Ambon,Kapatanews.com – Sebuah pemandangan tak mengenakan terlihat di Desa Bebar Kumur Kabuapaten Maluku Barat Daya, dimana sisa-sisa bangunan tua yang dulu menjadi kebanggaan dalam pelayanan kesehatan masyarakat Bebar Kumur, Kuwaimelu, dan Batu Merah kini hanya tinggal puing-puing berserakan yang penuh dengan rerumputan
Puskesmas yang dibangun sekitar tahun 2020 tersebut dulunya menjadi pusat pelayanan kesehatan bagi masyarakat disekitarnya, kini mengalami rusak parah dan tidak lagi terurus oleh pemerintah,baik Pemerintah Kabupaten,Kecamatan maupun Pemerintah Desa setempat.
“Ibarat rumah hantu yang hanya bisa ditempati oleh binatang melata,nyamuk ataupun para jin dan setan. Sungguh “Miris” bangunan yang di bangun dengan menggunakan uang negara tersebut dibiarkan terbengkalai tanpa adanya perhatian dari Pemerintah Daerah”
Dalam unggahan Facebook salah satu tokoh agama disana, Pendeta Wiliam Hehakaya, dengan lantang menyuarakan aspirasi masyarakat setempat dengan mempertanyakan Pemerintah dan DPRD Maluku Barat Daya yang menutup mata melihat realita yang terjadi
“Sejak di bangun pada tahun 2020, penggunaan gedung tersebut tidak berlangsung lama dan tidak lagi dipakai atau rusak kurang lebih 4 tahun lamanya” sehingga aktifitas pelayanan menjadi terganggu” ungkapnya
Menurut Hehakaya, Desa Kumur merupakan pusat penyakit “Malaria” yang harus di tangani secara serius, dimaa Desa Kumur menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan karena turut menampung masyarakat yang sakit dari dua desa lainnya yaitu Kuwaimelu, dan Batu Merah. Hal ini juga diperparah dengan tenaga kesehatan yang melakukan aktifitas pelayanan di balai Desa. tanpa memiliki gedung permanen barupa Puskesmas.
Ia juga menjelaskan untuk praktek pengobatan di lakukan pada perpustakan Sekolah Yayasan Milik GPM, SMP YPPK, dr. J.B.SITANALA, berhubung gedung balai desa setempat masih dalam perbaikan,jelas Hehakaya
” Seng tau mau mengeluh par Pemerintah mana, juga DPRD mana yang bisa lia katong pung sarana dan prasarana kesehatan ini. Sementara Desa Bebar-Kumur adalah pusat Malaria yang harus di tangani serius, belum lagi harus menampung masyarakat yang sakit dari dua desa lainnya, Kuwaimelu, dan Batu Merah, saya merasa kami dianak tirikan oleh Pemerintah Indonesia, terutama Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya. Dan sampai dengan tulisan ini saya muat,, tenaga kesehatan yang selama ini beraktifitas sementara di Balai Desa Kumur, terpaksa harus menumpang praktek pengobatan pada ruangan perpustakaan Sekolah Yayasan Milik GPM, SMP YPPK, dr. J.B.SITANALA,dikarenakan Balai Desa akan direhab oleh Pemerintah Desa Kumur, miris ” tegasnya
Diakhir pernyataannya, Pendeta William Hehakaya menyentil Pemerintah untuk tidak membuat Puskesmas yang terbengkalai itu menjadi rumah hantu. Ia juga berharap ada perhatian serius dari Pemerintah dan DPRD MBD untuk membangun Puskesmas baru yang representatif guna menunjang aktifitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat (KN-02)



