Place Your Ad
Place Your Ad
Iklan

Iklan
Kepulauan Tanimbar

Distribusi Ikan Tanimbar Tembus Rp834 Miliar, Pengawasan Disorot

×

Distribusi Ikan Tanimbar Tembus Rp834 Miliar, Pengawasan Disorot

Sebarkan artikel ini
Iklan

Saumlaki, Kapatanews.com – Suasana di Kantor Bupati Kepulauan Tanimbar, beberapa waktu lalu, tampak lebih sibuk dari biasanya. Sejumlah pejabat daerah dan perwakilan Karantina terlihat berdiskusi serius. Di balik pertemuan itu, tersimpan satu angka yang cukup mencolok: Rp834 miliar. Selasa, (24/03/2026).

Angka tersebut merupakan nilai lalu lintas komoditas perikanan dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar sepanjang tahun 2025. Data itu disampaikan dalam kunjungan kerja Kepala Karantina Maluku, Willy Indra Yunan, di Saumlaki.

Scroll Keatas
Iklan
Scroll Kebawah

Nilai yang tidak kecil. Bahkan bagi wilayah kepulauan seperti Tanimbar, angka ini menunjukkan betapa aktifnya pergerakan hasil laut keluar daerah.

Namun, di tengah tingginya aktivitas tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar: sejauh mana sistem pengawasan berjalan efektif?

Berdasarkan data karantina, distribusi komoditas perikanan dari Tanimbar tergolong tinggi.

Tercatat:

  • 213.103 ekor ikan hidup dilalulintaskan
  • 3.324 ton ikan non-hidup dikirim ke berbagai daerah

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di lapangan, aktivitas pengiriman ikan hampir menjadi rutinitas harian baik melalui jalur laut maupun distribusi antar wilayah.

Beberapa nelayan yang ditemui di kawasan pesisir Saumlaki mengaku bahwa permintaan pasar luar daerah memang cukup tinggi, terutama untuk komoditas seperti kerapu dan kepiting.

Namun demikian, data resmi tersebut belum sepenuhnya menggambarkan bagaimana proses pengawasan dilakukan di setiap titik distribusi.

Dalam pertemuan tersebut, pihak Karantina menekankan pentingnya pengawasan untuk mencegah penyebaran penyakit ikan.

Beberapa penyakit yang menjadi perhatian antara lain:

  • White Spot Syndrome Virus (WSSV)
  • Viral Nervous Necrosis (VNN)
  • Megalocytivirus

Kepala Karantina Maluku, Willy Indra Yunan, menegaskan:

“Sinergi antara karantina dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam menjaga kesehatan media pembawa serta mendukung pengembangan potensi komoditas daerah agar dapat dilalulintaskan secara aman.”

Namun di sisi lain, kondisi geografis Tanimbar yang terdiri dari banyak pulau kecil menjadi tantangan tersendiri.

Tidak semua titik keluar-masuk komoditas mudah diawasi secara ketat.

Di sinilah muncul indikasi perlunya penguatan sistem pengawasan yang lebih menyeluruh.

Dari hasil penelusuran dan analisis data, terdapat beberapa titik yang berpotensi menjadi celah dalam sistem distribusi:

  • jalur distribusi alternatif di luar pelabuhan utama
  • ketergantungan pada laporan administratif
  • keterbatasan pengawasan di wilayah terpencil

Belum ada data yang secara spesifik menunjukkan pelanggaran. Namun, pola distribusi di wilayah kepulauan seperti Tanimbar membuka kemungkinan adanya aktivitas yang belum sepenuhnya terpantau.

Hal ini masih bersifat indikatif dan memerlukan verifikasi lanjutan.

Selain soal distribusi, aspek lain yang menjadi perhatian adalah rantai harga.

Beberapa pelaku di lapangan menyebutkan bahwa harga di tingkat nelayan seringkali berbeda cukup jauh dengan harga di pasar luar daerah.

Kondisi ini:

  • bisa disebabkan oleh biaya distribusi
  • atau struktur pasar yang belum seimbang

Namun demikian, belum terdapat data terbuka yang menunjukkan secara rinci pola pembentukan harga dari nelayan hingga ke pasar tujuan.

Diperlukan transparansi lebih dalam rantai perdagangan komoditas.

Bupati Kepulauan Tanimbar, Ricky Jauwerissa, menyambut positif penguatan kerjasama dengan pihak karantina.

Menurutnya, daerah memiliki potensi besar di sektor perikanan dan perkebunan.

Beberapa komoditas unggulan antara lain:

  • kepiting bakau
  • ikan kerapu
  • rumput laut

“Dengan dukungan karantina, kami optimistis potensi komoditas daerah dapat terus dikembangkan sehingga memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Hingga laporan ini disusun, informasi yang tersedia masih didominasi oleh data resmi dari pihak Karantina dan Pemerintah Daerah.

Belum ada keterangan tambahan dari:

  • pelaku usaha perikanan
  • distributor/logistik
  • maupun pihak pengawas independen

Upaya konfirmasi lanjutan masih diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh dan berimbang.

Angka Rp834 miliar menjadi gambaran besarnya potensi perikanan Tanimbar. Aktivitas distribusi yang tinggi menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki peran penting dalam rantai pasok hasil laut.

Namun dibalik itu, pengawasan dan transparansi tetap menjadi kunci.

Tanpa sistem yang kuat dan terbuka, potensi besar tersebut bisa saja tidak sepenuhnya memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.

Untuk itu, pendalaman lebih lanjut, audit sistem distribusi, serta keterlibatan berbagai pihak menjadi langkah penting agar sektor perikanan Tanimbar dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan. (Nik Besitimur)

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP