Place Your Ad
Place Your Ad
Berita

Akademisi : Partai Harus Menjaga Citra Ely Toisuta Sebagai Kader Yang Berada Dalam Kekuasaan

×

Akademisi : Partai Harus Menjaga Citra Ely Toisuta Sebagai Kader Yang Berada Dalam Kekuasaan

Sebarkan artikel ini
Foto : Ely Toisuta, Kader Partai yang saat ini menduduki Jabatan Walikota Ambon

Ambon, Kapatanews.com – Fenomena krisisnya nilai-nilai idiologis Kader Partai Golkar begitu terasa jelang Musda Golkar Kota Ambon. Fenomena ini sangat nampak karena rekrutmen kader yang tidak melalui sistim Kaderisasi yang jelas dan berbasis idiologi Partai. Rekrutmen kader hanya difoukuskan pada pemenuhan struktural bukan kualitas kader yang berjiwa milintasi

Pola rekuruten ini terasa hampa dan akan berdampak pada kualitas kader dalam kepemimpinan Partai. Hal ini begitu terasa dimana jelang agenda organsasi Partai saat pergantian kepemimpinan disetiap tingkatan yang bisa memicu kesoliditan Partai,ucap Akademisi UKIM Ambon Dr Hobarth W.Soselisa,S.Sos.M.Si

Kepada Kapatanews (26/4/2026) Soselisa mengatakan jika hal ini tidak dibenahi secara baik maka kedepan Partai Golkar akan mengalami krisis kader yang berbasis idiologi-militan dan akan melahirkan kader Partai yang berbasis pragmatisme sesaat. Kader idiologi yang ditempah dengan sistim pengkaderan idiologi yang baik dan telah membesarkan Partai akan mengalami “Degradasi” dan kehilangan tempatnya hanya karena kedatangan kader-kader baru yang memilki kemampuan finansial.

“Fenomena ini hampir terasa disemua Partai dikarenakan Partai dengan pola rekrutmennya memiliki kecenderungan mengejar “Electoral” dari pada menciptakan kader berbasis idiologi. Sangatlah wajar jika pendekatan Elektoral menjadi hal utama dalam perkembangan Partai dewasa ini tetapi sistim pengkaderan untuk menciptakan kader militan berbasis idiologi harus tetap terjaga dan terpelihara”

 

Citra Kader Partai Di Pemerintahan Harus Di Jaga

Kehadiran Kader Partai dalam kekausan harus dijaga oleh Partai dan segenap Kader Partai, Hal ini  perlu dilakukan karena kehadiran Kader di rauang-ruang kekuasan pemerintahan tidaklah mudah dan butuh banyak pengorbanan dan energi untuk menjadikan kader partai sebagai Kepala Daerah atau Wakil Kepala Daerah,ungkap Soselisa

Momentum Musda X PG Kota Ambon yang melibatkan Wakil Walikota Ambon,Ely Tousuta sebagai salah satu Kontestasi dalam bursa Ketua Golkar Kota Ambon adalah pertaruhan citra Jabatan di hadapan publik Kota Ambon dan Maluku. Hal ini sangat beralasan dikarenakan Srikandi Golkar ini merupakan satu-satunya kader idiologi Partai yang berhasil menduduki tampuk kekuasaan sebagai Wakil Walikota Ambon.

“Musda X Golkar Kota Ambon sebagai ajang adu gagasan dan ide untuk membesarkan dan konsolidasi Partai tidak boleh diubah menjadi arena Pragmatisme sempit oleh para Kader Partai. Jika Toisuta dalam jabatannya terbelunggu oleh pragmatisme pemilik suara di tingkat kecamatan betapa malunya Partai ini yang “Mengdoktrinkan Kekuasan sebagai tradis,filosofi dan identitas Partai Golkar sebagai Partai Nasionalis. Partai Golkar secara kelembagaan berkewajiban melindungi Toisuta dalam jabatannya untuk maju serta menjadikannya sebagai Ketua Golkar Kota Ambon terpilih”

Mantan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto pernah menegaskan 3 indikator utama dalam memilih pimpinan di Partai Golkar yaitu : Kader Golkar yang ada dalam Pemerintahan- Kader Golkar yang ada di Legislatif dan kader Golkar yang berprofesi sebagai Pengusaha

Ketiga indikator ini sangat jelas dan memilki nilai Doktrin, Filosifi dan Identitas Partai Golkar yang selalu  menjadi tradisi Partai untuk selalu ada dalam kekuasaan,jelas Akademisi UKIM Ambon

Tiga indikator ini sesungguhnya berakar dan bertumbuh dari ” Tradsi KeGolkaran” kita yang selalu mengutamakan Kader Partai yang ada dalam kekuasaan atau eksekutif sebagai faktor dominan dan utama dalam penentuan calon pimpinan partai di Golkar, kecuali tidak ada kader yang berada di eksekutif baru mengutamakan kader yang ada di legislatif atau kader yang berlatar belakang pengusaha

Jika Citra Ely Toisuta sebagai kader Partai yang merupakan Wakil Walikota Ambon tidak dilindungi maka secara tidak langsung Partai Golkar telah mempermalukan kadernya sendiri di hadapan publik. Partai harus menjaga marwah kadernya dan tidak boleh ternodai hanya  karena terbelunggu oleh pragmatisme sesat kader.

Jika hal ini dibiarkan terus- menerus terjadi maka kedepan Partai Golkar akan kehilangan kader-kader militan yang berbasis idiologi dan hal ini akan memudahkan mantan anggota Partai yang berlabuh di Golkar akan mengambil alih kepempinan di tubuh Golkar tanpa melalui sistim pengkaderan berbasis idologi.

 

Momentum Politik Dan Organsasi, Militansi Kader  Di Uji

Nilai Karya-Kekaryaan yang menjadi tradisi dan kebesaran Partai Golkar merupakan ” Doktrin, Filosofi dan Identitas utama Golkar akan diuji saat momentum Politik baik itu Pilpres,Pileg, Pemilukada ataupun agenda politik organsasi . Pada aspek ini kader akan diuji jiwa militansi dan idiologinya sejauh mana mengamankan kader Partai yang direkomdasikan.

Fakta empiris dilapangan banyak ditemui Kader Partai yang tidak taat dan setia terhadap perintah Partai. Pada titik inilah doktrin dan filosofi  karya-kekaryaan Partai menjadi hilang hanya karena  kepentingan Pragmatisme sesaat kader

Sebagai contoh, Dr Ilmu Sosial Dan Politik Fisip UKIM ini menggarisbawahi perhelatan Pemilukada Kota Ambon tahun 2024 dimana ditemukan banyak Kader Partai Kota Ambon terutama para Pimpinan Kecamatan yang tidak bekerja sesuai arahan Partai yang merekomendasikan pasangan Bodiwin Wattimena dan Ely Toisuta. Sebaliknya Para Pimpinan Kecamatan lebih memilih bekerja untuk pasangan lain.

“Kondisi realita pilkada Kota Ambon tahun 2024  tersebut merupakan salah satu contoh pragmatisme kader yang telah bersenyawa di dalam diri dan terus terbawa dan terpelihara sampai saat ini di momentum Musda X Golkar Kota Ambon, dimana tak satupun Pimpinan Kecamatan yang memberikan rekomedasi kepada Ely Toisuta sebagai Wakil Walikota Ambon yang merupakan Kader Partai” akui Soselisa

Jika para Pimpinan Lima Kecamatan Golkar memahami sungguh nilai dari Doktrin dan filosofi Partai maka mereka sesungguhnya harus malu memakai jubah kuning sebagai identitas partai yang mengutamakan “Kader Partai yang ada dalam kekuasaan (Eksekutif).

Ia meyakini dalam momentum Musda X Golkar Kota Ambon, militansi kader partai akan di uji sejauh mana mereka menemukan sosok yang layak untuk membesarkan Partai Golkar Kota Ambon ke depan,jelas Soselisa

 

Penundaan Musda Adalah Hal Yang Wajar

Menanggapi aksi penolakan 5 Pimpinan kecamatan yang menolak penundaan Musda Kota Ambon, Dosen Fisip UKIM Ambon ini mengatakan adalah hal wajar jika ada dinamika dalam penundaan sebuah kegiatan Partai.

Menurutnya dengan sistim Partronase yang ada di Golkar, kader tidak bisa memaksakan kehendanya untuk diikuti oleh satu tingkat diatasnya. Penundaan Musda bisa saja bergeser dari jadwal sebenarnya apabila DPD Provins atau DPP memilki beberapa pertimbangan misalnya jadwal ketua yang bisa saja bertabrakan dengan jadwal Musda sehingga perlu koordinasi dan penyelarasan waktu dan jadwal yang tepat,ujarnya

Dikatakan oleh Soselisa. sebagai kader harus tetap patuh terhadap perintah Partai. Itu wajib hukumnya. Persoalan penundaan bukan hal yang subtantif, karena Musda akan tetap dilaksanakan. Mestinya sebagai Pimpinan Kecamatan harus lebih berpikir kepada hal-hal yang lebih subtantif demi pengembangan dan kemajuan Partai

Soselisa berharap dalam Momentum Musda X Partai Golkar Kota Ambon ini, kader Partai lebih fokus untuk menghadirkan Kepemimpinan yang terarah dan terintegrasi dengan ” Doktrin,Filosofi dan identitas Partai” sebagai sebuah tradisi yang selama ini menjadikan Golkar sebagai Partai besar dengan identitas idiologi yang sangat Kuat (KN-05)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP