Lermatang, Saumlaki, Kapatanews.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Blok Masela harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan pemberdayaan pengusaha daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri groundbreaking Proyek LNG Abadi di Desa Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kamis (16/7/2026), yang diresmikan Presiden RI Prabowo Subianto secara virtual dari Istana Kepresidenan, Jakarta.
Bahlil mengatakan pemerintah bersama INPEX telah berkomitmen memprioritaskan tenaga kerja dari wilayah Tier 1, yakni Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Menurutnya, putra-putri daerah yang telah dipersiapkan melalui pendidikan vokasi migas akan diserap untuk bekerja pada proyek tersebut.
“Anak-anak Tanimbar dan Kabupaten MBD sebagian sudah dikirim belajar di Akademi Migas Cepu milik Kementerian ESDM. Mereka nantinya akan diserap untuk bekerja di Proyek Blok Masela,” ujar Bahlil.
Ia juga meminta agar berbagai pekerjaan yang dapat dilaksanakan oleh pelaku usaha setempat diprioritaskan bagi pengusaha lokal sehingga masyarakat menjadi subjek utama dalam pembangunan dan investasi.

Blok Masela Berikan PDB Sekitar USD 137,7 Miliar
Lebih jauh Bahlil menjelaskan Proyek raksasa di sektor migas ini berlokasi sekitar 170-180 km di sebelah barat daya Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Dikembangkan melalui skema cost recovery PSC oleh INPEX Masela Ltd selaku operator dengan kepemilikan saham mayoritas (65%), bermitra strategis dengan PT Pertamina (Persero) (20%) dan Petronas (15%). Nilai investasi proyek ini mencapai USD 20,9 miliar.
Proyek ini dirancang memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA), menyalurkan gas pipa domestik sebesar 150 MMSCFD, serta menghasilkan kondensat sekitar 35.000 barel per hari untuk mendukung kebutuhan energi nasional.
Setelah melalui proses pengembangan selama hampir tiga dekade sejak penandatanganan kontrak pada tahun 1998, proyek ini akhirnya memasuki tahap konstruksi. Hingga awal Juli 2026, progres front end engineering design (FEED) telah mencapai 79,56 persen, melampaui target yang direncanakan, sementara berbagai perizinan strategis dan penyelesaian desain fasilitas utama terus berjalan sesuai jadwal menuju final investment decision (FID) pada akhir 2026.

Berdasarkan kajian LPEM FEB UI memperkirakan proyek ini akan memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar sekitar USD 137,7 miliar hingga 2055. Disertai peningkatan pendapatan negara dan daerah, penciptaan sekitar 12 ribu lapangan kerja langsung pada masa konstruksi, serta memberikan dampak positif terhadap penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran, khususnya di Provinsi Maluku.
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, LNG Abadi Masela juga menjadi proyek LNG pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi carbon capture and storage (CCS) sejak tahap pengembangan. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengembangkan sektor energi yang berdaya saing sekaligus lebih ramah lingkungan untuk mendukung transisi energi nasional (KN-07)


