Saumlaki, Kapatanews.com – Gelombang teror dan kecemasan mencekam perairan Seira. Lautan yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat kini mendadak berubah menjadi kawasan mencekam akibat ulah brutal sekelompok pemuda yang melancarkan aksi pemerasan, intimidasi fisik, hingga praktik pungutan liar (pungli) secara ugal-ugalan terhadap para nelayan bale-bale. Senin, (3/8/2026).
Kondisi sosial di wilayah tersebut telah berada pada titik nadir dan berpotensi memicu ledakan konflik horizontal secara masif. Para nelayan kecil yang bersusah payah mencari sesuap nasi untuk keluarga kini hidup di bawah bayang-bayang ketakutan, ancaman kekerasan, dan pemerasan yang makin menggilas kemanusiaan di atas lautan Seira.
Situasi memanas ini mendadak menyeret perhatian publik setelah terkuak dugaan keterlibatan Pemerintah Desa Seira Blawat. Pemerintah desa setempat diduga kuat ikut membekingi dan membiarkan kelompok penagih liar tersebut leluasa beroperasi, memeras keringat nelayan miskin tanpa rasa bersalah.
Ketua Cabang AMGPM Imanuel I Seira, Isboset Serwunan, melontarkan nada keras menanggapi kejahatan terorganisir yang sedang merusak tatanan hidup masyarakat Seira tersebut.
“Ini bukan lagi sekadar pemerasan biasa, ini adalah teror sistematis yang merampas hak hidup para nelayan! Laut Seira bukan milik segelintir preman atau oknum penguasa desa yang ingin memperkaya diri di atas penderitaan rakyat kecil,” tegas Isboset Serwunan dengan nada berapi-api.
Isboset menambahkan bahwa aksi brutal kelompok pemuda tersebut sudah melampaui batas toleransi dan sangat melukai nurani kemanusiaan. Menurutnya, pembiaran terhadap aksi premanisme di lautan akan melahirkan hukum rimba jika aparat penegak hukum tidak segera mengambil tindakan tegas dan terukur.
“Para nelayan bale-bale itu melaut bertaruh nyawa demi menyambung hidup keluarga. Namun, saat kembali ke darat atau bahkan saat berada di tengah laut, mereka justru dihadang dan diancam oleh pemuda-pemuda tidak bertanggung jawab. Ini sangat biadab dan tidak bisa kita biarkan terus terjadi,” cetus Isboset.
Lebih tajam lagi, Isboset secara terbuka menuding Pemerintah Desa Seira Blawat melanggar sumpah jabatan jika terbukti terlibat atau memberi ruang bagi para pelaku pungli tersebut.
“Jika Pemdes Seira Blawat justru menjadi bagian dari lingkaran setan pungli ini, maka pemerintah desa telah membusuk dari dalam! Mereka yang seharusnya melindungi warga justru diduga ikut menikmati hasil pemerasan dari keringat nelayan yang menderita,” lanjutnya.
Isboset menegaskan bahwa seluruh kader AMGPM Imanuel I Seira siap berdiri di garis depan bersama para nelayan untuk melawan segala bentuk penindasan dan intimidasi.
Langkah keras yang sama disuarakan oleh Ketua Orang Muda Katolik (OMK) Seira, Kristomus Lenunduan.
Kristomus menyebut gejolak di Seira sebagai bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu jika para pelaku kekerasan tidak segera dijebloskan kedalam penjara.
“Ketakutan yang dirasakan oleh warga dan nelayan kami sudah di luar batas. Kelompok pemuda brutal ini bertindak seolah-olah hukum tidak berlaku di Seira, melancarkan ancaman fisik hingga teror moral kepada para nelayan yang tidak bersalah,” ujar Kristomus Lenunduan.
Kristomus mengungkapkan, modus operasi penagihan liar ini disertai dengan ancaman keselamatan jiwa. Nelayan yang menolak menyerahkan uang atau hasil tangkapan diancam akan dianiaya hingga dilarang melaut di wilayah perairan Seira.
“Pemerintah Desa Seira Blawat tidak boleh bersembunyi di balik kekuasaan atau pura-pura tuli! Keterlibatan oknum-oknum di jajaran desa dalam melindungi praktik haram ini adalah bentuk pengkhianatan paling nyata terhadap rakyat Seira,” tuntas Kristomus dengan nada tajam.
Menurut Kristomus, pemuda gereja dan umat tidak akan tinggal diam melihat penderitaan para nelayan yang setiap hari dipaksa menyerahkan hasil jerih payahnya kepada kelompok preman berkedok penagih resmi.
Ia mendesak Kepolisian Resor (Polres) Kepulauan Tanimbar dan aparat penegak hukum terkait untuk segera turun ke lapangan dan menangkap otak di balik aksi pungli serta kekerasan fisik yang menakutkan ini.
Dampak dari aksi brutal ini kini melumpuhkan perekonomian warga pesisir Seira. Banyak nelayan memilih menyandarkan perahunya karena takut menjadi korban penganiayaan dari kelompok pemuda yang kian beringas.
Kombinasi antara kemarahan warga, ketakutan nelayan, dan dugaan keterlibatan oknum Pemerintah Desa Seira Blawat menciptakan kondisi rawan perang saudara jika negara tidak segera hadir secara nyata.
Kini, warga Seira menantikan keberanian aparat penegak hukum untuk membersihkan lautan Seira dari aksi premanisme, membongkar dugaan keterlibatan Pemdes Seira Blawat, serta mengembalikan kedamaian dan keadilan bagi para nelayan bale-bale. (KN-07)


