By: Dr. Hobarth Williams Soselisa .S.Sos,M.Si
Ambon,Kapatanews.com – Pohon beringin, dalam mitologi politik Golkar, selalu digambarkan sebagai pohon besar yang meneduhi dan berakar kuat. Namun pohon yang terlalu lama berdiri sering lupa bahwa akarnya butuh disiram, bukan sekadar dipajang di baliho dan spanduk kampanye.
Di Ambon, wacana suksesi Ketua DPD II Golkar Kota Ambon kini membawa nama yang akrab dengan ingatan publik: Ely Toisutta, perempuan yang hari ini menjabat Wakil Wali Kota Ambon dan tengah mengantarkan dokumen dukungannya untuk memimpin partai berlambang pohon beringin itu siang tadi.

1. Jejak yang Berbicara Sendiri
Sebelum menilai narasi, pendekatan akademik menuntut kita menengok rekam jejak. Ely Toisutta memulai afiliasi politiknya sebagai kader Golkar sejak 1998, lalu merintis karier dari Bendahara Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Ambon (2014–2017), Wakil Ketua DPRD (2017–2019), hingga Ketua DPRD Kota Ambon periode 2019–2024—jabatan yang mencatatkan dirinya sebagai perempuan pertama yang memimpin DPRD Kota Ambon.
Pada Pilkada 2024, ia terpilih mendampingi Bodewin Wattimena dan dilantik sebagai Wakil Wali Kota Ambon. Pada 20 Februari 2025. Sejak Juni 2026, ia dipercaya DPD I Golkar Maluku sebagai Pelaksana Tugas Ketua DPD II Golkar Kota Ambon, menjelang Musyawarah Daerah ke-X yang dijadwalkan 8 Oktober 2026 harus dilihat sebagai kurva, bukan garis lurus, jabatan Wakil Wali Kota bukan loncatan tiba-tiba, melainkan puncak sementara dari tangga karier yang dirajut lebih dari dua dekade.
2. Ketika Beringin Belajar Menyapa
Jika beringin bisa bicara, ia mungkin mengeluh karena terlalu lama dipuja sebagai lambang, tetapi jarang disentuh sebagai makhluk hidup yang butuh akar menjalar ke tanah warga. Disinilah tawaran kepemimpinan Ely Toisutta menemukan relevansinya: membenahi manajemen partaidari kelurahan hingga kota, menghidupkan sekolah kader, dan membuka DPD II sebagai rumah bagi perempuan, pemuda, dan simpatisan lintas latar belakang.

Bagi generasi milenial, ia menawarkan sosokyang tidak antik teknologi—aktif di media sosial, namun tetap menjejak kuat di lorong-lorong warga ketimbang sekadar berswafoto di podium.
3. Basis Dukungan yang Terverifikasi
Narasi ini tidak berdiri sendiri. Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) dan Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Kota Ambon lebih dulu menyatakan sikap, diikuti organisasi pendiri Golkar seperti Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) dan Kosgoro 1957 Kota Ambon. Tokoh senior partai turut menegaskan rekam jejaknya di legislatif maupun eksekutif telah teruji .
Posisinya sebagai Plt Ketua DPD II sejak Juni 2026 memberinya akses konsolidasi internal yang tidak dimiliki figur lain. Jika seluruh elemen ini bermuara pada satu suara di arena Musda, hasilnya secara teknis adalah aklamasi—mekanisme yang lazim ketika hanya tersisa satu bakal calon yang memenuhi syarat.
Secara teoretis,calon tunggal dapat dilihat dan dipahami sebagai bukti soliditas kader yang menuntut perubahan sehingga beringin tetap menjadi dahan yang rindang untuk berteduh sambil membuat dan menyusun rencana strategis mendapat kembali simpati rakyat untuk berjuang bersama Golkar.

Yang harus dilihat dan perlu dicermati bahwa sejumlah Ketua DPC Golkar tingkat kecamatan di Kota Ambon telah memberi restu untuk mendukung Ely Toisutta pada Musda DPD II ini. Hal ini perlu dilihat sebagai legitimasi proses, bukan legitimasi personal sang calon. Dukungan total yang lahir dari konsolidasi struktural sah secara prosedural, menjadi soliditas yang paripurna sebagai preferensi organik akar rumput yang mumpuni.
4. Beban yang Mengikuti Kemenangan Tanpa Lawan
Jika benar seluruh hak suara bermuara pada Ely Toisutta, setidaknya dua implikasi layak diperhitungkan secara komprehensif. Pertama, legitimasi formal-institusional akan sangat kuat karena tidak ada basis kompetisi yang bisa menggugat hasil Musdasecara hukum partai. Kedua, beban akuntabilitas justru meningkat: kepemimpinan tanpa kompetisi menghilangkan alasan untuk menunda realisasi janji—pembenahan manajemen partai dari kelurahan hingga kota, penguatan sekolah kader, dan keterbukaan bagi perempuan serta pemuda—sebab tidak ada lagi rival yang bisa disalahkan atas kegagalan program.
Pada akhirnya, beringin tidak tumbuh dari pidato, melainkan dari akar yang dirawat setiap hari. Jika Ely Toisutta benar-benar mendapat mandat memimpin DPD II Golkar Kota Ambon pada Musda 8 Oktober mendatang, ujian sesungguhnya bukan pada hari pelantikan, melainkan pada seberapa dalam akar itu kembali menancap di tanah rakyat kecil (Redaksi)



