Ditulis oleh Nik Besitimur, (Jurnalis Kapatanews) sebagai sebuah persembahan sunyi untuk sang penyanyi legendaris, Bapak Ian Ulukyanan
Maluku, Kapatanews.com – Di sebuah sudut tenang di Kepulauan Kei, waktu seperti berjalan lebih lambat dari tempat lain. Angin laut berhembus pelan, menyentuh dinding rumah-rumah sederhana, sementara ombak datang dan pergi tanpa pernah benar-benar berhenti seperti kenangan yang terus hidup, meski tak lagi dipanggil.
Di sanalah Ian Ulukyanan menjalani hidupnya kini.
Tidak ada panggung.
Tidak ada sorot lampu.
Tidak ada tepuk tangan.
Hanya laut, langit, dan sisa-sisa suara yang pernah menggetarkan begitu banyak hati.
Pagi datang dengan cahaya yang lembut. Ian duduk di beranda rumahnya, memandang laut yang luas seperti seseorang yang mencoba membuka kembali halaman hidupnya yang telah lama tertutup. Tangannya terdiam di pangkuan. Wajahnya tenang, tetapi menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata.
Ia tidak menunggu siapapun.
Ia tidak berharap apa pun.
Namun diam-diam, waktu masih menyisakan ruang untuk mengingat.
Dan ingatan itu selalu datang dalam bentuk suara.
Ada masa ketika namanya berdiri tinggi bersama Black Sweet band yang bukan hanya menciptakan lagu, tetapi menciptakan perasaan.
Malam-malam penuh cahaya pernah menjadi rumahnya. Lampu panggung menyala terang, menyorot wajahnya yang muda, penuh keyakinan. Penonton berdesakan, menunggu satu hal suara yang jujur, suara yang tidak dibuat-buat, suara yang terasa seperti milik mereka sendiri.
Ketika ia mulai menyanyikan “Pusara Tak Bernama”, suasana berubah.
Sunyi.
Bukan karena tidak ada suara, tetapi karena semua orang sedang tenggelam dalam perasaan yang sama.
Lalu “Akhir Sebuah Kisah” mengalun, disusul “Lembaran Kisah Lalu” dan “Kau, Aku, dan Dia”. Lagu-lagu itu bukan sekadar musik mereka adalah pasangan hidup yang dinyanyikan kembali.
Ian tidak pernah berusaha menjadi besar.
Ia hanya menjadi jujur.
Dan justru karena itulah, ia menjadi abadi.
Namun tidak ada yang abadi di dunia yang terus bergerak.
Perlahan, gemuruh itu mereda.
Panggung-panggung mulai kehilangan namanya. Dunia musik berubah arah. Generasi baru datang dengan suara baru, dengan cerita baru. Dan tanpa banyak kata, tanpa perpisahan yang jelas, Ian mulai menghilang dari pusat perhatian.
Ia tidak melawan.
Ia tidak memaksa untuk tetap tinggal.
Ia memilih pulang.
Kembali ke Kepulauan Kei tempat di mana hidup tidak diukur dari seberapa keras tepuk tangan, tetapi dari seberapa tenang seseorang bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Hari-harinya kini sederhana.
Terlalu sederhana, mungkin, bagi seseorang yang pernah berdiri di hadapan ribuan orang.
Ia bangun pagi, duduk di beranda, menatap laut. Sesekali membantu pekerjaan rumah, berbicara dengan anak-anaknya, tertawa kecil dalam momen-momen yang tidak membutuhkan penonton.
Kadang, di sore hari, anak-anaknya menyanyikan lagu-lagu lamanya “Oh Nona”, “Terlambat Sudah”, “Untukmu, Ayah dan Ibu”.
Suara mereka tidak sempurna.
Namun cukup untuk menghidupkan sesuatu di dalam dirinya.
Setiap kali itu terjadi, Ian hanya menunduk pelan.
Matanya basah.
Bukan karena ia ingin menangis.
Tetapi karena ia tidak bisa menahan ingatan.
Di kampung itu, tidak banyak yang tahu siapa dirinya.
Ia adalah legenda di sana.
Ia hanyalah seorang ayah yang penyayang.
Seorang lelaki tua yang hidup dengan tenang.
Dan mungkin, itu adalah bentuk kejujuran yang paling murni ketika seseorang tidak lagi dikenali oleh dunia, tetapi tetap dikenali oleh mereka yang paling dekat dengannya.
Namun di tempat lain, kisahnya belum selesai.
Di Tanimbar, seorang lelaki muda menyanyukan lagu “Pusara Tak Bernama” di malam hari, membiarkan air matanya jatuh perlahan tanpa suara. Lagu itu mengingatkannya pada seseorang yang telah lama pergi dan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Di Jakarta, seorang anak muda duduk di tepi jalan, memainkan gitar sederhana, menyanyikan “Akhir Sebuah Kisah”. Ia mengunggahnya ke media sosial. Ribuan orang menonton. Ribuan orang merasa.
Namun tidak satupun dari mereka tahu bahwa suara asli lagu itu kini hidup dalam kesunyian di Kei.
Lagu-lagu seperti “Rintihan Sebuah Hati”, “Kenangan Masa Remaja”, hingga “Nona Si Jantung Hati” terus berjalan, melintasi waktu dan generasi.
Mereka hidup.
Mereka dicintai.
Namun perlahan, mereka menjauh dari penciptanya.
Ironisnya, semakin banyak orang menemukan dirinya dalam lagu-lagu itu, semakin jauh pula nama Ian dari ingatan dunia.
Tidak ada yang datang mengetuk pintunya.
Tidak ada yang berkata, “Suaramu masih menyelamatkan banyak orang.”
Tidak ada yang mengingatkan bahwa ia masih berarti.
Dan mungkin, justru karena itulah luka itu terasa begitu dalam.
Bukan karena kehilangan segalanya.
Tetapi karena tidak pernah tahu bahwa apa yang ia berikan… masih hidup.
Malam adalah waktu yang paling sunyi.
Lampu kecil menyala redup di ruang tengah. Angin laut masuk perlahan, membawa dingin yang tidak bisa ditolak. Sebuah radio tua tergeletak di sudut ruangan, sesekali mengeluarkan suara berdesis.
Lalu tiba-tiba lagu itu terdengar.
“Lembaran Kisah Lalu…”
Ian menoleh.
Perlahan.
Wajahnya tetap tenang.
Namun matanya…
menyimpan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan.
Ia tidak berbicara.
Ia hanya mendengar.
Seperti seseorang yang sedang bertemu kembali dengan dirinya sendiri.
Mungkin ia telah kehilangan panggungnya.
Mungkin dunia telah berjalan terlalu jauh.
Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang
makna.
Di suatu tempat yang tidak ia melihat, seseorang masih bertahan hidup karena lagunya. Seseorang masih menemukan kekuatan dari suaranya. Seseorang masih merasa tidak sendirian karena apa yang pernah dinyanyikan.
Dan tanpa ia sadari, itu adalah bentuk kehidupan yang paling abadi.
Senja turun perlahan di Kepulauan Kei.
Langit berubah warna.
Ombak tetap datang dan pergi.
Dan Ian masih duduk di beranda rumahnya.
Diam.
Memandang laut.
Seolah tidak ada yang berubah.
Padahal, dunia telah berubah begitu jauh.
Namun di antara semua itu, satu hal tetap tinggal
suara.
Suara yang pernah ia berikan dengan jujur.
Suara yang kini hidup dalam ribuan hati.
Suara yang tidak pernah benar-benar pergi.
Dan mungkin, tanpa ia sadari…
Ian Ulukyanan tidak sedang hilang.
Ia hanya sedang hidup
dalam cara yang paling sunyi,
namun paling abadi.
Dan mungkin, di suatu malam yang tidak berbeda dari malam-malam lainnya, ketika angin laut kembali berhembus pelan di Kepulauan Kei, seseorang di tempat yang jauh kembali memutar lagu itu tanpa tahu siapa yang pernah menyanyikannya, tanpa tahu bahwa suara itu kini duduk diam menghadap laut yang sama.
Air mata mungkin kembali jatuh di sana.
Kenangan mungkin kembali hidup.
Dan sebuah hati yang hampir patah mungkin kembali menemukan alasan untuk bertahan.
Namun di Kei, tidak ada yang berubah.
Ian tetap duduk di beranda rumahnya, ditemani senyap yang panjang, tanpa pernah tahu bahwa suaranya masih menjadi rumah bagi begitu banyak perasaan yang tersesat.
Ia tidak mendengar tepuk tangan itu lagi.
Ia tidak melihat wajah-wajah yang dulu memanggil namanya.
Tetapi dunia, diam-diam, masih menyebutnya bukan dengan suara, melainkan dengan perasaan.
Dan selama masih ada satu saja manusia yang memutar lagunya dalam kesendirian, yang menangis dalam diam karena suaranya, yang menemukan dirinya kembali lewat lirik yang pernah dinyanyikan
maka Ian Ulukyanan tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berubah bentuk.
Menjadi kenangan.
Menjadi rasa.
Menjadi sesuatu yang tidak terlihat
tetapi akan selalu tinggal.
Di sebuah coffee yang sederhana di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, malam turun tanpa banyak suara. Lampu kecil menggantung di langit-langit, cahayanya redup, cukup untuk menerangi sebuah keyboard tua yang diletakkan di atas meja kayu yang mulai lapuk dimakan usia.
Seorang anak muda duduk di depannya.
Tubuhnya sedikit membungkuk. Matanya lelah, tetapi tidak ingin terpejam. Ada sesuatu yang terus berputar di dalam kepalanya kenangan, kehilangan, dan perasaan yang tidak pernah benar-benar ia ceritakan kepada siapa pun.
Perlahan, ia menekan satu nada.
Lalu nada berikutnya.
Suara keyboard itu tidak sempurna. Sedikit sumbang di beberapa bagian, tetapi hangat seperti suara yang tidak berusaha menjadi indah, hanya ingin jujur.
Ia menarik nafas panjang.
Lalu mulai bernyanyi
“Akhir Sebuah Kisah…”
Suaranya pelan.
Nyaris seperti bisikan.
Namun setiap kata yang keluar terasa berat, seolah membawa sesuatu yang terlalu lama ia simpan sendiri.
Jemarinya terus bergerak di atas tuts keyboard, mengikuti alur lagu yang telah ia hafal di luar kepala. Lagu itu bukan miliknya. Ia tidak pernah menciptakannya. Namun setiap nada terasa begitu dekat seperti bagian dari hidupnya sendiri.
Di luar rumah, angin malam Tanimbar berhembus perlahan. Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada keramaian kota. Hanya suara laut yang jauh, samar-samar terdengar seperti irama yang mengiringi lagu itu.
Ia menutup matanya.
Dan di situlah semuanya terasa lebih nyata.
Wajah seseorang yang pernah ia cintai muncul perlahan. Tawa yang pernah mengisi hari-harinya. Janji yang dulu terdengar sederhana, tetapi kini terasa mustahil untuk kembali.
Suaranya mulai bergetar.
Namun ia tidak berhenti.
Ia terus bernyanyi.
Karena di dalam lagu itu, ia menemukan sesuatu yang tidak ia temukan di tempat lain.
Bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup.
Bahwa tidak semua cerita berakhir bahagia.
Bahwa kadang, yang tersisa hanyalah kenangan yang harus dipeluk sendirian.
Nada terakhir berhenti.
Jemarinya terdiam.
Ruangan kembali sunyi.
Ia membuka matanya perlahan.
Dan tanpa ia sadari, air mata telah jatuh lebih dulu.
Tidak deras.
Tidak juga tersedu.
Hanya jatuh… diam-diam.
Seperti perasaan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Ia tidak menghapusnya.
Ia membiarkannya ada.
Karena malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa didengarkan meski tidak ada siapa-siapa di sana.
Jauh di Kepulauan Kei, seorang lelaki tua duduk di beranda rumahnya, menatap laut yang gelap tanpa batas. Angin malam menyentuh wajahnya pelan, seperti seseorang yang datang hanya untuk mengingatkan bahwa ia masih ada.
Ia tidak tahu bahwa di Tanimbar, seorang anak muda baru saja menyanyikan lagunya melalui live tiktok.
Ia tidak tahu bahwa suaranya masih hidup di antara generasi yang bahkan tidak pernah mengenalnya.
Ia tidak tahu bahwa di dalam sebuah coffee sederhana, dengan iringan keyboard sederhana, lagunya telah menjadi tempat seseorang bertahan.
Namun mungkin, ia tidak perlu tahu.
Karena di antara dua tempat yang dipisahkan laut dan waktu itu, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh jarak
sebuah lagu yang tetap hidup.
Sebuah rasa yang terus berpindah.
Dan sebuah cerita yang tidak pernah benar-benar selesai.
“Akhir Sebuah Kisah…”
yang ternyata…
tidak pernah benar-benar menjadi akhir.


