Place Your Ad
Place Your Ad
Iklan
Editorial Redaksi

Redupnya Lampu Di Rumahku : Catatan Kritis Jelang Natal UKIM Di Tengah Kegelapan

×

Redupnya Lampu Di Rumahku : Catatan Kritis Jelang Natal UKIM Di Tengah Kegelapan

Sebarkan artikel ini

Ambon,Kapatanews – Tidak ada momen yang lebih ironis daripada merayakan Natal di sebuah kampus Kristen yang sedang bergumul dengan kegelapannya sendiri.  Talake 12 Januari 2026, UKIM kembali menggelar Ibadah Natal: lagu-lagu pujian akan dinyanyikan, lilin-lilin akan dinyalakan, dan kata “damai” akan diucapkan berulang-ulang.

Di atas mimbar, Natal akan disebut sebagai perayaan terang yang datang memecah kegelapan. Di lorong-lorong kampus, sebagian orang justru berbisik: “Gelap apa yang sebenarnya sedang kita rayakan?”

Scroll Keatas
Iklan
Scroll Kebawah

 

Rumah Besar: Iman, Pengetahuan, Kasih Dan Luka

UKIM sering disebut sebagai rumah besar bagi iman, pengetahuan, dan kasih. Ungkapan yang sungguh indah. Di dalam rumah itu, ada fakultas-fakultas, ruang kelas, perpustakaan, dan kapel; ada dosen-dosen yang setia mengajar, mahasiswa yang berjuang menyelesaikan studi, dan pegawai yang bekerja dalam senyap.

Namun beberapa tahun terakhir, rumah ini juga menyimpan hal lain: luka yang dipendam, konflik kepentingan yang disapu di bawah karpet liturgi, dan kekecewaan yang ditutupi senyum seremonial.

Secara teologis, Natal berbicara tentang Allah yang masuk ke kandang—bukan ke istana. Ia memilih tempat yang sederhana dan jujur, bukan ruangan yang disulap rapi demi mempertahankan citra.

Ironinya, ada saat-saat ketika UKIM justru lebih sibuk mengatur panggung dan kursi terhormat daripada menata kandang hati dan tata kelola.  Natal di rumah besar ini berpotensi menjadi drama yang indah di depan, tetapi kosong di belakang panggung, bila keberanian untuk jujur tidak dihadirkan.

 

Terang yang Datang, Tapi Saklar Masih Dimatikan

Kita suka mengatakan: “Yesus adalah terang dunia.” Kalimat itu akan kembali diucapkan dalam khotbah, mungkin digabung dengan Yohanes 1:5, bahwa terang bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan tidak menguasainya.

Namun pertanyaannya, apakah terang itu sungguh dibiarkan masuk ke dalam cara UKIM mengelola dirinya? Atau sekadar dibiarkan sebagai jargon liturgis, sementara saklar pengakuan dosa institusional tetap dimatikan?

Kegelapan di UKIM bukan sekadar soal listrik padam atau fasilitas kurang.  Di tengah kegelapan yang dibiarkan berlama-lama, UKIM mulai menyerupai sebuah negeri yang takut pada bayangannya sendiri.

Kegelapan itu telah menguasai lorong-lorong pikiran dan ruang-ruang rapat, dan di sana bergentayangan “Tete Momo” dengan wajah tidak berdosa: sosok-sosok yang seolah sudah tiada dalam tanggung jawab moral, tetapi masih hadir dalam bentuk keputusan, kebijakan, dan kepentingan yang menakuti siapa saja yang mencoba berkata jujur.

Mereka tidak lagi tampak di garis depan pelayanan, tetapi jejaknya terasa di setiap kompromi yang menutup pintu bagi kebenaran. Dalam budaya lokal, “Tete Momo” sering dipakai untuk menakuti anak-anak yang tidak patuh.

Ironisnya, di rumah besar UKIM, Tete Momo versi baru justru dipakai untuk menakuti orang dewasa yang ingin setia pada kebenaran: ancaman disisihkan, dibisukan, atau dicap perusak damai, padahal mereka hanya sedang mencoba menyalakan lilin kecil di rumah yang sudah terlalu lama dibiarkan redup.

Ketika bayang-bayang seperti ini dibiarkan berkeliaran, Natal berisiko turun pangkat menjadi sekadar dekorasi, bukan lagi peristiwa pertobatan.

Kegelapan itu ada ketika:

* Kebenaran dikompromikan demi kenyamanan struktur

* Regulasi dan Statuta diabaikan, tetapi semua diajak “tenang demi nama baik

* Suara profetis dibungkam dengan label “pengacau”, sementara mereka yang menutup mata disebut “bijak dan dewasa

Di situ Natal menjadi sarkas: kita menyalakan lilin di kapel, tapi enggan menyalakan nurani di ruang rapat. Kita menyanyikan “Di Malam yang Sunyi”, tetapi menolak mendengar sunyi hati dosen, mahasiswa, dan pegawai yang merasa rumah besar ini tidak lagi selembut yang dikhotbahkan.

 

Sarkasme Natal: Bayi Di Palungan, Bukan Raja Di Kursi Senat

Bayi Yesus lahir di palungan, bukan di kursi senat. Namun entah sejak kapan, sebagian dari kita seolah mengira bahwa pusat Natal adalah siapa duduk di kursi mana, bukan siapa berlutut di hadapan siapa.

Dalam tradisi gerejawi, Natal adalah koreksi terhadap ambisi tahta: Allah memilih jalan turun, sementara manusia sibuk mencari jalan naik.

Di UKIM, kegelapan itu terasa ketika jabatan dikejar lebih giat daripada kebenaran, ketika gelar lebih dipentingkan daripada karakter, ketika meja rapat menjadi medan perang senyap, sementara meja perjamuan kasih hanya menjadi ritual tahunan.

Betapa sarkastiknya ketika kita menyanyikan “Hai Dunia Gembiralah” dalam sebuah institusi yang di dalamnya ada banyak yang tidak lagi gembira, tapi piawai menyembunyikan duka di balik toga dan jas.

Sarkas Natal bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menyadarkan:

* Jika bayi di palungan adalah pusat, maka kursi rektor, senat, yayasan, dan struktur lain seharusnya menjadi alat pelayanan, bukan singgasana kebal kritik.

* Jika terang sudah datang, maka kita tidak bisa terus nyaman bersembunyi di balik jargon “demi nama baik lembaga”. Nama baik sejati lahir dari muka yang tertunduk dan hati yang terangkat, bukan dari pengendalian narasi.

Natal sebagai Undangan Kesadaran Institusional untuk menghadirkan terang di tengah kegelapan, kabar baik Natal justru bukan: “Semua baik-baik saja.” Kabar baik itu berkata: “Memang gelap, dan karena itulah terang datang.” Natal UKIM di tengah kegelapan hanya akan menjadi berita baik bila diiringi keberanian mengakui:

* Bahwa ada hal-hal yang salah dalam tata kelola dan relasi kuasa

* Bahwa ada warga kampus yang terluka oleh keputusan-keputusan tidak adil

* Bahwa ada budaya diam yang terlalu lama dianggap sebagai spiritualitas padahal lebih mirip ketakutan.

Kesadaran institusional bukan berarti membongkar aib di depan semua orang, tetapi berani menata ulang dari dalam:

* Sinode dan YAPERTI hadir bukan hanya sebagai pemilik nama, tetapi sebagai penanggung jawab moral yang siap mendengar, mengoreksi, dan membenarkan juga oleh suara-suara jujur dari bawah.

* Pimpinan kampus membaca Natal bukan sebagai momen foto bersama, tetapi sebagai saat untuk berkata: “Kami juga bagian dari masalah, dan kami ingin menjadi bagian dari solusi.”

* Dosen, pegawai, dan mahasiswa memaknai kritik sebagai bentuk kasih, bukan permusuhan; berani bicara, namun juga berani mendoakan dan mengulurkan tangan.

 

Menyalakan Lilin Di Rumah Yang Retak

UKIM adalah rumah besar bagi iman, pengetahuan, dan kasih. Kata “rumah” berarti tempat kembali, tempat membangun, tempat belajar saling memaafkan dan bertumbuh.

Ya, rumah ini retak;  ya, ada kamar-kamar yang gelap;  ya, ada sudut-sudut yang penuh debu sejarah konflik dan kepentingan. Tetapi justru karena itulah Natal di UKIM menjadi sangat relevan: Natal bukan untuk ruang yang sempurna, melainkan untuk rumah yang butuh dipulihkan.

Menyalakan lilin Natal di kapel UKIM tahun ini seharusnya menjadi simbol keberanian untuk:

* Menyalakan diskusi jujur tentang masa depan kampus

* Menyalakan komitmen baru terhadap kebenaran dan keadilan dalam setiap keputusan

* Menyalakan kasih yang cukup berani untuk berkata “tidak” pada manipulasi, sekaligus “ya” pada rekonsiliasi.

Boleh saja kita tersenyum mendengar liturgi yang indah, sambil dalam hati mengakui: “Tuhan, rumah ini gelap, dan kami pun bagian dari kegelapan itu”

Justru dari pengakuan rendah hati itulah, Natal menjadi nyata. Bukan dengan kembang api, tetapi dengan langkah kecil namun radikal: memilih jujur, memilih adil, memilih mengasihi lebih dari mencengkeram kursi.

Jika demikian, maka Natal UKIM di tengah kegelapan akan menjadi kesaksian yang indah: bahwa rumah besar ini, betapapun retak dindingnya, tetap memilih menjadi tempat di mana terang Kristus boleh datang, mengoreksi, menguduskan, dan membarui.

Sehingga suatu hari nanti, ketika orang menyebut nama UKIM, mereka tidak hanya mengingat konflik dan kekecewaan, tetapi juga mengingat bagaimana rumah ini berani menyampaikan kebenaran dan kembali setia pada panggilannya: rumah bagi Iman, Pengetahuan, dan Kasih (Redaksi)

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP