Oleh : Sammy Sahulata
Ambon,Kapatanews.com -Ada satu pertanyaan yang mungkin terasa tidak nyaman, tetapi perlu kita tanyakan dengan jujur hari-hari ini: Apakah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia di Ambon masih kita jaga sebagai rumah kader atau tanpa kita sadari sudah mulai berubah menjadi arena kepentingan?
Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan siapa pun. Pertanyaan ini adalah panggilan untuk kita semua berhenti sejenak, melihat diri sendiri, dan mengingat kembali dari mana kita datang. Karena kita semua tahu satu hal: GMKI tidak dibangun dengan kepentingan. GMKI dibangun dengan pengorbanan.
Ada generasi sebelum kita yang pernah berjalan jauh hanya untuk menghadiri kegiatan kaderisasi. Ada yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kesempatan hidupnya, demi memastikan bahwa organisasi ini tetap menjadi ruang pembentukan manusia yang beriman, berpikir kritis, dan melayani masyarakat.
GMKI lahir bukan untuk memproduksi kelompok-kelompok yang saling berhadapan tetapi GMKI lahir untuk melahirkan kader-kader yang mampu berdiri bersama. Itulah sebabnya ketika konflik kepentingan mulai terasa di antara para senior, kita sebenarnya sedang diingatkan pada sesuatu yang sangat penting:
bahwa rumah ini terlalu berharga untuk dipertaruhkan oleh ego siapa pun. Perbedaan pandangan bukanlah masalah.
Sejak dulu GMKI hidup dari perbedaan pemikiran, perbedaan pendekatan, bahkan perdebatan yang keras. Tetapi perbedaan itu selalu berakhir pada satu hal: persaudaraan yang lebih kuat. Masalah muncul bukan ketika kita berbeda. Masalah muncul ketika kepentingan mulai lebih besar daripada panggilan.
Senior GMKI seharusnya adalah orang-orang yang menghadirkan keteduhan ketika organisasi sedang panas. Mereka adalah penjaga nilai, pengingat sejarah, dan jembatan yang menyatukan generasi. Senior bukanlah orang yang memperbesar jarak di antara kader, tetapi orang yang merapatkan kembali tangan yang mulai terlepas. Karena itu, saat ini yang dibutuhkan bukanlah pembuktian siapa yang paling benar. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk kembali duduk bersama.
Duduk bukan sebagai kelompok yang saling berhadapan, tetapi sebagai keluarga yang sedang mencari jalan pulang. Mendengar bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk memahami luka dan harapan masing-masing. Berbicara bukan untuk memenangkan perdebatan, tetapi untuk menyelamatkan rumah bersama.
Kita semua pernah dibentuk oleh organisasi yang sama. Kita pernah belajar tentang iman, keilmuan, dan pengabdian. Kita pernah diajarkan bahwa menjadi kader GMKI berarti siap menjadi manusia yang berpikir jernih, berhati besar, dan setia pada panggilan pelayanan. Jika nilai-nilai itu masih hidup dalam diri kita, maka tidak ada konflik yang tidak dapat dipulihkan.
GMKI Ambon tidak boleh menjadi cerita tentang perpecahan para senior. GMKI Ambon harus tetap menjadi cerita tentang persaudaraan yang lebih kuat daripada perbedaan. Karena pada akhirnya sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling keras berbicara. Sejarah akan mengingat siapa yang memilih untuk merawat persaudaraan ketika orang lain hampir kehilangannya.
Rumah ini adalah rumah kita bersama dan rumah bersama hanya akan tetap berdiri kokoh jika setiap orang yang pernah dibentuk di dalamnya memilih satu sikap yang sama, bukan memperlebar perbedaan, tetapi merawat persaudaraan. Sebab GMKI Ambon tidak pernah dibangun untuk kepentingan. GMKI Ambon dibangun untuk panggilan.
Ketika tulisan ini selesai, senja mulai turun pelan di Petani Home. Cahaya matahari perlahan meredup di ufuk Teluk Ambon, seakan mengingatkan bahwa setiap hari selalu punya waktunya untuk berhenti, merenung, dan kembali menata hati. Barangkali kita juga perlu seperti senja itu, berhenti sejenak dari panasnya perdebatan, menurunkan ego, dan melihat kembali rumah yang pernah membesarkan kita. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah siapa yang menang dalam perbedaan tetapi ang paling penting adalah rumah ini tetap berdiri, dan persaudaraan tetap hidup di dalamnya. (Redaksi)


