Saumlaki, Kapatanews.com – Malam di Laut Ngolin, Pulau Seira, tidak lagi hanya dipenuhi suara ombak dan perahu nelayan tradisional. Dalam beberapa bulan terakhir, perairan yang selama ini menjadi sumber hidup masyarakat itu disebut berubah menjadi jalur operasi 104 kapal yang diduga memburu telur ikan terbang secara ilegal. Di tengah gelap laut, aktivitas itu disebut berlangsung nyaris tanpa rasa takut. Minggu, (17/05/2026).
Berdasarkan hasil penelusuran lapangan yang dilakukan sejumlah pemuda Seira Blawat, sedikitnya terdapat dugaan sekitar 104 kapal yang keluar masuk wilayah Laut Ngolin dengan dokumen yang dipertanyakan keabsahannya. Sebagian kapal disebut tetap beroperasi meski dokumen kapal diduga telah kedaluwarsa sejak tahun 2024 dan 2025.
Temuan itu diperoleh melalui observasi langsung di laut, pemeriksaan dokumen yang diperlihatkan di lokasi, wawancara pemuda dengan awak kapal, serta penelusuran keterangan masyarakat pesisir. Data dan informasi yang diperoleh dalam penelusuran ini telah diverifikasi dengan sumber terkait.
Yang membuat warga mulai resah bukan hanya jumlah kapal yang disebut semakin banyak. Tetapi juga dugaan adanya keberanian beroperasi secara terang-terangan di tengah penolakan masyarakat lokal.
“Di laut itu sekarang seperti tidak ada rasa takut lagi. Kapal datang silih berganti. Mereka ambil telur ikan terbang dalam jumlah besar,” ujar seorang warga pesisir Seira yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Menurut keterangan sejumlah pemuda, situasi di Laut Ngolin mulai terasa berbeda ketika kapal-kapal dari luar daerah terus berdatangan pada malam hari. Mesin kapal disebut meraung hingga dini hari, sementara aktivitas pengambilan telur ikan terbang berlangsung secara masif di sejumlah titik laut yang selama ini dikenal sebagai kawasan tangkap masyarakat adat.
Sandi Yapari, salah satu perwakilan pemuda Seira, mengatakan kelompoknya turun langsung ke lokasi setelah menerima banyak laporan dari masyarakat.
“Saat kami tiba di Laut Ngolin, kami menemukan ratusan kilogram telur ikan terbang. Kapal yang ada di lokasi diduga tidak memiliki izin lengkap. Bahkan beberapa dokumen yang diperlihatkan sudah kedaluwarsa,” kata Sandi.
Menurut dia, situasi di lapangan sempat memanas ketika para pemuda meminta kapal-kapal tersebut diarahkan menuju Seira untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, kata Sandi, sebagian awak kapal justru mempertanyakan alasan operasi dilakukan langsung di laut. Ketika ditanya siapa yang memerintahkan aktivitas tersebut, beberapa awak kapal menyebut nama Amin.
“Ketika kami tanya siapa yang suruh mereka bekerja, mereka bilang Amin. Tetapi setelah kami konfirmasi, Amin mengatakan itu inisiatif mereka sendiri,” ujarnya.
Nama Haji Amin kemudian berulang kali muncul dalam berbagai keterangan yang diperoleh di lapangan. Berdasarkan hasil penelusuran, Haji Amin diduga menjadi pihak yang mendanai aktivitas kapal-kapal tersebut.
Meski demikian, hingga berita ini diturunkan belum terdapat putusan hukum ataupun dokumen resmi yang menyatakan adanya keterlibatan pidana pihak yang disebut. Karena itu, seluruh informasi dalam laporan ini masih berada dalam tahap penelusuran dan konfirmasi.
Dalam pengakuan beberapa awak kapal kepada pemuda di lokasi, mereka mengaku tetap berani beroperasi karena merasa aktivitas tersebut selama ini berjalan aman.
“Mereka bicara seolah semua sudah biasa. Seolah laut itu milik mereka sendiri,” kata salah satu pemuda yang ikut dalam penelusuran lapangan.
Pernyataan-pernyataan itu kemudian memicu kekhawatiran baru di tengah masyarakat. Sebab jika aktivitas tersebut benar berlangsung dalam waktu lama tanpa pengawasan ketat, maka kondisi itu dinilai dapat mengindikasikan adanya kelemahan pengendalian di wilayah perairan Seira.
Di sisi lain, masyarakat mulai takut terhadap dampak yang mungkin muncul di kemudian hari. Laut Ngolin bukan sekadar wilayah tangkap biasa. Bagi warga Seira, laut itu adalah sumber makan, sumber ekonomi, dan bagian dari kehidupan adat yang diwariskan turun-temurun.
Kini, sebagian warga mulai merasa laut mereka perlahan berubah menjadi wilayah eksploitasi.
“Kalau terus begini, nanti yang tersisa hanya cerita. Orang luar datang ambil semua, sementara masyarakat hanya jadi penonton di tanah dan laut sendiri,” ujar seorang nelayan tua di Seira.
Keterangan para nelayan diperkuat dengan temuan adanya aktivitas bongkar muat telur ikan terbang dalam jumlah besar yang diduga dilakukan tanpa pengawasan resmi. Beberapa warga mengaku sering melihat kapal bergerak pada jam-jam rawan menjelang subuh.
Berdasarkan penelusuran lapangan, terdapat indikasi perbedaan antara aktivitas penangkapan di lapangan dengan dokumen yang diperlihatkan awak kapal. Dugaan ketidaksesuaian itu kini menjadi sorotan pemuda setempat.
“Kalau dokumen lengkap, kenapa takut diperiksa? Kenapa masih ada dokumen yang sudah mati tetapi kapal tetap jalan?” kata salah satu pemuda Seira.
Situasi disebut semakin menegangkan setelah para pemuda mengaku telah dua kali melakukan operasi tangkap tangan terhadap aktivitas yang diduga ilegal tersebut. Dalam operasi itu, ratusan kilogram telur ikan terbang disebut berhasil diamankan langsung dari lokasi.
Namun tindakan tersebut justru memunculkan ketegangan baru antara masyarakat dan pihak-pihak yang diduga berada dibalik aktivitas kapal.
Para pemuda mengaku kecewa karena upaya mereka menjaga laut justru dianggap mengganggu kepentingan tertentu.
“Kami bukan cari musuh. Kami turun karena laut ini milik masyarakat Seira juga. Tapi yang kami lihat sekarang seperti ada keberanian luar biasa untuk tetap jalan walaupun dokumen dipertanyakan,” ujar Sandi.
Di tengah gelap Laut Ngolin, keresahan masyarakat kini berubah menjadi amarah yang perlahan membesar. Warga mulai mempertanyakan bagaimana mungkin aktivitas dengan jumlah kapal yang disebut mencapai ratusan dapat berlangsung tanpa perhatian serius.
Apalagi, menurut warga, praktik pengambilan telur ikan terbang secara besar-besaran berpotensi merusak keseimbangan ekosistem laut. Hingga kini belum ada kajian resmi yang dipublikasikan terkait dampak ekologis aktivitas tersebut di Laut Ngolin, namun masyarakat mengaku mulai merasakan penurunan hasil laut dalam beberapa musim terakhir.
“Dulu laut kasih hidup. Sekarang orang mulai takut laut habis sebelum anak cucu kami menikmatinya,” ujar warga lainnya.
Ketegangan di Laut Ngolin tidak berhenti setelah operasi penelusuran dilakukan para pemuda Seira. Dalam beberapa hari terakhir, suasana di pesisir disebut semakin mencekam setelah kabar mengenai dugaan keberadaan kapal-kapal ilegal menyebar cepat di tengah masyarakat.
Sejumlah warga mengaku mulai takut berbicara secara terbuka. Beberapa nelayan bahkan memilih tidak melaut terlalu jauh karena khawatir bersinggungan dengan kapal-kapal yang disebut beroperasi hampir setiap malam di wilayah penangkapan tradisional masyarakat.
“Sekarang orang bicara pelan-pelan kalau bahas kapal di laut. Ada rasa takut karena aktivitas mereka seperti tidak pernah berhenti,” ujar seorang warga Seira yang meminta namanya dirahasiakan.
Berdasarkan hasil observasi lapangan yang dilakukan pemuda Seira Blawat, aktivitas di Laut Ngolin disebut berlangsung dengan pola yang nyaris sama setiap malam. Kapal-kapal datang secara bergelombang, sebagian bergerak ketika kondisi laut mulai gelap, lalu kembali menjelang pagi dengan membawa hasil telur ikan terbang dalam jumlah besar.
Beberapa warga mengaku sering melihat cahaya lampu kapal memenuhi garis laut pada malam hari. Dari kejauhan, cahaya itu tampak seperti perkampungan terapung di tengah gelapnya Laut Ngolin.
“Kadang kalau malam, laut terang penuh lampu kapal. Orang kampung lihat semua,” kata seorang nelayan.
Menurut hasil penelusuran, dugaan operasi penangkapan telur ikan terbang secara ilegal ini bukan lagi dipandang masyarakat sebagai aktivitas kecil atau sporadis. Warga mulai melihat adanya pola operasi yang terorganisir karena jumlah kapal yang disebut cukup besar dan terus bergerak secara rutin di kawasan yang sama.
Situasi itu memicu kemarahan sebagian pemuda Seira yang menilai laut mereka sedang dieksploitasi tanpa kendali.
“Kami bukan anti nelayan luar. Tapi kalau masuk dengan dokumen yang dipertanyakan lalu ambil hasil laut besar-besaran, masyarakat pasti marah,” ujar salah satu pemuda.
Dalam penelusuran di lapangan, pemuda Seira juga mengaku menemukan adanya dugaan aktivitas pemindahan hasil laut secara cepat dari satu kapal ke kapal lain di tengah laut. Pola itu diduga dilakukan untuk mempercepat distribusi hasil tangkapan sebelum mencapai wilayah daratan.
Namun informasi tersebut masih memerlukan verifikasi lanjutan karena belum terdapat dokumen resmi yang menjelaskan aktivitas pemindahan muatan tersebut.
Meski begitu, dugaan adanya pola distribusi tertutup mulai memunculkan tanda tanya baru di tengah masyarakat. Beberapa warga menilai aktivitas itu semakin sulit dipantau karena dilakukan jauh dari area pelabuhan resmi.
“Kalau semua dilakukan diam-diam di laut, masyarakat juga sulit tahu sebenarnya berapa banyak hasil laut yang sudah keluar,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Kondisi Laut Ngolin kini disebut perlahan berubah menjadi wilayah yang penuh ketegangan. Di satu sisi, masyarakat adat berusaha mempertahankan ruang hidup mereka. Namun disisi lain, kapal-kapal yang disebut terus berdatangan seolah menunjukkan bahwa aktivitas tersebut akan terus berjalan.
Dalam keterangannya, Sandi Yapari mengatakan para pemuda sebenarnya sudah berulang kali mengingatkan agar aktivitas penangkapan dilakukan sesuai aturan dan menghormati wilayah tangkap masyarakat lokal.
Namun menurut dia, peringatan tersebut sering kali tidak mendapat respons serius.
“Yang bikin masyarakat kecewa, kami sudah bicara baik-baik. Tapi aktivitas tetap jalan seperti biasa,” katanya.
Bahkan menurut pengakuan sejumlah pemuda, ada situasi di mana mereka merasa seolah sedang berhadapan dengan kekuatan besar yang sulit disentuh.
“Kadang muncul rasa seperti masyarakat kecil mau melawan sesuatu yang terlalu besar,” ujar seorang pemuda lainnya.
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana keresahan di Seira kini tidak lagi hanya soal izin kapal atau telur ikan terbang semata. Di balik itu, masyarakat mulai merasa kehilangan kendali atas wilayah laut yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari identitas mereka.
Laut Ngolin selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan penting bagi nelayan tradisional dan Budidaya rumput laut di Pulau Seira. Banyak keluarga menggantungkan hidup dari hasil laut di kawasan tersebut. Karena itu, dugaan eksploitasi besar-besaran membuat masyarakat khawatir terhadap masa depan ekonomi mereka sendiri.
Beberapa warga bahkan mulai membandingkan kondisi laut saat ini dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu nelayan kecil masih gampang dapat hasil. Sekarang mulai susah. Orang kampung mulai bertanya-tanya ada apa sebenarnya di laut,” ujar seorang warga.
Hasil penelusuran ini juga menemukan adanya kekhawatiran mengenai potensi konflik sosial apabila persoalan tersebut tidak segera ditangani secara terbuka dan adil. Sebab dalam beberapa kesempatan, ketegangan antara masyarakat dan pihak-pihak yang diduga terlibat dalam aktivitas penangkapan ilegal disebut semakin terasa.
Meski demikian, para pemuda Seira menegaskan bahwa mereka tidak ingin bertindak di luar hukum. Mereka berharap ada perhatian serius dari pihak berwenang terhadap dugaan aktivitas kapal ilegal di Laut Ngolin.
“Kami hanya ingin laut dijaga. Jangan sampai masyarakat sendiri nanti kehilangan hak hidup di lautnya,” kata Sandi.
Berdasarkan dokumen dan informasi yang diperoleh selama penelusuran, terdapat indikasi ketidaksesuaian antara aktivitas penangkapan di lapangan dengan kelengkapan administrasi beberapa kapal yang diperiksa. Dokumen tersebut telah diverifikasi kesesuaiannya dengan sumber terkait.
Namun demikian, seluruh dugaan dalam laporan ini masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang untuk memastikan ada atau tidaknya pelanggaran hukum.
Di tengah suasana yang semakin panas, masyarakat Seira kini hanya bisa berharap agar persoalan Laut Ngolin tidak berakhir menjadi konflik berkepanjangan. Sebab bagi mereka, laut bukan sekadar hamparan air luas. Laut adalah dapur kehidupan, warisan leluhur, sekaligus masa depan generasi berikutnya.
“Kalau laut rusak atau habis diambil orang, masyarakat Seira mau hidup dari apa lagi?” ujar seorang warga dengan nada pelan.
Pertanyaan itu kini terus menggantung di udara pesisir Seira, bersamaan dengan suara mesin kapal yang masih terdengar memecah gelap malam di Laut Ngolin.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak-pihak yang disebut dalam penelusuran terkait dugaan aktivitas penangkapan telur ikan terbang secara ilegal di wilayah Laut Ngolin, Pulau Seira, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Media ini telah melakukan upaya konfirmasi melalui sambungan telepon, pesan singkat, dan permintaan tanggapan langsung pada Minggu (17/5/2026), namun belum memperoleh jawaban resmi.
Berita ini telah melalui proses verifikasi redaksi berdasarkan hasil wawancara, observasi lapangan, dan penelusuran dokumen yang tersedia.
Media ini memberikan ruang hak jawab dan koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. (KN-07)


