Place Your Ad
Place Your Ad
Iklan

Iklan
Opini

Mengakhiri Fitnah Politik Di Bumi Raja-Raja Melalui Momen Kepulangan Idul Fitri

×

Mengakhiri Fitnah Politik Di Bumi Raja-Raja Melalui Momen Kepulangan Idul Fitri

Sebarkan artikel ini
Iklan

Oleh : Hobarth Williams Soselisa.

Ambon,Kapatanews.com –  Bagi manusia yang hidupnya terus bergerak, adakah saat yang lebih dirindukan daripada waktu untuk pulang? Di balik rutinitas kerja, hiruk-pikuk kota, serta ketegangan politik yang menyita emosi, kita menyimpan kerinduan akan suatu “asal” yang menenteramkan. Dalam tradisi keagamaan, manusia dipahami sebagai makhluk yang berasal dari Yang Ilahi dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Di saat yang sama, kita juga lahir dari tanah, negeri, dan kampung yang membentuk identitas serta rasa memiliki. Karena itu, Idul Fitri dapat dibaca sebagai momen ketika kerinduan pulang—ke “langit” dan ke “tanah”—diraikan sekaligus.

Scroll Keatas
Iklan
Scroll Kebawah

Kesibukan sehari-hari, tuntutan ekonomi, dan arus budaya konsumtif sering membuat manusia lupa bahwa ia pada hakikatnya hanyalah perantau yang sedang singgah. Dalam beberapa tahun terakhir, kita pun menyaksikan bagaimana perbedaan pilihan politik menambah beban batin, menajamkan kecurigaan, bahkan memecah keluarga dan tetangga. Media sosial dan ruang-ruang percakapan kita mudah berubah menjadi arena saling menghina, menyebar kabar bohong, dan merendahkan martabat orang lain, termasuk terhadap pemimpin yang sedang diamanahkan untuk memerintah. Segala hal yang bersifat material dan politis—jabatan, kuasa, dukungan elektoral—akhirnya menjadi seperti “tuhan-tuhan kecil” yang menggeser orientasi jiwa dari kebenaran dan keadilan.

Puasa Ramadhan hadir sebagai jeda untuk menjernihkan kembali kesadaran ini. Pengendalian diri dari makan, minum, dan aneka kesenangan bukan dimaksudkan untuk menyiksa tubuh, melainkan untuk membangunkan jiwa dari kantuk spiritual yang disebabkan nafsu, termasuk nafsu kekuasaan dan permusuhan. Melalui doa, tilawah, dan amal kebaikan, hati ditempa menjadi bagaikan cermin yang dilap dan dibersihkan. Ketika cermin itu jernih, pancaran kehadiran Ilahi lebih mudah dirasakan, dan manusia dapat bercermin untuk melihat siapa dirinya, dari mana ia datang, serta ke mana ia seharusnya menuju.  Dalam keadaan demikian, sulit rasanya mempertahankan kebencian, dengki, dan fitnah sebagai gaya hidup. Idul Fitri tidak berhenti sebagai hari libur, melainkan menjadi puncak pengalaman spiritual yang menuntut koreksi cara kita berpolitik dan bernegara.

Sepanjang tahun, para perantau kehidupan bergulat mengejar rezeki dan berkah, bagaikan tanah yang menerima hujan dari langit. Tetapi air hujan tidak dimaksudkan untuk tertahan di satu titik. Dalam hukum alam, air akan meresap melalui akar, memunculkan mata air, kemudian mengalir menyusuri sungai hingga ke wilayah-wilayah yang jauh dan kering. Gambaran ini menolong kita memahami peran manusia di hadapan berkah yang diterima: rezeki, ilmu, kesempatan memimpin, dan amanah pemerintahan bukan untuk ditimbun atau dijadikan bahan olok-olok, melainkan diolah sebagai sumber kehidupan bersama. Di Bumi Raja-raja, di mana pemerintahan daerah sedang berupaya menjalankan program pembangunan, tradisi fitnah dan delegitimasi tanpa dasar hanya akan mengeruhkan aliran “air kehidupan” menuju rakyat kecil yang sesungguhnya membutuhkan stabilitas dan kerja sama.

Dalam konteks itu, Idul Fitri juga adalah undangan untuk bertobat secara sosial-politik. Mereka yang memegang kekuasaan diajak untuk mengoreksi diri: apakah kebijakan sudah berpihak kepada keadilan, apakah komunikasi dengan rakyat terjaga, apakah kritik dijadikan bahan perbaikan? Namun pada saat yang sama, warga juga dipanggil untuk jujur menilai: apakah perbedaan pilihan politik telah berubah menjadi izin untuk membenci, memelihara dendam, dan memproduksi fitnah? Di banyak sudut Maluku—dari Ambon, Seram, Lease, hingga pulau-pulau kecil di tenggara sampai tenggara jauh—kita mengenal pela gandong, sasi, dan berbagai pranata adat yang menekankan persaudaraan dan saling jaga.

Tradisi luhur ini bertentangan dengan budaya saling menjatuhkan yang kini mudah menyusup lewat isu politik. Di Bumi Raja-raja, rumah-rumah ibadah berdiri sebagai penanda bahwa iman dan adat seharusnya bergandengan tangan memelihara ruang hidup bersama. Merayakan Idul Fitri di sini berarti merawat ingatan bahwa kita semua, apa pun agama dan pilihan politik, berasal dari rahim kemanusiaan yang sama serta berbagi bumi dan laut yang sama. Sukacita dan silaturahmi Idul Fitri karenanya tidak boleh dipersempit menjadi selebrasi kelompok tertentu. Ia adalah kesempatan untuk menjembatani jurang yang sempat menganga: berjabat tangan dengan mereka yang berbeda pandangan, mengakui kekeliruan ketika pernah menyebar kabar bohong, dan bersepakat untuk memajukan negeri di atas kepentingan sesaat.

Gema takbir yang mengisi malam Idul Fitri dapat dimaknai sebagai senandung kepulangan. Di sana manusia mengakui kebesaran Tuhan dan keterbatasan diri, termasuk keterbatasan penilaian kita terhadap pihak lain. Bingkisan yang dibawa pulang untuk orang tua, sanak saudara, dan tetangga bukan sekadar hadiah materi, tetapi simbol kesediaan untuk membagi “air kehidupan”: rezeki, perhatian, dan sikap menghargai. Di kampung-kampung pesisir maupun di lorong-lorong kota, senyum, pelukan, dan permohonan maaf menjadi tanda bahwa hubungan yang sempat retak akibat perbedaan politik sedang dipulihkan.

Pada akhirnya, Idul Fitri adalah momen “dilahirkan kembali” sebagai pribadi yang menang—bukan menang menyingkirkan lawan, melainkan menang menaklukkan kebencian, kedengkian, dan godaan untuk memfitnah. Kemenangan itu menjadi nyata ketika kita berani mengatakan: cukup sudah perpecahan karena politik, mari kembali menata Bumi Raja-raja dengan akal sehat, hati yang jernih, dan keinginan tulus untuk melihat semua warga hidup lebih baik.
Dengan demikian, kepulangan Idul Fitri menjadi pintu menuju masa depan Maluku yang lebih damai, di mana sukacita, kebahagiaan, dan kedamaian Ilahi dirasakan bersama, dari pusat kota hingga ke pelosok pulau-pulau kecil hanya dalam satu kalimat : Par Maluku Pung Bae (Redaksi)

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP