Saumlaki, Kapatanews.com – Sudah dua pekan lamanya, Pulau Seira terperangkap dalam keheningan digital yang mencekam, setelah jaringan milik Telkomsel mendadak lenyap tanpa penjelasan, meninggalkan warga dalam keterputusan total dari dunia luar yang semakin terasa menekan. Selasa, (28/04/2026).
Ketiadaan jaringan bukan lagi sekadar gangguan biasa, melainkan berubah menjadi krisis sunyi yang menggerogoti kehidupan masyarakat, memutus komunikasi keluarga, menghambat aktivitas ekonomi, dan menciptakan ketidakpastian yang terus membayangi hari-hari warga setempat.
Dalam kegelapan informasi itu, nama seorang penjaga tower mulai mencuat ke permukaan, disebut tidak lagi menjalankan tugasnya secara maksimal akibat hak upah yang belum dibayarkan dalam waktu yang cukup lama.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa persoalan upah tersebut bukan hal baru, melainkan masalah lama yang tidak pernah diselesaikan secara tuntas, hingga akhirnya diduga memicu penurunan tanggung jawab dalam pengelolaan operasional tower di lapangan.
Warga mulai menyadari perubahan mencolok di sekitar tower, yang sebelumnya aktif kini tampak sunyi dan tanpa aktivitas berarti, seolah menjadi tanda diam bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Kondisi ini memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Ada yang menilai sebagai bentuk kelalaian serius, sementara lainnya mulai mencurigai adanya pembiaran yang terjadi secara perlahan namun berdampak besar.
Yang paling mengusik, hingga saat ini tidak ditemukan adanya kerusakan teknis pada perangkat tower, sehingga hilangnya jaringan dalam waktu panjang terasa janggal dan menimbulkan pertanyaan yang belum terjawab.
Fakta tersebut menyeret perhatian pada aspek pengelolaan manusia di lapangan, yang diduga menjadi titik lemah dalam sistem, ketika tanggung jawab operasional tidak dijalankan secara optimal akibat persoalan internal yang dibiarkan berlarut.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa kondisi ini bukan sekadar gangguan biasa, melainkan kegagalan nyata yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada jaringan tersebut.
Warga menilai, persoalan upah yang tidak diselesaikan adalah bom waktu yang seharusnya tidak pernah dibiarkan meledak di tengah pelayanan publik, terutama di daerah terpencil seperti Seira yang akses komunikasinya terbatas.
Selama dua pekan, kehidupan masyarakat berubah drastis. Komunikasi terputus, akses informasi tertutup, hingga kebutuhan darurat menjadi sulit ditangani tanpa adanya jaringan yang berfungsi dengan baik.
Sebagian warga bahkan harus berjalan jauh mencari sinyal di titik tertentu, hanya untuk mengirim pesan penting, sebuah kondisi yang menggambarkan betapa rapuhnya sistem pelayanan yang seharusnya dapat diandalkan setiap saat.
Tekanan masyarakat kini mengarah langsung kepada pihak Telkomsel agar segera membuka penyebab pasti gangguan ini dan melakukan langkah konkret untuk memulihkan jaringan secepat mungkin.
Warga juga menuntut adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan tenaga kerja, karena mereka menilai bahwa kesejahteraan pekerja yang diabaikan dapat berujung pada terganggunya pelayanan publik secara luas.
Lebih jauh, sorotan tajam kini mengarah pada para wakil rakyat di daerah pemilihan dua yang dinilai belum menunjukkan respons cepat terhadap situasi yang semakin memprihatinkan ini.
Masyarakat secara terbuka mendesak Yan Sairdekut dan Jidon Kelmanutu untuk segera turun tangan dan tidak tinggal diam menghadapi persoalan yang merugikan warga secara langsung.
Desakan itu bukan tanpa alasan, karena kedua anggota DPRD tersebut dipilih langsung oleh masyarakat Seira, sehingga memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk memperjuangkan hak dasar warga atas layanan komunikasi.
Warga menilai, diamnya wakil rakyat dalam situasi seperti ini justru memperdalam kekecewaan, seolah suara masyarakat tidak lagi memiliki arti di hadapan mereka yang seharusnya menjadi perpanjangan aspirasi rakyat.
Situasi ini semakin mempertegas bahwa gangguan jaringan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut tata kelola, tanggung jawab, dan keberpihakan terhadap masyarakat yang terdampak langsung.
Namun yang paling disorot tajam, janji kampanye tentang penambahan tower jaringan di wilayah Seira kini dinilai sebagai blunder politik yang nyata, karena hingga saat ini tidak ada realisasi konkret yang dirasakan masyarakat.
Warga mengingat dengan jelas komitmen yang pernah disampaikan saat masa kampanye, ketika isu jaringan dijadikan alat untuk meraih simpati, namun kini justru berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan.
Ketiadaan langkah cepat dan minimnya komunikasi dari para wakil rakyat dinilai memperburuk situasi, seolah memperlihatkan adanya jarak antara janji politik dan tanggung jawab setelah terpilih.
Beberapa warga bahkan menyebut kondisi ini sebagai bentuk kegagalan representasi, di mana aspirasi masyarakat tidak lagi menjadi prioritas utama dalam pengambilan tindakan.
Kritik yang muncul tidak hanya berhenti pada persoalan jaringan, tetapi juga menyentuh integritas politik, di mana janji kampanye dianggap kehilangan makna ketika tidak disertai dengan komitmen nyata.
Dalam situasi ini, masyarakat berharap ada langkah tegas dan terbuka dari para pihak terkait, baik dari legislatif maupun operator jaringan, agar persoalan ini tidak terus berlarut tanpa kepastian.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi yang mampu menjelaskan penyebab pasti hilangnya jaringan tersebut, sementara masyarakat Seira masih menunggu kepastian di tengah sunyi yang belum menunjukkan tanda akan berakhir. (KN-07)


