Larat, Kapatanews.com – Sebuah video berdurasi 1 menit 29 detik yang memperlihatkan aktivitas pesta di lingkungan RSUD dr. D. Anaktototi Larat mendadak viral di media sosial dan memicu gelombang kekecewaan dari masyarakat. Tayangan tersebut memperlihatkan sejumlah pegawai rumah sakit berkumpul dalam suasana meriah di ruangan poliklinik, sebuah ruang yang selama ini dikenal sebagai tempat pelayanan medis bagi pasien. Rabu, (11/3/2026).
Peristiwa itu langsung menyita perhatian publik karena lokasi kegiatan berada di dalam fasilitas pelayanan kesehatan yang seharusnya dijaga dalam suasana tenang dan steril. Banyak warga menilai kegiatan seperti itu tidak sepatutnya dilakukan di lingkungan rumah sakit, apalagi di ruangan yang biasa dipakai untuk memeriksa pasien.
Dalam rekaman yang beredar, tampak sejumlah orang berada di dalam ruangan poliklinik dengan suasana yang menyerupai acara perayaan. Video tersebut dengan cepat menyebar melalui berbagai grup percakapan dan media sosial, hingga akhirnya memancing beragam reaksi dari masyarakat Kepulauan Tanimbar.
Sebagian warga mengaku merasa prihatin sekaligus kecewa karena rumah sakit yang menjadi tempat masyarakat mencari pertolongan kesehatan justru digunakan untuk kegiatan yang dianggap tidak sesuai dengan fungsinya. Bagi masyarakat, rumah sakit merupakan tempat yang sakral karena berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.
Seorang pasien yang enggan disebutkan namanya mengaku terganggu dengan situasi tersebut. Ia mengatakan rumah sakit semestinya menjadi tempat yang memberikan rasa aman dan ketenangan bagi orang sakit, bukan menjadi lokasi kegiatan yang berpotensi mengganggu suasana pelayanan medis.
“Rumah sakit ini tempat orang datang untuk berobat dan mencari kesembuhan. Kalau sampai ada kegiatan pesta di ruangan poliklinik, tentu rasanya sangat tidak nyaman bagi pasien,” ujarnya dengan nada kecewa.
Kekecewaan serupa juga disampaikan sejumlah warga yang menilai kejadian ini mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap penggunaan fasilitas rumah sakit. Mereka mempertanyakan bagaimana sebuah ruangan pelayanan medis dapat digunakan untuk kegiatan di luar fungsi utamanya.
Di tengah meningkatnya perhatian publik, Direktur RSUD dr. D. Anaktototi Larat, dr. Yeri Z. Pattipeilohy, memberikan penjelasan ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp. Ia membenarkan adanya kegiatan tersebut dan menyatakan bahwa acara itu merupakan bentuk syukuran pegawai rumah sakit.
Menurutnya, kegiatan itu dilakukan secara internal oleh pegawai dan tidak dimaksudkan untuk mengganggu pelayanan kesehatan. Ia juga menegaskan bahwa pada saat kegiatan berlangsung, pelayanan rumah sakit kepada pasien tetap berjalan seperti biasa.
“Pelayanan tetap berjalan normal dan tidak ada aktivitas medis yang terganggu,” jelasnya singkat dalam pesan yang diterima media ini.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredakan reaksi publik. Banyak warga tetap mempertanyakan keputusan penggunaan ruangan poliklinik untuk kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan pelayanan medis.
Sejumlah tokoh masyarakat menilai rumah sakit merupakan institusi yang memiliki standar etika dan tata kelola yang harus dijaga dengan ketat. Oleh karena itu, penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan harus benar-benar memperhatikan kepentingan pasien sebagai prioritas utama.
Bagi masyarakat, kejadian ini bukan hanya soal sebuah acara syukuran semata, tetapi menyangkut soal sensitivitas dan profesionalitas dalam mengelola fasilitas kesehatan milik pemerintah yang dibiayai oleh uang rakyat.
Peristiwa tersebut juga kembali memunculkan pembicaraan lama terkait pengelolaan fasilitas di lingkungan RSUD Anaktototi Larat. Sebelumnya, sempat muncul polemik di masyarakat mengenai aktivitas pembangunan fasilitas yang disebut-sebut melibatkan tenaga dari internal pegawai rumah sakit.
Sebagian warga menilai kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai fokus utama tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut. Menurut mereka, pegawai rumah sakit seharusnya lebih memprioritaskan pelayanan kesehatan dibanding terlibat dalam aktivitas di luar tugas pokoknya.
Di tengah berkembangnya berbagai tanggapan, masyarakat mulai mendorong adanya evaluasi terhadap manajemen rumah sakit. Mereka berharap kejadian ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.
Sejumlah warga menilai evaluasi diperlukan untuk memastikan pengelolaan rumah sakit berjalan sesuai dengan prinsip pelayanan publik yang profesional, transparan, dan berpihak pada kebutuhan pasien.
Masyarakat juga mengingatkan bahwa rumah sakit merupakan fasilitas vital yang harus dijaga wibawanya. Setiap aktivitas di dalamnya perlu mempertimbangkan dampak terhadap pasien dan keluarga yang sedang menghadapi situasi kesehatan yang tidak mudah.
Desakan publik pun mulai mengarah kepada pemerintah daerah agar melakukan penataan manajemen secara menyeluruh. Harapan tersebut muncul karena rumah sakit merupakan salah satu wajah pelayanan pemerintah kepada masyarakat.
“Rumah sakit butuh pengelolaan yang benar-benar profesional. Yang paling penting adalah pasien harus menjadi prioritas utama,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Ia menambahkan bahwa evaluasi terhadap pimpinan rumah sakit, termasuk Direktur dan Kepala Tata Usaha, perlu dipertimbangkan agar kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dapat kembali terjaga.
Hingga berita ini dipublikasikan, perbincangan mengenai video pesta di lingkungan RSUD dr. D. Anaktototi Larat masih terus bergulir di tengah masyarakat Kepulauan Tanimbar, sementara publik menunggu langkah resmi pemerintah daerah dalam menyikapi polemik tersebut. (KN-13)




