Penulis: Nicholas Besitimur (Jurnalis Kapatanews)
Pulau Seira atau yang sejak zaman dulu dipanggil masyarakatnya dengan nama Sermuri bukan sekadar titik kecil di peta Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.
Jika kamu datang melintasi perairan Kepulauan Tanimbar yang bergelombang dan diterpa angin laut yang kencang, kamu akan mendapati sebuah pulau yang hidup dari jalinan kisah lama yang tidak pernah benar-benar mati.
Sermuri adalah sebutan paling dalam, sebuah nama yang membawa ingatan orang-orang Seira pada asal-usul tanah, laut, dan tatanan darah yang mengikat lima desa di atasnya:
Welutu, Themin, Weratan, Kamatubun, dan Rumahsalut Perjalanan pulau ini sangat panjang dan kaya, bergerak dari zaman perang benteng di puncak bukit karang, melewati masa kedatangan kapal-kapal bangsa Eropa dan penyebaran agama, hingga menjadi salah satu pusat peradaban, kebudayaan, serta pendidikan yang paling dihormati di kawasan Tanimbar Barat.
Kisah masyarakat Sermuri tidak diawali dari catatan tinta di atas kertas, melainkan dari cerita lisan yang dituturkan di pinggir pantai saat angin malam berhembus, atau dinyanyikan dalam bait-bait tnyabar saat pesta adat besar digelar.
Berdasarkan ingatan kolektif yang diwariskan lintas generasi, ribuan tahun lalu leluhur orang Seira berlayar menggunakan perahu-perahu kayu tradisional yang mereka sebut lahat atau belan.
Mereka mengarungi lautan lepas dari pulau-pulau sekitar untuk mencari daratan baru yang menjanjikan sumber air bersih, tanah ladang yang subur, serta terumbu karang yang melimpah akan ikan dan kerang.
Ketika pertama kali menjejakkan kaki di tanah Seira, alam belum seramah sekarang. Dunia Tanimbar purba adalah dunia yang sangat keras dan penuh ketidakpastian, di mana setiap klan harus selalu siap mempertahankan diri.
Karena itulah, pemukiman awal orang Sermuri tidak dibangun di tepi pantai yang nyaman, melainkan jauh di atas bukit-bukit batu karang yang terjal dan terisolasi.
Di atas bukit-bukit tinggi itulah berdiri pemukiman benteng kuno yang mereka sebut nusa atau teun. Para leluhur menyusun batu-batu karang tebal tanpa semen, membentuk dinding benteng yang kokoh dan tinggi untuk melindungi kaum wanita, anak-anak, serta para tetua dari serangan suku luar maupun konflik antar klan sebuah era yang dalam tradisi lisan dikenang sebagai masa vun-vun atau perang suku.
Di balik benteng karang itu, kehidupan orang Sermuri berjalan dalam keterikatan yang sangat erat dengan alam dan roh-roh leluhur.
Mereka berburu di hutan, berladang tanam-tanaman lokal seperti ubi dan jagung, serta hanya turun ke laut ketika kondisi keamanan benar-benar dapat dipastikan.
Di tempat tinggi itu pula para pemimpin klan mendirikan batu-batu sakral sebagai pusat ritual spiritual, tempat persembahan, dan arena pengambilan keputusan adat tertinggi.
Jejak paling nyata, paling megah, dan paling sakral dari era batu ini adalah sebuah situs megalitikum yang hingga hari ini masih memancarkan aura magis bagi siapa saja yang mengunjunginya: Batu Ditiratu Lakemala.
Situs ini bukan sekadar tumpukan batu mati, melainkan sepasang batu raksasa berbobot belasan ton yang dipindahkan secara bergotong-royong oleh para leluhur dari wilayah sekitarnya.
Bayangkan ratusan warga pada zaman purba, tanpa bantuan teknologi mesin modern, hanya mengandalkan gelondongan kayu bulat, tali-tali serat hutan yang dipintal kuat, serta alunan lagu-lagu penyemangat, bahu-membahu menarik batu raksasa tersebut melintasi jalur karang yang tajam dan menanjak.
Batu Ditiratu mewakili sosok perempuan simbol rahim, pemeliharaan kehidupan, kelembutan, dan ikatan kekerabatan.
Sementara Batu Lakemala mewakili sosok laki-laki simbol kekuatan, benteng perlindungan, kekuasaan, dan pilar hukum adat. Pasangan batu sakral ini menjadi tugu ikrar sumpah, tempat menyelesaikan perselisihan besar, dan simpul persatuan agar masyarakat Sermuri tidak saling menghancurkan dari dalam.
Secara antropologis dan kebudayaan dasar, keberadaan situs megalitikum Batu Ditiratu Lakemala mencerminkan tatanan kosmologi dualistik yang saling melengkapi (complementary dualism) dalam kebudayaan Tanimbar.
Dalam pandangan hidup orang Sermuri, prinsip gender laki-laki dan perempuan tidak diletakkan dalam hierarki tinggi-rendah atau dominasi satu atas yang lain, melainkan sebagai dua kekuatan kosmis yang wajib berada dalam kondisi seimbang demi keselamatan tatanan sosial.
Secara kebudayaan, dualisme sakral ini mengejawantah ke dalam sistem kekerabatan patrilineal yang dipandu secara ketat oleh hukum Duan Lolat.
Unit sosial terkecil dan paling mendasar di Seira adalah matarumah atau klan marga, yang memegang garis keturunan lurus sekaligus menguasai hak atas tanah ladang (petuanan darat) maupun wilayah tangkap laut (petuanan laut).
Dalam relasi sosial antar-marga di Seira, posisi Duan bertindak sebagai pihak pemberi perempuan (keluarga dari pihak ibu) yang dihormati sebagai penentu keputusan adat tertinggi, pemilik derajat ritual, dan simbol sumber kehidupan.
Sementara itu, posisi Lolat bertindak sebagai pihak penerima perempuan yang berkewajiban menghormati, mengabdi, dan mendampingi pihak Duan dalam berbagai upacara adat maupun krisis kehidupan.
Tatanan Duan Lolat tidak hanya mengatur urusan perkawinan, tetapi juga menjadi instrumen hukum yang sangat efektif dalam meredakan ketegangan sosial.
Ketika terjadi sengketa batas tanah atau perselisihan antar-warga, kehadiran figur Duan yang duduk bersama di atas arena adat sora selalu mampu meluluhkan amarah dan menghasilkan keputusan damai yang dihormati oleh seluruh pihak.
Kehidupan terisolasi di atas bukit-bukit karang tersebut mulai mengalami pergeseran besar ketika abad ke-19 memasuki masa-masa akhir.
Kapal-kapal dagang dan militer Belanda mulai lebih sering berlayar di sekitar perairan Tanimbar. Pemerintah kolonial Hindia Belanda menyadari betapa strategisnya posisi Pulau Seira sebagai jalur perlintasan antara Kepulauan Aru, Pulau Yamdena, dan kawasan Maluku Barat Daya.
Dalam rangka menghentikan tradisi perang antarsuku yang merugikan serta mempermudah kontrol administrasi wilayah, pemerintah Belanda menempatkan seorang pejabat lokal yang disebut Posthouder di Seira.
Penempatan pos pemerintahan kolonial ini menjadikan Seira sebagai salah satu pusat administrasi awal di Tanimbar Barat, bahkan mendahului perkembangan pesat kota Saumlaki yang kelak menjadi pusat pemerintahan kabupaten.
Bersamaan dengan hadirnya aparat pemerintah kolonial, para utusan penginjil dan guru-guru jemaat dari Ambon serta Sangir mulai menginjakkan kaki di daratan Seira.
Masuknya ajaran Kristen Protestan melalui badan misi gereja menjadi titik balik paling radikal dalam sejarah sosial dan keagamaan masyarakat Sermuri.
Para penginjil bersama Posthouder merangkul para kepala suku dan tetua adat untuk menghentikan praktik kekerasan era perang suku.
Mereka mengajak masyarakat turun dari benteng-benteng bukit karang menuju pemukiman baru di sepanjang garis pantai yang terbuka. Perubahan besar ini tentu tidak terjadi tanpa guncangan emosional.
Ada rasa takut, keraguan, dan kesedihan mendalam ketika warga harus meninggalkan benteng karang tua leluhur mereka, membakar patung-patung kayu kuno (mung-mung) yang selama ratusan tahun disembah, serta membangun tata kehidupan baru di tepi pantai.
Namun, keberanian untuk turun ke pantai itulah yang membentangkan jalan bagi kemajuan peradaban orang Seira. Lembaga penginjilan mulai mendirikan sekolah-sekolah rakyat (Volksschool).
Orang-orang Sermuri, yang secara alami memiliki kecerdasan beradaptasi serta rasa ingin tahu yang tinggi, menyerap pendidikan formal dengan sangat cepat.
Anak-anak Seira tidak hanya diajari membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga dididik dalam ilmu musik jemaat dan tata kelola organisasi.
Dalam waktu beberapa dekade saja, Pulau Seira bertransformasi menjadi salah satu pusat pencetak tenaga terdidik, guru-guru sekolah, dan pelayan gereja terbesar di kawasan Tanimbar.
Para terpelajar dari Seira ini kemudian merantau ke berbagai pulau di pelosok Maluku untuk mengajar, mendirikan sekolah, dan membuka isolasi masyarakat di daerah lain.
Seiring berjalannya waktu, pertambahan penduduk di wilayah pesisir mendorong terbentuknya tatanan lima desa adat (negeri) yang terhampar di sepanjang pantai Pulau Seira: Rumahsalut, Welutu, Weratan, Kamatubun, dan Themin.
Meskipun masing-masing desa memiliki struktur pemerintahan desa dan kepala desa sendiri, secara kultural dan emosional kelimanya tetap dipersatukan oleh satu jiwa persaudaraan adat Sermuri.
Setiap desa mengembangkan identitas dan peran strategisnya masing-masing dalam menjaga keseimbangan pulau. Desa Rumahsalut dikenal sebagai penjaga ingatan sejarah dan situs-situs peninggalan kuno.
Desa Welutu dan Weratan berkembang menjadi pusat kebaharian yang tangguh dengan para nelayan yang menguasai ilmu kelautan secara mendalam.
Desa Weratan menjadi lumbung pangan pulau berkat tanah ladangnya yang subur di bagian dalam daratan, sementara Desa Kramatubun sangat menonjol dalam dinamika kelembagaan sosial, pendidikan, dan kehidupan gerejani.
Jika ditinjau dari kacamata ekologi budaya dan antropologi ekonomi, kelangsungan hidup masyarakat Sermuri Seira di kelima desa ini diikat oleh sebuah pranata kearifan lokal yang sangat disiplin bernama Sasi.
Sasi merupakan institusi hukum adat yang mengatur hak buka-tutup akses pemanfaatan sumber daya alam, baik yang ada di darat (Sasi Darat) maupun yang ada di perairan laut (Sasi Laut).
Ketika para tetua adat bersama majelis gereja mengumumkan penutupan Sasi Laut, seluruh warga dilarang keras mengambil atau memanen komoditas laut tertentu seperti teripang, lola (Trochus niloticus), dan lobster di wilayah perairan petuanan desa selama rentang waktu enam bulan hingga satu tahun.
Aturan ini secara alami memberikan ruang reproduksi dan pemulihan bagi ekosistem terumbu karang serta biota laut agar dapat tumbuh hingga mencapai ukuran matang.
Ketika masa Buka Sasi tiba, seluruh masyarakat dari lima desa akan berkumpul di pesisir pantai dalam suasana sukacita. Upacara diawali dengan ibadah doa bersama di gereja untuk memohon berkat Tuhan, dilanjutkan dengan ritual penyembelihan kurban adat di tepi pantai oleh para tetua untuk menghormati alam dan leluhur.
Setelah ritual selesai, seluruh warga turun bersama-sama ke laut untuk memanen hasil alam yang telah melimpah. Sistem Sasi ini menjadi bukti nyata bagaimana orang Sermuri sejak ratusan tahun lalu mampu memadukan antara iman kepercayaan, hukum adat, dan perlindungan lingkungan secara seimbang tanpa memerlukan teori ekologi modern yang rumit.
Selain itu, Sasi menjamin keadilan ekonomi karena hasil panen raya terdistribusi secara merata kepada seluruh lapisan warga desa, termasuk janda, anak yatim, dan warga yang tidak memiliki perahu.
Kekayaan kebudayaan Sermuri Seira juga terpancar kuat melalui seni tutur dan seni gerak tradisional yang terus dipelihara hingga kini.
Pada malam-malam pelaksanaan upacara adat atau pesta desa, alunan suara tnyabar akan terdengar membumbung tinggi memenuhi udara pulau. Pria dan wanita, tua dan muda, akan berdiri melingkar, saling bergandengan tangan erat, dan menyanyikan syair-syair lagu kuno secara bersahut-sahutan tanpa iringan alat musik satu pun.
Lirik tnyabar berfungsi sebagai perpustakaan lisan yang mencatat silsilah marga, mengisahkan keberanian para pahlawan masa lalu saat mempertahankan pulau dari serangan musuh, serta menyampaikan pesan-pesan moral bagi generasi muda.
Di samping seni tutur, seni tari dan seni kriya tenun ikat juga menjadi identitas yang sangat membanggakan. Para perempuan Seira melestarikan tradisi menenun tais kain tenun ikat khas Tanimbar dengan motif-motif geometris yang rumit dan sarat makna filosofis.
Benang-benang pintal diproses dan diwarnai dengan bahan-bahan alami dari tumbuh-tumbuhan hutan, lalu ditenun dengan penuh kesabaran di teras-teras rumah.
Dalam setiap tarian adat Tanimbar Barat, para wanita tampil anggun membawakan tarian dengan balutan kain tais yang indah, sementara para lelakinya menari dengan gerakan tegap dan tegas sambil menggenggam parang adat serta salawaku (perisai kayu), memperagakan ketangkasan para ksatria Sermuri pada masa lampau.
Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada tahun 1945, masyarakat Sermuri Seira dengan penuh kesadaran dan rasa bangga meleburkan diri menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mereka tidak pernah ketinggalan dalam mengisi perjalanan sejarah bangsa. Dari pulau kecil yang pada masa lalu terisolasi tanpa fasilitas modern, lahir generasi-generasi muda yang haus akan ilmu pengetahuan.
Mereka merantau menuntut ilmu ke kota-kota besar di Ambon, Makassar, Manado, Surabaya, Jakarta, hingga ke tanah Papua. Hasil dari keteguhan tekad tersebut sangat nyata: banyak putra-putri terbaik asal Seira yang berhasil menduduki posisi strategis sebagai pejabat di birokrasi pemerintahan Kabupaten Kepulauan Tanimbar, akademisi di perguruan tinggi, dokter, pendeta, perwira TNI dan Polri, hingga wakil rakyat di lembaga legislatif.
Namun, sejauh apa pun seorang anak Seira merantau dan sesukses apa pun posisi yang mereka raih di luar pulau, terdapat tali batin gaib yang selalu memanggil mereka untuk kembali pulang setiap kali pesta desa, acara Buka Sasi, atau ritual panggil adat digelar.
Memasuki era modern saat ini, Pulau Seira tentu tidak luput dari berbagai tantangan dan perubahan zaman. Arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, serta masuknya budaya luar mulai mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup generasi muda.
Namun, jika kamu melangkah dan menjejakkan kaki di tanah Seira hari ini, kamu akan mendapati bahwa jiwa asli Sermuri tetap berdenyut kuat. Kamu masih bisa menyaksikan para wanita tua yang duduk tekun menenun tais di bawah naungan pohon kelapa, mendengar suara deru mesin perahu ketinting nelayan Welutu dan Wera yang berangkat melaut sebelum fajar menyingsing, serta melihat anak-anak kecil berlarian gembira di sekitar situs sakral Batu Ditiratu Lakemala dengan tetap menyimpan rasa hormat yang mendalam pada tanah keramat leluhur mereka.
Secara keseluruhan, perjalanan sejarah Sermuri Seira adalah sebuah cermin besar tentang daya tahan (resilience) dan kearifan hidup sebuah komunitas masyarakat pulau kecil di kawasan Timur Indonesia.
Mereka tidak punah ketika era perang suku membakar pulau, mereka tidak kehilangan akar identitas ketika ajaran agama baru dan pemerintah kolonial Belanda hadir mengubahkan tatanan hidup mereka, dan mereka tidak tergilas oleh derasnya arus modernisasi abad ke-21.
Orang Sermuri mampu bertahan dan terus melangkah maju karena mereka memegang teguh kesadaran akan identitas diri mereka: manusia-manusia yang dilahirkan dari keteguhan batu karang, dibesarkan oleh kebebasan dan kekayaan lautan, serta dipersatukan oleh rasa persaudaraan adat yang tak akan pernah putus selama Batu Ditiratu Lakemala masih berdiri kokoh menatap gelombang perairan Tanimbar.
Catatan Redaksi:
Tulisan mengenai perjalanan sejarah, kebudayaan, dan tatanan adat Sermuri Seira ini belum bersifat final. Seluruh data, narasi, dan informasi yang disajikan dirangkum dari berbagai sumber literatur serta kaya akan tradisi tutur (oral history) yang diwariskan secara turun-temurun oleh para tetua dan masyarakat setempat.
Dinamika sejarah lisan sangat terbuka terhadap penyempurnaan, pengayaan, maupun masukan dari para budayawan, akademisi, dan pemangku adat Sermuri Seira demi menjaga keutuhan warisan leluhur Tanimbar.



