Place Your Ad
Place Your Ad
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Opini

Kontroversi LGJI Aamboina 2026 : Jangan Jadikan Dugaan Sebagai Kesimpulan

×

Kontroversi LGJI Aamboina 2026 : Jangan Jadikan Dugaan Sebagai Kesimpulan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Jancy Latuperissa ( Ketua PHBG Jemaat GPM Silo)

Ambon, Kapatanews.com  — Kontroversi yang muncul setelah pelaksanaan Lomba Gerak Jalan Indah (LGJI) Amboina 2026 perlu dilihat secara jernih. Kritik terhadap panitia maupun hasil perlombaan merupakan hak publik dan peserta. Namun, kritik akan kehilangan makna apabila dibangun lebih banyak dari dugaan dari pada fakta yang dapat dibuktikan.

Pemberitaan yang menyebut adanya keuntungan sepihak, bahkan mengarah pada dugaan bahwa juara sudah ditentukan oleh panitia, merupakan tudingan serius. Karena itu, tudingan semacam ini semestinya disertai bukti yang jelas: siapa yang mengatur, bagaimana proses pengaturan dilakukan, kapan keputusan dibuat, dan apa bentuk intervensinya.

Tanpa bukti tersebut, publik justru perlu berhati-hati agar tidak menjadikan persepsi sebagai kebenaran.

Dalam sebuah perlombaan, hasil tidak semestinya dilihat hanya dari siapa yang keluar sebagai juara. Ada proses penilaian, komponen yang dinilai, dewan juri, serta keputusan resmi yang menjadi dasar penetapan pemenang.

Karena itu, ketika hasil LGJI dipersoalkan, pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar, “Mengapa tim itu juara?”, tetapi “Apakah nilai dan keputusan juri sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan?”

Kalau jawabannya sesuai, maka hasil tersebut harus dihormati meskipun tidak semua orang menyukainya. Sebaliknya, kalau ditemukan ketidaksesuaian, maka persoalan itu harus dibuka dan diperiksa secara objektif.

Inilah perbedaan antara kritik yang berbasis fakta dan tuduhan yang berbasis kecurigaan.

Salah satu persoalan dalam lomba yang melibatkan kreativitas adalah adanya perbedaan penilaian antara penonton dan dewan juri.
Penonton mungkin menganggap sebuah barisan lebih menarik, lebih ramai, lebih kreatif atau lebih pantas menang. Namun, penonton tidak selalu mengetahui seluruh komponen penilaian yang digunakan oleh juri.

Karena itu, ketika pilihan juri berbeda dengan pilihan publik, hal tersebut belum dengan sendirinya membuktikan adanya permainan.
Perbedaan penilaian justru menjadi alasan mengapa rubrik penilaian dan mekanisme penjurian harus jelas.
Jika publik ingin mempertanyakan hasil, maka data penilaian harus menjadi dasar perdebatan, bukan sekadar komentar bahwa barisan ini seharusnya juara.

Namun demikian, kritik publik tidak boleh dijawab dengan sikap defensif. Panitia memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan penjelasan apabila muncul pertanyaan mengenai pelaksanaan lomba.

Jika memang seluruh proses berjalan sesuai aturan, tidak ada salahnya panitia menjelaskan mekanisme penilaian kepada publik. Bahkan transparansi semacam itu justru dapat memperkuat kepercayaan terhadap penyelenggara. Sebab, semakin besar sebuah kegiatan dan semakin banyak peserta yang terlibat, semakin besar pula kebutuhan terhadap transparansi.

LGJI seharusnya menjadi ruang bagi anak muda dan masyarakat untuk menunjukkan kreativitas, disiplin, kebersamaan dan kecintaan terhadap Kota Ambon.

Dalam penyelenggaraan LGJI sebelumnya, kegiatan ini bahkan mendapat apresiasi sebagai wadah kebersamaan dan pembinaan generasi muda. Karena itu, sangat disayangkan apabila setelah perlombaan selesai, energi masyarakat justru habis untuk saling mencurigai dan saling menyerang.

Peserta yang merasa dirugikan tentu mempunyai hak untuk mempertanyakan hasil. Panitia juga mempunyai kewajiban memberikan penjelasan. Media memiliki hak untuk mengkritisi. Tetapi semua pihak memiliki tanggung jawab yang sama: menempatkan fakta di atas emosi.

Polemik LGJI Amboina tidak perlu diselesaikan dengan saling membalas berita.
Jika benar ada permainan, tunjukkan buktinya.
Jika ada intervensi terhadap juri, jelaskan siapa yang melakukan dan bagaimana intervensinya.
Jika ada perubahan nilai, tunjukkan datanya.
Jika ada pelanggaran aturan, tunjukkan aturan yang dilanggar.

Tetapi jika yang tersedia hanya dugaan karena hasil lomba tidak sesuai dengan harapan, maka publik juga perlu memberikan ruang bagi panitia dan dewan juri untuk menjelaskan keputusan mereka.

Polemik ini seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki LGJI Amboina ke depan. Panitia dapat memperjelas indikator penilaian sejak awal, memperkuat independensi dewan juri, membuka mekanisme keberatan peserta, serta mendokumentasikan hasil penilaian secara lebih transparan.

Dengan cara itu, siapa pun yang menjadi juara tidak lagi mudah dicurigai. Sebab ukuran keberhasilan sebuah lomba bukan hanya terletak pada siapa yang mendapatkan piala, tetapi juga pada seberapa besar kepercayaan peserta dan masyarakat terhadap proses yang menghasilkan pemenang.

LGJI boleh dikritik. Panitia boleh dievaluasi. Dewan juri boleh dimintai pertanggungjawaban. Tetapi satu hal harus dijaga bersama:
Jangan mengubah dugaan menjadi fakta, dan jangan mengubah perbedaan hasil menjadi tuduhan kecurangan tanpa bukti.

Pada akhirnya, yang harus menang bukan hanya satu barisan. Yang harus menang adalah sportivitas, kejujuran dan rasa persaudaraan orang basudara. (KN-03)

 

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP