Ambon, Kapatanews.com – Keluarga Pratu Samuel Wuarlela/Sangadji mendesak Panglima TNI mengusut secara menyeluruh kematian almarhum yang dinilai masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Senin, (31/8/2026).
Desakan tersebut disampaikan Chayas Wuarlela, pihak keluarga Pratu Samuel, setelah keluarga menerima informasi mengenai adanya perbedaan keterangan dalam sejumlah laporan terkait penyebab kematian almarhum.
Menurut Chayas, laporan awal yang diterima keluarga menyebut Pratu Samuel meninggal akibat kecelakaan lalu lintas saat menjalankan tugas di wilayah perbatasan Kalimantan. Namun, dalam proses administrasi berikutnya, keluarga menemukan keterangan berbeda yang menyebut penyebab kematian sebagai sakit.
Perbedaan keterangan itu, kata Chayas, menjadi alasan keluarga meminta institusi TNI membuka kronologi kematian secara menyeluruh. Keluarga juga meminta pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang disebut mengetahui rangkaian kejadian.
Pratu Samuel Wuarlela/Sangadji disebut merupakan prajurit Armed yang bertugas bersama Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonif 645/Gardatama Yudha.
Kronologi Menurut Informasi Keluarga
Berdasarkan kronologi yang diterima keluarga, seorang warga Desa Long Api bernama Beni disebut menjadi pihak pertama yang memberikan informasi mengenai kejadian kepada Pratu Subhi.
Setelah menerima informasi tersebut, Pratu Subhi bersama Prada Gede disebut kemudian mendatangi lokasi kejadian.
“Kami ingin tahu apa yang sebenarnya disampaikan Beni kepada Pratu Subhi, bagaimana kondisi Samuel ketika ditemukan, apa yang dilihat Pratu Subhi dan Prada Gede di lokasi, serta bagaimana kejadian itu kemudian dilaporkan kepada satuan,” ujar Chayas.
Menurut Chayas, keterangan dari pihak-pihak tersebut perlu dibandingkan dengan bukti dan dokumen yang tersedia agar kronologi kematian Pratu Samuel dapat disusun berdasarkan fakta.
Keluarga Pertanyakan Perbedaan Penyebab Kematian
Keluarga juga mempertanyakan perbedaan keterangan mengenai penyebab kematian Pratu Samuel.
Menurut informasi yang diterima keluarga, laporan awal menyebut kecelakaan lalu lintas. Namun, dalam proses administrasi berikutnya muncul keterangan yang menyebut penyebab kematian sebagai sakit.
Chayas mengatakan perbedaan tersebut menjadi salah satu alasan keluarga meminta audit terhadap seluruh dokumen dan laporan yang berkaitan dengan kematian Pratu Samuel.
Keluarga juga meminta pemeriksaan terhadap Riki Vernando, perawat IGD RS Adi Pratama Krayan yang disebut menangani Pratu Samuel.
Dalam informasi yang diterima keluarga, terdapat keterangan mengenai benturan keras pada bagian kepala. Keluarga meminta informasi tersebut diklarifikasi dan dibandingkan dengan catatan medis serta dokumen penanganan di rumah sakit.
“Kami tidak ingin membuat kesimpulan sendiri. Kami hanya meminta semuanya diperiksa berdasarkan bukti medis dan dokumen yang ada,” kata Chayas.
Empat Pihak Diminta Memberikan Keterangan
Keluarga meminta empat pihak dimintai keterangan sesuai pengetahuan masing-masing mengenai rangkaian kejadian tersebut.
Keempatnya ialah Pratu Subhi, Prada Gede, Beni, serta Riki Vernando. Keluarga menyebut Pratu Subhi sebagai personel yang menerima informasi dari Beni, sedangkan Prada Gede disebut bersama Pratu Subhi mendatangi lokasi.
Beni disebut sebagai warga Desa Long Api yang memberikan informasi awal. Sementara Riki Vernando disebut sebagai perawat IGD RS Adi Pratama Krayan yang menangani Pratu Samuel.
Chayas menegaskan permintaan pemeriksaan tersebut bukan tuduhan terhadap pihak tertentu. Menurut dia, keterangan setiap pihak perlu dibandingkan dengan dokumen, bukti medis, dan fakta di lapangan.
Keluarga melalui Chayas Wuarlela menyampaikan lima tuntutan kepada Panglima TNI. Tuntutan tersebut meliputi audit seluruh laporan satuan, pemeriksaan empat pihak yang disebut mengetahui rangkaian kejadian, serta pembukaan kronologi resmi secara transparan.
Keluarga juga meminta visum atau autopsi independen sesuai ketentuan hukum dan medis apabila diperlukan. Selain itu, keluarga meminta akses terhadap dokumen penanganan medis sesuai ketentuan yang berlaku.
Keluarga Minta Penjelasan Transparan
Chayas mengatakan tuntutan keluarga ditujukan untuk memperoleh kejelasan mengenai kematian Pratu Samuel dan bukan untuk menghakimi pihak tertentu.
“Ini soal kehormatan prajurit dan kepercayaan rakyat kepada TNI. Anak kami berangkat atas nama negara. Negara wajib menjelaskan bagaimana dia mati,” tegas Chayas.
Keluarga berharap institusi TNI memberikan penjelasan berdasarkan bukti dan dokumen yang tersedia. Keluarga juga meminta proses pemeriksaan dilakukan secara objektif dan transparan.
Tanggapan TNI atau pihak-pihak yang disebut dalam permintaan pemeriksaan tersebut belum tersedia dalam bahan yang diberikan. (KN-14)



