Place Your Ad
Place Your Ad
Iklan
Editorial Redaksi

Naga Rakus Kekuasaan di Tanimbar, Rakyat Menuntut Dibinasakan

×

Naga Rakus Kekuasaan di Tanimbar, Rakyat Menuntut Dibinasakan

Sebarkan artikel ini

Saumlaki, Kapatanews.com – Di langit Tanimbar seolah tampak sebuah tanda, bukan dalam wujud naga merah seperti yang disebut Kitab Wahyu dalam Alkitab, tetapi dalam rupa kekuatan besar yang menjalar ke segala lini kehidupan.

Ia memiliki banyak “kepala”: satu di sektor usaha, satu di birokrasi, satu di proyek publik, satu di perizinan, satu di rantai pasok, satu di keamanan sosial, dan sisanya merayap di ruang-ruang yang tak pernah benar-benar terlihat.

Scroll Keatas
Iklan
Scroll Kebawah

Setiap kepala memakai “mahkota”, simbol bagaimana kekuasaan itu menjelma dalam berbagai bentuk pengaruh yang sah maupun terselubung.

Dari ekornya yang panjang seperti jaringan kepentingan yang tak terputus, terseretlah “sepertiga bintang-bintang”, yakni mereka yang seharusnya bersinar untuk masyarakat: potensi, suara, kesempatan, dan keadilan. Semua itu digulung turun ke bumi, jatuh dalam pusaran kepentingan yang lebih besar dari rakyat yang seharusnya dilayani.

Dan seperti naga dalam penglihatan Wahyu yang berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan, demikian pula struktur oligarki itu berdiri di hadapan setiap upaya perubahan di Tanimbar, setiap gagasan baru, setiap harapan masyarakat, setiap peluang lahirnya pemimpin atau kebijakan yang benar-benar berpihak pada orang kecil. Setiap kali muncul harapan, kekuatan itu berusaha menelannya sebelum sempat tumbuh.

Namun, sebagaimana tertulis bahwa “naga besar itu, dilemparkan ke bawah”, demikian pula keyakinan masyarakat bahwa tak ada kekuasaan gelap yang abadi. Ada masa ketika rakyat menyadari cengkeraman itu, ketika suara-suara yang ditekan mulai menyatu, dan ketika struktur yang dibangun di atas ketakutan perlahan retak oleh keberanian.

Naga bukanlah pribadi tertentu, melainkan lambang sistem yang menyesatkan, mengalihkan kepentingan publik menjadi laba segelintir pihak. Dan sebagaimana dalam Kitab Wahyu, setiap sistem yang menyesatkan pada akhirnya kehilangan pijakan ketika kebenaran dan kesadaran bersama mulai bangkit.

Kemarahan rakyat di Tanimbar kini bangkit dari tidur panjangnya. Warga menuntut pembongkaran total atas “naga rakus kekuasaan” yang mereka yakini telah melilit pemerintahan, meracuni kebijakan, dan menggerogoti masa depan daerah tanpa henti.

Seruan keras “tangkap otak besarnya” menggelegar di ruang publik, menjadi pekik perlawanan yang menandai keberanian rakyat menghadapi kekuatan bayang-bayang yang selama ini bekerja seperti naga yang menyemburkan tipu daya dan tekanan di balik layar.

Dalam imajinasi sosial warga, kekuasaan gelap itu telah menjulur ke seluruh sendi kehidupan: politik, proyek, hukum, hingga birokrasi. Ia tidak membutuhkan jabatan formal; namun dari bayang-bayang, ia mengatur arah keputusan dan menentukan siapa yang boleh bersuara dan siapa yang harus diam. Figur itu bekerja seperti yang digambarkan Kitab Suci: seekor naga besar yang menipu, menekan, dan memakan harapan umat manusia.

ALKITAB MENYATAKAN :

“Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. (Wahyu 12:1)

“Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.” (Wahyu 12:3)

“Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya” (Wahyu 12:4)

Naga dalam Wahyu digambarkan sebagai kekuatan yang menyamar menjadi otoritas, bekerja di balik layar, merusak tatanan, serta menindas umat. Gambaran itu dianggap warga sangat mirip dengan pola kekuasaan yang mereka alami selama bertahun-tahun.

NAGA RAKUS KEKUASAAN YANG MENCEKIK DALAM SENYAP

Berbagai kejanggalan yang terus berulang laporan yang melemah tiba-tiba, proses hukum yang tersendat tanpa alasan jelas, janji pejabat yang lenyap sebelum terwujud semua ini membentuk kesadaran bahwa persoalan Tanimbar bukan sekadar satu kasus, melainkan struktur kekuasaan gelap yang rapi, terorganisir, dan sulit disentuh.

Seperti naga dalam kitab Wahyu yang menyemburkan ancaman dan tipu daya, kekuasaan gelap itu: menguasai proyek dan bisnis, menekan kebijakan publik, mengatur alur hukum, dan membungkam suara rakyat.

Warga merasakan belitannya seperti dicengkeram naga yang mematahkan tulang harapan, satu per satu.

FIRMAN TUHAN KEMBALI MENGINGATKAN :

“Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya” (Wahyu 12:7)

“Tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga” (Wahyu 12:8)

“Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya. (Wahyu 12:9)

Bagi warga Tanimbar, “naga kekuasaan” itu adalah metafora dari sistem gelap yang menyesatkan arah pembangunan, mencengkeram ekonomi rakyat, dan mengaburkan keadilan.

KEMARAHAN YANG MENJADI KESADARAN KOLEKTIF

Di Tanimbar obrolan rakyat berubah menjadi suara getir. Ibu rumah tangga bertanya mengapa keadilan terasa seperti barang mewah. Anak muda mempertanyakan mengapa suara rakyat bisa kalah oleh uang. Para orang tua mulai membandingkan keadaan ini dengan kisah-kisah Alkitab tentang pemimpin yang menyalahgunakan kuasa.

MASYARAKAT MENYADARI, DIAM ADALAH BENTUK KEKALAHAN

Ayat ini menjadi penguat moral mereka:

“Bibir yang mengatakan kebenaran tetap untuk selama-lamanya, tetapi lidah dusta hanya untuk sekejap mata”. (Amsal 12:19)

Di warung kopi, nama-nama disebut, dugaan-dugaan disusun. Rakyat ingin mengetahui siapa “dalang” yang selama ini seperti naga dalam bayang-bayang yang menggerakkan semua tentakel kekuasaan.

Gelombang suara itu kini seperti air bah: tidak bisa dihentikan dengan intimidasi, ancaman, atau permainan politik.

PERTARUHAN: HARGA DIRI TANIMBAR

Bagi warga, perjuangan ini bukan tentang proyek atau jabatan semata. Yang dipertaruhkan adalah harga diri Tanimbar, masa depan generasi, dan warisan tanah leluhur. Mereka tidak ingin naga gelap itu terus tumbuh hingga menelan seluruh masa depan daerah.

Firman Tuhan menyatakan tentang nasib setiap naga kuasa gelap:

“Dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.” (Wahyu 20:10)

Melalui narasi iman ini, warga melihat satu pesan kuat:

Tidak ada struktur gelap yang dapat bertahan ketika rakyat bersatu menuntut keadilan.

Desakan mereka kini jelas: Bongkar naga gelap itu sebelum ia menelan Tanimbar sepenuhnya.

SIKAP RESMI REDAKSI

Redaksi menegaskan bahwa pembongkaran jaringan kekuasaan gelap atau “naga kekuasaan” dalam imajinasi moral masyarakat adalah keharusan etis dan politik.

Kami berpandangan:

  • Transparansi adalah fondasi demokrasi
  • Supremasi hukum harus mengalahkan kekuatan bayangan siapa pun.
  • Kebenaran harus diterangi, seperti pesan Alkitab:

“Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui”. (Lukas 12:2)

  • Masyarakat berhak mengetahui siapa yang menggerakkan kekuasaan dari balik layar.
  • Aparat wajib berani menelusuri akar yang selama ini bersembunyi di kegelapan.

Redaksi berpihak pada rakyat, pada kebenaran, dan pada keberanian untuk mengungkap naga rakus kekuasaan yang selama ini merusak sendi-sendi keadilan di Tanimbar.

Redaksi – Kapatanews.com

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP