Ambon,Kapatanews.com – Suhu politik Maluku mulai menghangat, meski pilgub maluku kurang lebih masih tiga tahun lagi, diskusi warung kopi, grup WhatsApp, hingga ruang kampus sudah ramai membicarakan nama-nama bakal calon.
Di tengah dominasi tiga ketua partai HL, AV, dan BGW, satu nama kini mencuat jadi pusat perhatian: FCT.
Adapun Febry Calvin Tetelepta (FCT ) jadi perbincangan:
1. Fenomena Kuda Hitam
Publik Maluku mulai jenuh dengan wajah politik lama. Tiga ketua partai dianggap sebagai representasi elit. FCT hadir dengan citra berbeda: bukan produk karbitan partai, melainkan figur yang namanya naik karena kedekatannya dengan rakyat.
2. Kekuatan Modal Sosial
Besarnya nama FCT bukan sebatas karena pernah menjabat sebagai deputi satu KSP bidang infrastruktur dan energi tetapi murni kedekatannya dengan rakyat baik itu berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung di setiap hajatan hajatan besar keagamaan (Islam maupun kristen) sehingga tingkat kecintaan rakyat terhadapa FCT makin tinggi di seantero kepulauan maluku.
Elektabilitas yang tumbuh dari bawah ini menjadi ancaman nyata bagi mesin partai besar.
3. Manuver Politik yang Mengejutkan
Langkah FCT bergabung dengan PSI memecah kebuntuan. Pada Pemilu 2024, PSI belum jadi kekuatan besar di Maluku. Namun bergabungnya Presiden ke-7 Joko Widodo ke PSI mengubah persepsi. Publik menilai FCT sedang menyiapkan kendaraan tempur yang serius, bukan sekadar coba-coba.
4. Bekal Pengalaman Nasional
Rekam jejak FCT sebagai mantan Deputi I Kantor Staf Presiden Bidang Infrastruktur dan Energi menjadi pembeda utama. Ketika calon lain menawarkan janji, FCT bisa menawarkan pengalaman mengelola program strategis . Ini jadi daya tarik bagi pemilih rasional dan kalangan profesional.
DAMPAK PADA KONSTELASI POLITIK 2031
1. Lahirnya Poros Keempat
Jika sebelumnya peta hanya diisi pertarungan HL, AV, dan BGW, kini muncul poros baru: FCT melawan arus elit. Narasi ini mengubah kerangka pertarungan dari “partai vs partai” menjadi “figur rakyat vs elit partai”.
2. Pemilih Muda Menemukan Saluran
Isu yang konsisten diangkat FCT seperti pembangunan SDM, lapangan kerja, dan ruang anak muda, sangat relevan dengan kegelisahan Gen Z dan Milenial. Kelompok yang selama ini apatis kini punya figur untuk disalurkan aspirasinya.
3. Elit Politik Mulai Berhitung Ulang
Sejumlah elite partai besar mulai melirik FCT. Kalkulasinya sederhana: daripada berhadapan, lebih aman jika dirangkul. Ini sinyal bahwa peta koalisi menuju 2030 masih sangat cair.
TANTANGAN YANG DIHADAPI FCT
Popularitas tidak otomatis jadi kemenangan. FCT punya tiga pekerjaan rumah besar:
1. Infrastruktur Partai vs Popularitas Personal. Tiga ketua partai punya struktur DPC hingga ranting yang solid. FCT harus membuktikan PSI Maluku mampu bekerja setara partai mapan.
2. Antisipasi Serangan Politik. Semakin populer, serangan akan makin gencar. Isu pengalaman di partai hingga loyalitas pasti dimainkan lawan.
3. Konsistensi Narasi “Biking Bae Maluku”. Publik menunggu aksi nyata, bukan sekadar slogan. FCT wajib menjaga kedekatan dengan rakyat hingga hari pemilihan.
MALUKU MENCARI CERITA BARU
Memanaskannya peta politik Maluku bukan karena rebutan proyek, tapi karena rakyat mulai bertanya: “Sudah sering dipimpin ketua partai, apakah Maluku jadi lebih baik ?”.
Naiknya nama FCT ke permukaan adalah cerminan kerinduan publik akan figur baru. Figur yang tidak hanya dikenal tetapi juga dicintai oleh seluruh rakyat Maluku.
Pilgub 2030 masih jauh. Namun satu hal yang pasti: Hari ini konstelasi politik Maluku tidak akan sama lagi sejak FCT Menjadi Figur yang diperbincangkan publik (KN-02)



