Oleh : Hobarth Williams Soselisa.
Ambon,Kapatanews.com – Maluku sedang berbicara. Dengan suaranya yang lembut namun dalam, ia seperti ingin mengingatkan warganya agar tidak terburu-buru menilai, tidak mudah goyah oleh suara-suara yang memekakkan telinga, dan tidak silau oleh retorika yang menamakan diri “kebenaran publik.” Dalam hembusan angin politik yang tak menentu, Maluku sesungguhnya sedang belajar. Ia belajar mengenali dirinya sendiri: siapa yang bekerja dengan tulus, siapa yang menanam benih perpecahan.“Ketika kerja keras tidak dihargai, saat itu kita belajar ketulusan.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral; ini adalah cermin yang memantulkan suasana pemerintahan HL hari-hari ini. Banyak hal sedang dikerjakan dalam diam.
Infrastruktur yang berproses, birokrasi yang terus menata diri, dan langkah-langkah kecil yang dirancang untuk memperkuat pelayanan publik. Namun, sebagaimana kerja akar di dalam tanah, hasilnya tak selalu segera tampak di mata. Publik kerap menuntut bukti instan, sementara pemerintahan sedang berjuang menjaga ketulusan di tengah badai ketidakpercayaan. Pemerintahan, sebagaimana manusia, punya rasa lelah dan harapannya sendiri. Ia bekerja bukan hanya untuk menuntaskan proyek, tetapi juga untuk menegakkan marwah daerah. Ketika sebagian orang menilai upaya itu tak penting, sesungguhnya publik lah yang sedang diajak belajar keikhlasan.
Belajar bahwa pembangunan adalah proses panjang, bukan hasil sekejap. Belajar bahwa kesungguhan tidak selalu tampak dari kata-kata yang keras, tetapi dari langkah-langkah yang konsisten, sabar, dan tahan uji. HL—dalam perannya sebagai nahkoda Maluku—tidak sedang berjalan di jalan yang mudah. Kritik datang silih berganti, terkadang tajam, bahkan menyakitkan. Namun dalam badai politik yang mengguncang, ia tampak berupaya untuk tidak menjadikan caci maki sebagai beban, tetapi sebagai bahan bakar untuk bekerja lebih tenang. Ia tahu, setiap kebijakan membutuhkan waktu untuk berbuah; setiap pembenahan menuntut kesabaran publik. Karena itu, seperti seorang guru yang sabar, ia memilih untuk terus “mengajar” lewat contoh daripada seruan. Di sinilah publik
Maluku perlu membuka mata hati dan akal sehat. Banyak suara yang mengatasnamakan kekecewaan rakyat, padahal tak sedikit digerakkan oleh motif pribadi, bahkan radikalisme pemikiran yang menolak segala bentuk otoritas. Padahal, “pemerintah” bukanlah sosok asing di seberang sana; ia adalah bagian dari kita. Pemerintah lahir dari kehendak publik, dibentuk oleh proses demokrasi yang kita sepakati bersama. Ketika kita menghujat secara berlebihan tanpa arah solusi, sesungguhnya kita sedang melukai diri sendiri.“Ketika hati terluka karena tersakiti, saat itu kita belajar memaafkan.” Maluku pernah dan mungkin masih sering terluka oleh gesekan kepentingan, oleh kegaduhan sosial yang membelah rasa kebersamaan. Karena itu, memaafkan menjadi langkah moral yang paling sulit, namun paling dewasa.
Pemerintahan HL pun sedang belajar memaafkan—terhadap tuduhan yang tidak berdasar, terhadap sikap-sikap sinis yang menafikan niat baik. Tetapi lebih penting lagi, masyarakat juga sedang diajak untuk belajar memaafkan: memaafkan masa lalu yang berat, memaafkan kekeliruan yang pernah terjadi, dan membuka ruang bagi pembaruan.“Ketika terbersit lelah dan kecewa, saat itu kita belajar kesungguhan.” Kalimat ini terdengar seperti bisikan dari Maluku sendiri kepada anak-anaknya. Bahwa dalam setiap periode pemerintahan, ada masa sulit yang harus dilalui dengan kesungguhan hati. Bukan dengan putus asa, tapi dengan tekad untuk memperbaiki. HL dan seluruh perangkat daerahnya sedang diajak untuk terus belajar konsistensi; untuk menjadikan kebijakan bukan sekadar dokumen, melainkan tindakan nyata di lapangan—dari pulau ke pulau, dari desa ke desa.
Dalam konteks kebijakan, arah pemerintahan HL sebenarnya menunjukkan fondasi perencanaan pembangunan yang lebih inklusif dan berorientasi ke kesejahteraan wilayah kepulauan. Namun pesan itu sering tenggelam oleh riuhnya perdebatan di ruang publik. Di sinilah tugas jurnalisme reflektif hadir: mengembalikan percakapan publik kepada kesadaran moral dan rasional. Bahwa pemerintahan bukan pertunjukan, melainkan proses. Bahwa niat baik membutuhkan dukungan, bukan kecurigaan.Maluku membutuhkan publik yang bijak—masyarakat yang bisa menilai kinerja tanpa kehilangan empati. Karena tidak ada pembangunan yang berhasil tanpa partisipasi dan kepercayaan publik.
HL mungkin hanyalah satu bab dalam sejarah panjang kepemimpinan Maluku, tetapi dari bab inilah kita bisa belajar tentang arti ketulusan: bekerja dalam sunyi, tetap tegak di tengah kritik, dan terus memupuk keyakinan bahwa masa depan Maluku bukan di tangan seseorang, melainkan di hati kita semua. Maka marilah kita belajar, seperti yang diucapkan ungkapan luhur itu. Belajar ketulusan saat kerja keras tak dihargai, belajar keikhlasan saat usaha dianggap tak penting, belajar memaafkan saat tersakiti, dan belajar kesungguhan kala lelah menghampiri. Karena mungkin, justru di tengah dinamika pemerintahan HL inilah, Tuhan sedang mengajar Maluku — tentang bagaimana menjadi rumah yang besar, sabar, dan tetap berpengharapan Par Maluku Pung Bae (Redaksi)




