Place Your Ad
Place Your Ad
BeritaDuan LolatKepulauan Tanimbar

Pengabdian Tulus Mengantar Letkol Hendra Jadi Putra Terbaik Duan Lolat

×

Pengabdian Tulus Mengantar Letkol Hendra Jadi Putra Terbaik Duan Lolat

Sebarkan artikel ini

Saumlaki, Kapatanews.com – Pagi itu laut Tanimbar tampak tenang. Langit membentang cerah dengan semburat biru yang menyatu di cakrawala. Angin laut berhembus perlahan, menggerakkan panji-panji adat yang terpasang di atas sebuah kapal tradisional yang berlayar di perairan Kepulauan Tanimbar.

Di tengah hamparan Laut Tanimbar yang berkilau diterpa cahaya pagi, sebuah penghormatan langka dan penuh makna diberikan kepada mantan Komandan Kodim 1507/Saumlaki, Letkol Inf. Hendra Suryaningrat, S.Sos Sosok yang oleh masyarakat adat Tanimbar disematkan nama Alelyaman Refwalu itu kini menjabat sebagai Kasbrig 27 Nusa Ina.

Berdiri di atas geladak kapal, ia menerima penghormatan yang lahir bukan dari jabatan ataupun pangkat, melainkan dari rasa hormat dan cinta masyarakat atas pengabdian yang telah menyentuh kehidupan mereka.

Bagi masyarakat Tanimbar, laut bukan sekadar hamparan air yang memisahkan pulau-pulau. Laut adalah ruang kehidupan, jalur sejarah, dan saksi perjalanan panjang peradaban masyarakat Duan Lolat. Karena itu, ketika penghormatan adat diberikan di tengah bentangan laut yang menjadi simbol identitas masyarakat, maknanya terasa jauh lebih mendalam daripada sebuah seremoni biasa.

Di hadapan tokoh adat, pemuka agama, tokoh masyarakat, serta warga yang hadir, Letkol Inf. Hendra Suryaningrat menerima penghormatan sebagai Putra Terbaik Duan Lolat. Sebuah gelar yang dalam tradisi masyarakat Tanimbar bukan diberikan karena jabatan, melainkan karena penghargaan atas kedekatan, pengabdian, dan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Balutan atribut adat yang dikenakannya pagi itu tampak menyatu dengan suasana. Mahkota adat, kalung kebesaran, dan kain penghormatan yang disematkan kepadanya bukan hanya simbol budaya, melainkan juga representasi kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada seorang pemimpin yang dianggap hadir di tengah kehidupan mereka.

Di tengah prosesi yang berlangsung khidmat, sorot mata masyarakat terlihat penuh kebanggaan. Sejumlah warga yang mengikuti acara dari atas kapal maupun dari perahu-perahu pengiring tampak mengabadikan momen tersebut dengan telepon genggam mereka. Tidak sedikit yang menyebut peristiwa itu sebagai salah satu penghormatan adat paling berkesan yang pernah mereka saksikan.

Menurut para tokoh adat yang hadir, filosofi Duan dan Lolat mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan, penghormatan terhadap sesama, gotong royong, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut selama ratusan tahun menjadi fondasi hubungan antarwarga di Kepulauan Tanimbar.

Karena itu, pemberian gelar kepada seseorang tidak dilakukan secara sembarangan. Penghormatan adat hanya diberikan kepada mereka yang dinilai mampu menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat serta menunjukkan komitmen terhadap nilai-nilai yang dihormati oleh masyarakat adat.

Dalam kesempatan tersebut, Letkol Inf. Hendra Suryaningrat menyampaikan rasa syukur dan penghargaan atas kehormatan yang diberikan kepadanya.

“Ini bukan hanya sebuah kehormatan, tetapi amanah yang harus dijaga. Saya menganggap masyarakat Tanimbar sebagai keluarga besar yang harus terus kita rawat dan lindungi bersama,” ujarnya.

Pernyataan itu disambut tepuk tangan panjang dari masyarakat yang hadir. Bagi sebagian warga, kalimat tersebut mencerminkan hubungan yang selama ini terbangun antara dirinya dengan masyarakat di wilayah tugasnya.

Selama menjabat sebagai Dandim 1507/Saumlaki, Letkol Inf. Hendra Suryaningrat dikenal aktif hadir dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Kehadirannya tidak hanya terlihat dalam tugas-tugas yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan wilayah, tetapi juga dalam kegiatan sosial, pembangunan masyarakat, hingga dialog bersama tokoh adat dan tokoh agama.

Sejumlah tokoh masyarakat yang ditemui dalam kegiatan tersebut menilai bahwa pendekatan yang dilakukan Letkol Hendra lebih banyak mengedepankan komunikasi dan kedekatan dengan masyarakat. Menurut mereka, hal itu menjadi salah satu alasan mengapa kehadirannya diterima oleh berbagai kalangan.

Di wilayah kepulauan yang memiliki karakter geografis unik seperti Tanimbar, membangun kedekatan dengan masyarakat bukan perkara sederhana. Jarak antarpulau yang berjauhan, kondisi cuaca yang tidak selalu bersahabat, serta keberagaman adat dan budaya menuntut seorang pemimpin untuk mampu memahami masyarakat secara langsung.

Dalam berbagai kesempatan, Letkol Hendra kerap terlihat hadir di desa-desa, berdialog dengan warga, mengikuti kegiatan sosial, hingga menghadiri berbagai acara adat. Bagi masyarakat, kehadiran seperti itu sering kali memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar kehadiran formal seorang pejabat.

Penganugerahan yang berlangsung di atas laut Tanimbar itu kemudian menjadi simbol yang kuat. Laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat seolah menjadi panggung alam yang menyatukan nilai kebangsaan dengan nilai-nilai adat yang diwariskan para leluhur.

Di tengah berbagai perubahan yang terjadi di era modern, masyarakat Tanimbar masih menjaga tradisi mereka sebagai bagian penting dari identitas daerah. Nilai penghormatan terhadap adat tidak dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan kemajuan, melainkan sebagai fondasi yang membantu masyarakat tetap memahami jati dirinya.

Karena itu, ketika seorang perwira TNI menerima penghormatan adat tertinggi dari masyarakat, peristiwa tersebut juga dipandang sebagai bentuk dialog antara negara dan budaya lokal. Sebuah pesan bahwa pembangunan dan kemajuan dapat berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap tradisi.

Momen tersebut juga menyampaikan pelajaran penting tentang kepemimpinan. Bahwa penghormatan tidak selalu lahir dari kekuasaan, melainkan dari kemampuan membangun kepercayaan. Bahwa kedekatan dengan masyarakat tidak dapat dibentuk hanya melalui jabatan, tetapi melalui kehadiran, kepedulian, dan konsistensi dalam pengabdian.

Ketika prosesi adat berlangsung, suasana laut yang tenang menghadirkan kesan tersendiri. Deru mesin kapal sesekali terdengar memecah keheningan. Ombak kecil berkejaran di sisi lambung kapal. Sementara itu, masyarakat yang hadir mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian.

Bagi generasi muda yang menyaksikan langsung, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian masih dihargai. Bahwa dedikasi kepada masyarakat tetap memiliki tempat terhormat di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.

Lebih dari itu, penghormatan yang diberikan kepada Letkol Inf. Hendra Suryaningrat menunjukkan bahwa hubungan antara aparat negara dan masyarakat dapat dibangun melalui pendekatan yang humanis. Melalui dialog, keterbukaan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai lokal yang hidup dalam masyarakat.

Di banyak tempat, hubungan antara institusi negara dan masyarakat sering kali hanya terlihat dalam konteks formal. Namun di Tanimbar, pagi itu menghadirkan gambaran yang berbeda. Sebuah hubungan yang dibangun di atas rasa saling menghormati dan saling memahami.

Ketika matahari semakin tinggi dan sinarnya memantul di permukaan laut yang berkilauan, prosesi adat pun berakhir. Namun makna dari peristiwa itu tampaknya akan bertahan jauh lebih lama daripada berlangsungnya seremoni.

Bagi masyarakat Duan Lolat, penghormatan tersebut menjadi catatan penting dalam perjalanan kehidupan sosial dan budaya mereka. Bagi Letkol Inf. Hendra Suryaningrat, penghargaan itu menjadi amanah yang akan terus dikenang dalam perjalanan pengabdiannya.

Di ujung tenggara Indonesia, di antara gugusan pulau yang dikelilingi Laut Arafura dan Laut Banda, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan: bahwa penghormatan terbesar bukanlah yang diberikan karena kekuasaan, melainkan yang lahir dari kepercayaan masyarakat.

Dan di atas ombak biru Laut Tanimbar pagi itu, kepercayaan tersebut menemukan bentuknya. Bukan dalam kemegahan, bukan dalam kemewahan, melainkan dalam penghormatan tulus dari masyarakat kepada seorang pemimpin yang mereka anggap telah menjadi bagian dari keluarga besar Duan Lolat.

Sebuah penghormatan yang tidak hanya mengabadikan nama seorang perwira, tetapi juga mengingatkan bahwa nilai pengabdian, ketulusan, dan kedekatan dengan rakyat akan selalu memiliki tempat istimewa dalam sejarah sebuah daerah. (Nik Besitimur)

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP