Brigif 27/Nusa Ina menyatakan proses pembersihan area latihan mortir masih berlangsung saat insiden terjadi. Pemberitahuan kegiatan latihan disebut sebelumnya telah disampaikan kepada pemerintah desa serta tokoh masyarakat di wilayah tersebut.
Saumlaki, Kapatanews.com – Pihak TNI memberikan klarifikasi terkait peristiwa ledakan granat yang terjadi di sebuah rumah warga di Desa Atubul Dol, Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Minggu malam, 15 Maret 2026 sekitar pukul 22.15 WIT.
Insiden tersebut menimbulkan duka bagi masyarakat setempat karena mengakibatkan dua warga meninggal dunia serta beberapa orang lainnya mengalami luka-luka akibat serpihan ledakan. Peristiwa itu juga memicu perhatian publik mengenai asal-usul bahan peledak yang berada di lingkungan pemukiman warga.
Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) 27/Nusa Ina, Kolonel Inf Sri Widodo, menyampaikan belasungkawa atas musibah yang menimpa warga dalam peristiwa tersebut. Ia mengatakan pihaknya turut prihatin dan langsung melakukan langkah-langkah penanganan setelah menerima informasi mengenai kejadian itu.
Menurut Sri Widodo, sejak laporan mengenai ledakan diterima, pihaknya segera berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan unsur terkait lainnya untuk memastikan situasi di lapangan serta melakukan langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah potensi bahaya lanjutan bagi masyarakat sekitar.
Ia menjelaskan bahwa dugaan sementara menyebutkan granat yang meledak tersebut kemungkinan berkaitan dengan sisa amunisi latihan militer yang belum meledak secara sempurna. Namun demikian, pihaknya menegaskan bahwa hal tersebut masih dalam proses pendalaman oleh tim teknis.
Prosedur Pengecekan Sisa Amunisi
Sri Widodo menjelaskan bahwa dalam setiap kegiatan latihan menembak yang dilaksanakan oleh satuan militer, selalu terdapat prosedur pengecekan terhadap sisa-sisa amunisi yang telah ditembakkan guna memastikan seluruh amunisi yang digunakan tidak lagi berpotensi membahayakan.
Menurutnya, setelah kegiatan latihan menembak selesai, tim teknis akan melakukan pemeriksaan akhir terhadap area sasaran tembakan. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk memastikan apakah seluruh amunisi telah meledak atau masih terdapat amunisi yang belum meledak.
“Setiap hari setelah kegiatan menembak selesai, kami melaksanakan pengecekan akhir terhadap sisa-sisa tembakan yang telah ditembakkan. Kami memeriksa mana yang sudah meledak dan mana yang kemungkinan belum meledak,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan pembersihan area latihan merupakan bagian penting dari standar operasional prosedur militer. Proses tersebut dilakukan secara bertahap oleh tim teknis yang memiliki keahlian khusus dalam penanganan amunisi dan bahan peledak.
Latihan Mortir di Lokasi Kejadian
Sri Widodo menjelaskan bahwa wilayah yang menjadi lokasi kejadian sebelumnya digunakan oleh Yonif 734 sebagai area latihan menembak mortir. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program latihan rutin satuan guna meningkatkan kemampuan tempur dan kesiapsiagaan prajurit dalam menjalankan tugas di lapangan.
Latihan tersebut dilaksanakan pada tanggal 8 hingga 9 Maret 2026 dengan menggunakan sejumlah amunisi latihan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program latihan yang dilakukan secara berkala oleh satuan militer di wilayah tersebut.
Berdasarkan pencatatan tim teknis yang bertugas selama kegiatan latihan berlangsung, jumlah amunisi yang ditembakkan dalam latihan tersebut tercatat sebanyak 198 butir amunisi mortir yang diarahkan ke sasaran latihan yang telah ditentukan sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 197 butir dinyatakan meledak sesuai dengan prosedur penembakan yang dilaksanakan oleh satuan militer. Sementara satu amunisi tercatat mengalami misfire atau macet di laras saat proses penembakan berlangsung.
Proses Pembersihan Masih Berlangsung
Sri Widodo menjelaskan bahwa setelah kegiatan latihan menembak selesai dilaksanakan, tim teknis langsung melakukan pembersihan awal di area sasaran tembakan untuk memastikan tidak ada amunisi yang masih tertinggal di lokasi latihan tersebut.
Namun ia menegaskan bahwa hingga saat insiden ledakan terjadi, proses pembersihan area latihan sebenarnya masih berlangsung dan belum selesai sepenuhnya dilaksanakan oleh tim teknis yang bertanggung jawab melakukan pemeriksaan lapangan.
“Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini kegiatan pembersihan masih berlangsung sehingga kami belum dapat menyatakan bahwa daerah tersebut benar-benar aman atau clear dari sisa amunisi,” ujar Sri Widodo dalam keterangannya.
Karena proses pembersihan tersebut belum selesai sepenuhnya, pihaknya juga belum mengeluarkan surat resmi yang menyatakan bahwa lahan latihan tersebut telah aman untuk kembali digunakan oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.
Dugaan Sisa Amunisi
Sri Widodo menjelaskan bahwa hingga saat ini pihaknya belum dapat memastikan secara pasti apakah granat yang meledak di rumah warga tersebut merupakan sisa amunisi dari latihan yang dilaksanakan pada bulan Maret tahun ini.
Menurutnya, kemungkinan lain yang sedang ditelusuri adalah apakah amunisi tersebut merupakan sisa dari latihan mortir yang sebelumnya pernah dilaksanakan di wilayah yang sama pada bulan Desember tahun lalu oleh satuan militer.
“Dengan ditemukannya beberapa amunisi yang masih tersisa di lapangan, kami belum dapat memastikan apakah itu berasal dari latihan bulan Maret atau dari latihan yang dilaksanakan pada bulan Desember sebelumnya,” katanya.
Untuk memastikan asal-usul amunisi tersebut, tim teknis saat ini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut serta melakukan penyisiran tambahan di area latihan guna memastikan tidak ada lagi amunisi yang tertinggal.
Penyisiran Ulang Area Latihan
Setelah kejadian ledakan yang menimpa warga tersebut, pihak TNI langsung melakukan penyisiran ulang di sekitar area latihan untuk memastikan tidak ada lagi sisa amunisi yang belum meledak dan berpotensi membahayakan masyarakat.
Penyisiran awal dilakukan pada radius sekitar 100 meter dari titik sasaran tembakan yang digunakan dalam kegiatan latihan mortir sebelumnya oleh satuan Brigif 27/Nusa Ina yang melaksanakan latihan di wilayah tersebut.
Dalam penyisiran awal tersebut, tim teknis menemukan sedikitnya empat amunisi yang belum meledak dan masih berada di sekitar area sasaran latihan yang sebelumnya digunakan dalam kegiatan latihan menembak mortir.
Sri Widodo menjelaskan bahwa proses penyisiran dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu menggunakan metal detector serta penyisiran manual yang dilakukan secara bertahap oleh prajurit di lapangan.
Koordinasi dengan Pemerintah Desa
Terkait kegiatan latihan militer di wilayah tersebut, Sri Widodo menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pemberitahuan kepada pemerintah desa sebelum kegiatan latihan dilaksanakan oleh satuan militer.
Menurutnya, surat pemberitahuan penggunaan lahan latihan telah disampaikan kepada Kepala Desa Amdasa dan Kepala Desa Amtufu sebagai bentuk koordinasi resmi antara pihak militer dan pemerintah desa setempat.
Selain pemberitahuan secara tertulis, pihak militer juga melakukan komunikasi langsung dengan sejumlah tokoh masyarakat yang berada di sekitar lokasi latihan guna memastikan masyarakat mengetahui adanya kegiatan latihan militer tersebut.
Sri Widodo mengatakan langkah koordinasi tersebut dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman di masyarakat serta memastikan warga mengetahui adanya aktivitas latihan militer yang berlangsung di wilayah mereka.
Imbauan kepada Masyarakat
Sri Widodo mengimbau masyarakat agar untuk sementara waktu tidak memasuki area latihan hingga proses pembersihan seluruh sisa amunisi benar-benar selesai dilaksanakan oleh tim teknis yang bertugas di lapangan.
Ia juga meminta masyarakat untuk segera melaporkan kepada aparat terdekat apabila menemukan benda asing yang tidak dikenal di lingkungan sekitar mereka yang diduga merupakan sisa amunisi atau bahan berbahaya lainnya.
Menurutnya, benda yang tidak dikenal tersebut bisa saja merupakan sisa amunisi yang belum meledak dan masih memiliki potensi bahaya apabila disentuh atau dipindahkan oleh masyarakat tanpa penanganan pihak yang berwenang.
Bantuan kepada Korban
Sri Widodo menyampaikan bahwa pihak TNI memiliki tanggung jawab moral terhadap keluarga korban yang terdampak dalam peristiwa ledakan tersebut, baik terhadap korban yang meninggal dunia maupun korban yang masih menjalani perawatan.
Menurutnya, pihak TNI telah membantu proses penanganan korban yang dirawat di rumah sakit dengan memfasilitasi kebutuhan pengobatan melalui skema yang tersedia serta dukungan lainnya kepada keluarga korban.
Selain itu, pihak TNI juga membantu proses pemakaman korban yang meninggal dunia sebagai bentuk kepedulian serta empati terhadap keluarga yang mengalami musibah akibat insiden tersebut.
Evaluasi Lokasi Latihan
Sri Widodo juga menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap penggunaan lahan latihan militer yang selama ini masih memanfaatkan lahan milik masyarakat di sejumlah wilayah karena keterbatasan fasilitas latihan yang tersedia.
Ke depan, pihaknya berharap dapat berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait untuk mencari lokasi latihan militer yang lebih permanen sehingga kegiatan latihan tidak lagi dilaksanakan di area yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat.
Menurutnya, penyediaan lokasi latihan khusus sangat penting agar kegiatan latihan militer dapat berjalan dengan aman tanpa menimbulkan potensi risiko bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah latihan.
Pihak TNI menegaskan bahwa proses penyisiran dan pembersihan area latihan masih terus dilakukan hingga seluruh area dinyatakan benar-benar aman dari sisa amunisi yang berpotensi membahayakan masyarakat di sekitar lokasi latihan tersebut. (KN-07)




