Place Your Ad
Place Your Ad
Iklan

Iklan
Duan LolatPolres Kepulauan Tanimbar

Wakapolres Tanimbar Memilih Mendengar, Nelayan Lermatang Sampaikan Aspirasi Terbuka

×

Wakapolres Tanimbar Memilih Mendengar, Nelayan Lermatang Sampaikan Aspirasi Terbuka

Sebarkan artikel ini
Iklan

Saumlaki, Kapatanews.com – Pagi itu, langit di atas Desa Lermatang terbuka lebar. Cahaya turun tanpa terhalang, menyapu tanah di sekitar shelter PT. TAKA yang perlahan dipenuhi orang. Dari arah jalan kecil, nelayan datang berkelompok. Sebagian mengenakan topi lusuh, sebagian lain hanya berdiri dengan tangan terlipat di dada. Tidak ada spanduk. Tidak ada pengeras suara. Yang terdengar hanya percakapan pelan yang sesekali menguat, lalu kembali mereda.

Mereka tidak tergesa. Tetapi mereka datang dengan tujuan yang sama.

Scroll Keatas
Iklan
Scroll Kebawah

Beberapa saat kemudian, sebuah kendaraan berhenti di tepi kerumunan. Seorang perwira polisi turun dan berjalan mendekat tanpa pengawalan mencolok. Tidak ada aba-aba. Tidak ada jarak yang dibentuk. Para nelayan perlahan bergerak, mengitarinya. Dalam hitungan menit, sebuah lingkaran manusia terbentuk.

Di tengah lingkaran itu, Kompol Wilhelmus Bernard Minanlarat, Wakapolres Kepulauan Tanimbar, berdiri tanpa pembatas.

Seorang perwakilan nelayan melangkah maju. Suaranya tidak tinggi, tetapi cukup jelas.

“Bapak tahu kan, kita hanya ingin kehidupan nelayan bisa lebih baik dan lingkungan tetap terjaga,” ujarnya, menurut catatan lapangan yang dihimpun di lokasi, Senin (30/03/2026).

Tangannya menggenggam tangan sang perwira. Di sekelilingnya, nelayan lain menunggu giliran. Tidak ada yang saling memotong. Tidak ada desakan.

Sesaat kemudian, suasana kembali hening. Hanya suara napas dan langkah kaki di atas tanah kering.

Aksi penyampaian aspirasi itu, menurut keterangan sejumlah nelayan yang ditemui di lokasi, berkaitan dengan aktivitas di sekitar wilayah perairan dan lahan operasional PT. TAKA. Mereka menyebut adanya kekhawatiran terhadap akses ke area penangkapan ikan, serta potensi dampak terhadap keberlanjutan mata pencaharian.

Sejumlah nelayan, dalam wawancara terpisah, menyebut ruang tangkap mereka disebut-sebut mulai mengalami perubahan. Namun, pernyataan tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari pihak terkait.

Seorang nelayan yang mengaku telah melaut lebih dari dua puluh tahun, menyampaikan kesannya dengan suara pelan.

“Saat beliau bersama kita di tanah dan mendengar dengan penuh perhatian, rasanya seperti semua beban yang kita pikul jadi lebih ringan,” katanya.

Ia berhenti beberapa detik, menatap ke arah kerumunan yang masih bergerak.

“Katong ini cuma mau tetap bisa melaut,” tambahnya.

Pernyataan itu mencerminkan kegelisahan yang lebih luas. Menurut keterangan yang dihimpun di lapangan, sebagian nelayan menggantungkan penghasilan utama dari aktivitas melaut harian, sehingga perubahan akses wilayah tangkap disebut berpotensi mempengaruhi keberlanjutan ekonomi keluarga.

Di tengah lingkaran itu, Kompol Wilhelmus tidak tampil sebagai pemberi instruksi. Ia lebih banyak mendengar. Sesekali ia menunduk, mendekatkan telinga, lalu menjawab singkat.

Menurut keterangan yang ia sampaikan langsung di lokasi, pendekatan tersebut dilakukan untuk memahami persoalan secara langsung.

“Saya tidak bisa hanya menjadi pihak yang mengatur dari jauh. Kalau ingin menjembatani dengan baik, saya harus datang ke tengah mereka, memahami masalahnya secara mendalam, dan kemudian bersama-sama mencari jalan keluar,” ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan di hadapan para nelayan yang masih mengelilinginya, tanpa pengeras suara.

Di sisi lain, kehadiran aparat tetap terlihat. Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian di lokasi, sebanyak 70 personel diterjunkan untuk mengamankan jalannya kegiatan. Namun, berdasarkan pengamatan lapangan, mereka tidak membentuk barikade tertutup. Sebagian berada di pinggir kerumunan, sebagian lain berbaur dalam jarak yang tidak mencolok.

Seorang warga yang hadir menyebut pendekatan tersebut membuat suasana berbeda.

“Biasanya kalau banyak polisi, orang jadi takut bicara. Tapi ini tidak,” katanya. Ia tidak menyebutkan namanya secara lengkap saat ditemui.

Menurut keterangan pihak kepolisian di lokasi, penempatan personel dilakukan untuk menjaga keamanan sekaligus memberi ruang komunikasi terbuka antara semua pihak.

Selain percakapan di tengah kerumunan, komunikasi juga berlangsung dalam forum yang lebih terarah. Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lokasi, perwakilan nelayan difasilitasi untuk bertemu langsung dengan pihak manajemen PT. TAKA serta perwakilan pemerintah daerah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar disebut hadir mewakili pemerintah daerah dalam pertemuan tersebut, menurut sumber yang berada di lokasi.

Pertemuan berlangsung di area yang sama, tidak jauh dari titik berkumpulnya massa. Tidak ada pemisahan ruang yang ketat. Beberapa nelayan tetap berdiri di sekitar lokasi, memperhatikan jalannya dialog.

Menurut salah satu sumber yang mengikuti proses tersebut, sejumlah hal disampaikan oleh perwakilan nelayan, termasuk terkait akses wilayah tangkap dan kekhawatiran terhadap aktivitas perusahaan.

Pihak perusahaan dan pemerintah daerah, menurut sumber yang sama, memberikan tanggapan dalam forum tersebut. Namun, rincian isi pembahasan tidak seluruhnya disampaikan secara terbuka kepada media di lokasi, sehingga publik belum memperoleh gambaran utuh mengenai poin-poin yang dibahas.

Sebagai sumber sekunder, pihak kepolisian juga menyampaikan bahwa sebelum kegiatan berlangsung telah dilakukan koordinasi antara aparat, pihak perusahaan, dan pemerintah daerah. Koordinasi tersebut, menurut keterangan yang dihimpun, bertujuan memastikan ruang dialog tetap terbuka selama penyampaian aspirasi berlangsung.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, jumlah peserta yang hadir mencapai ratusan orang, sebagian besar merupakan nelayan dan anggota keluarga mereka dari Desa Lermatang. Mereka datang secara bertahap sejak pagi.

Selama kegiatan berlangsung, tidak terlihat adanya insiden yang mengganggu keamanan. Hal ini juga dibenarkan oleh sumber dari pihak pengamanan di lokasi yang menyatakan situasi tetap kondusif hingga kegiatan berakhir.

Menurut keterangan yang disampaikan di lokasi, pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bersama antara perwakilan nelayan, pihak perusahaan, dan pemerintah daerah. Namun hingga kegiatan selesai, tidak semua poin kesepakatan dijelaskan secara rinci kepada publik.

Informasi tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari masing-masing pihak terkait untuk memastikan transparansi dan tindak lanjut.

Dalam pernyataannya setelah pertemuan berlangsung, Kompol Wilhelmus menekankan pentingnya komunikasi dalam menangani situasi seperti ini.

“Humanisme harus selalu berada di atas segala hal dalam menjalankan tugas. Ketika kita mau mendengar dengan tulus dan menjadi jembatan yang menghubungkan semua pihak, maka setiap masalah akan menemukan solusi yang menguntungkan bersama,” ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan masih di lokasi kegiatan, ketika sebagian nelayan belum sepenuhnya meninggalkan area.

Untuk memastikan keberimbangan informasi, upaya konfirmasi dilakukan kepada pihak manajemen PT. TAKA dan perwakilan pemerintah daerah terkait hasil pertemuan serta rencana tindak lanjut.

Berdasarkan catatan lapangan, konfirmasi dilakukan secara langsung di lokasi kegiatan pada Senin (30/03/2026). Selain itu, upaya lanjutan dilakukan melalui pesan singkat pada hari yang sama kepada pihak yang disebut hadir dalam pertemuan.

Namun hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT. TAKA maupun perwakilan pemerintah daerah belum memberikan keterangan tambahan secara rinci terkait isi kesepakatan tersebut.

Menjelang siang, kerumunan mulai berkurang. Sebagian nelayan berjalan menjauh dari lokasi. Sebagian lain masih bertahan, berbincang dalam kelompok kecil. Suara-suara yang tadi sempat menguat kini kembali pelan.

Langkah kaki terdengar di atas tanah yang mulai kering oleh panas.

Seorang nelayan berdiri sejenak sebelum berbalik arah. Ketika ditanya, ia hanya mengangguk.

“Yang penting tadi sudah dengar,” katanya singkat.

Tidak semua persoalan selesai dalam satu pertemuan. Namun bagi mereka yang pagi itu berdiri dalam lingkaran, ruang untuk berbicara telah terbuka.

Dan di antara percakapan yang sederhana itu, didengar meski sebentar menjadi awal yang dianggap berarti. (Nik Besitimur)

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP