Place Your Ad
Place Your Ad
Berita

Pulau Batarkusu Jadi Simbol Kedaulatan, Selaru Didorong Jadi Jantung Industri Petrokimia Timur Indonesia ‎ ‎

×

Pulau Batarkusu Jadi Simbol Kedaulatan, Selaru Didorong Jadi Jantung Industri Petrokimia Timur Indonesia ‎ ‎

Sebarkan artikel ini

Saumlaki, Kapatanews.com – ‎Fungsionaris DPD KNPI Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Doljer Unawekla, menegaskan bahwa Pulau Batarkusu yang berada di Desa Fursuy, Pulau Selaru, merupakan titik penting yang menunjukkan bahwa wilayah Blok Masela adalah bagian sah dari kedaulatan Indonesia, bukan milik Australia.

‎Menurutnya, keberadaan wilayah strategis tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam menentukan arah pembangunan industri hilirisasi migas di Maluku, khususnya di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Kepada media ini Sabtu (23/5) ‎dirinya menyampaikan bahwa hilirisasi petrokimia dari pengelolaan gas abadi Blok Masela seharusnya dibangun di Pulau Selaru, karena memiliki posisi geografis yang sangat strategis dan memberikan dampak ekonomi besar bagi masyarakat Tanimbar.

‎“Hilirisasi petrokimia di Pulau Selaru akan membuka ruang ekonomi yang luas bagi masyarakat. Ini bukan hanya tentang industri gas, tetapi tentang masa depan ekonomi daerah dan kesempatan kerja bagi generasi muda Tanimbar,” ujarnya.

‎Ia menjelaskan bahwa Australia bagian selatan memiliki kawasan pertanian yang sangat luas dan membutuhkan pasokan pupuk dalam jumlah besar. Karena itu, pembangunan industri petrokimia di Pulau Selaru dinilai sangat potensial untuk mendukung ekspor pupuk dan produk agrokimia ke Australia.

‎Menurut Doljer, jarak Pulau Selaru menuju Darwin, Australia Selatan, yang hanya sekitar 455 kilometer menjadi keuntungan strategis dalam distribusi hasil industri petrokimia. Kondisi tersebut dapat menjadikan Selaru sebagai pusat produksi dan ekspor pupuk yang kompetitif di kawasan timur Indonesia.

‎“Jika industri petrokimia dibangun di Selaru, maka hasil produksinya seperti pupuk dapat dengan mudah diekspor ke Australia. Ini peluang strategis yang harus dimanfaatkan pemerintah,” katanya.

‎Selain membuka peluang ekspor, pembangunan industri hilirisasi petrokimia juga diyakini mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar bagi masyarakat lokal, terutama pasca beroperasinya proyek LNG di Lermatang, Yamdena, yang diperkirakan akan mengalami pengurangan tenaga kerja dalam tahap operasional.

‎Doljer menambahkan, industri pengolahan petrokimia di Pulau Selaru nantinya dapat memproduksi berbagai kebutuhan sektor pertanian, seperti pupuk urea, ZA (Zwavelzuur Ammoniak), SP-36, NPK, hingga produk pestisida dan pupuk hayati.

‎Ia menilai, keberadaan industri tersebut akan sangat berperan dalam mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya di Maluku dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

‎“Pembangunan industri petrokimia di Selaru harus menjadi agenda prioritas nasional karena menyangkut pemerataan pembangunan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia,” tutupnya (KN-11)

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP