By: Dr. Hobarth Williams Soselisa, S.Sos.,M.Si
Ambon, Kapatanews.com – Golkar Kota Ambon sedang berjalan di sebuah lorong yang makin sempit: di atas kertas ia tampak kuat dengan calon tunggal yang mengantongi ±80 persen dukungan, tetapi di bilik suara ia berisiko menjadi partai yang kehilangan daya pukau elektoral di mata pemilih kota ini. Dalam bayangan personifikasi, Golkar Kota Ambon adalah “seorang tokoh tua” yang pernah disegani di banyak sudut kota, tetapi kini berjalan terpincang-pincang sambil menutupi luka di kakinya dengan senyum kemenangan di forum Musda hari ini. Musda X yang oleh DPD I ditunda tetapi dipaksakan berjalan oleh DPD II dan sebagian elit DPD I, dengan calon tunggal yang digadang-gadang akan ditetapkan secara aklamasi hari ini, memberi kesan bahwa “tubuh partai” lebih sibuk menata kursi di ruang rapat daripada menata hati dan imajinasi pemilih di kampung-kampung suara. Pada saat yang sama, publik Ambon menyaksikan bahwa dinamika politik lokal semakin kompetitif, dengan figur-figur baru dari berbagai partai yang agresif membangun jejaring dan komunikasi di akar rumput. Di tengah kompetisi itu, Golkar kota Ambon seolah memilih menjadi “pohon besar yang malas menumbuhkan akar baru”, cukup puas dengan rindangnya dukungan internal, tanpa sadar daun-daunnya mulai menguning di mata pemilih muda dan kritis.
Calon Tunggal: Konsolidasi Elit, Erosi Legitimasi.
Calon tunggal dalam Musda sering dirayakan sebagai simbol soliditas, tetapi dalam kacamata akademik ia juga dapat dipahami sebagai gejala penutupan ruang kompetisi internal yang sehat. Ketika dukungan 75–80 persen suara pemilik hak pilih di Musda telah dikunci untuk satu nama, “demokrasi internal” berubah menjadi formalitas prosedural: rapat tetap berjalan, tata tertib tetap dibacakan, tetapi ruh deliberasi mengecil dan berbisik dari sudut ruangan. Secara teoritis, partai yang terlalu kuat di dalam, sering kali rapuh di luar: ia kuat di hadapan pengurus, tetapi lemah di hadapan pemilih. Calon tunggal yang datang dari lingkar elit, dengan jejaring struktural yang panjang, dapat terlihat kokoh di mata pengurus, namun di mata pemilih kota ia bisa tampak sebagai “orang dalam” yang lebih sibuk mengurus keseimbangan faksi ketimbang menjawab keresahan warga di lorong, pasar, dan perkampungan pesisir. Dalam kerangka personifikasi, calon tunggal ini adalah bukan “anak emas” yang tumbuh di dalam rumah besar Golkar, tetapi juga belum tentu dikenal sebagai tetangga yang ringan tangan di lingkungan tempat suara-suara itu lahir. Pada Hal, secara garis partai, Golkar harus melihat “Anak Emas” yang telah membesarkan partai dan juga dan juga dikenal sebagai tokoh publik yang tumbuh dan besar di dalam rumah besar Golkar dan dikenal sebagai orang yang ringan tangan di lingkungan tempat suara suara itu lahir.
Rekam Jejak: Antara Kapital Politik dan Beban Elektoral
Rekam jejak calon yang mendaftar bukan sekadar daftar jabatan, tetapi cerita panjang tentang bagaimana ia dipersepsi dan dirasakan oleh publik. Nama yang kini menguat—dengan posisi di DPD I, organisasi sayap, dan pengalaman nyaleg —mencerminkan kapital jaringan dan struktur, tetapi belum otomatis menjadi kapital kedekatan dan kepercayaan di tingkat basis Kota Ambon. Di titik ini, rekam jejak justru bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, struktur partai membaca pengalaman organisasi sebagai “sertifikat kelayakan”; di sisi lain, pemilih bisa memandangnya sebagai “jarak sosial”, karena lebih sering melihat tokoh tersebut sebagai aktor nasional atau provinsi ketimbang wajah yang rutin hadir dalam urusan konkrit warga kota Ambon. Golkar Kota Ambon seperti seorang “bapak tua” yang memilih menaruh nasibnya pada anak yang paling banyak piagam organisasinya, bukan pada anak yang paling sering menemani kampung ketika listrik padam, harga ikan naik, atau banjir masuk rumah.
Ilustrasi singkat
Bayangkan dua figur:
Figur A: Kader Partai yang ada dalam kekuasaan kota yang rajin turun ke masyarakat, aktif mengadvokasi persoalan pelayanan publik, dan konsisten membangun komunikasi dua arah dengan warga.
Figur B: elit partai dengan posisi di tingkat provinsi dan ormas pusat, tetapi kehadirannya di mata warga kota lebih banyak lewat baliho dan pemberitaan, bukan melalui interaksi sehari-hari.
Ketika partai memilih Figur B sebagai calon tunggal tanpa memberi ruang kompetisi terbuka termasuk bagi figur-figur tipe A, partai sesungguhnya sedang menukar potensi elektoral jangka panjang dengan kenyamanan struktur jangka pendek.
Mengapa Potensi Penurunan Suara Makin Besar
Dari sudut akademik, ada beberapa alasan rasional mengapa Golkar Kota Ambon berpotensi mengalami penurunan suara di pemilu mendatang jika pola ini dibiarkan:
1. Defisit representasi basis. Ketika seleksi kepemimpinan didominasi pertimbangan dukungan struktural, bukan performa elektoral dan kedekatan dengan konstituen, partai menciptakan jarak antara “suara pengurus” dan “suara pemilih”. Golkar Kota Ambon akan tampil sebagai partai yang sibuk berbicara pada dirinya sendiri, bukan pada warga kota.
2. Melemahnya identifikasi pemilih. Di tengah munculnya banyak partai dan figur alternatif, pemilih—terutama generasi muda—cenderung memilih partai yang mampu menunjukkan keterbukaan, kompetisi sehat, dan kepemimpinan yang bisa mereka “rasakan” kehadirannya. Aklamasi calon tunggal mengirim pesan bahwa partai lebih nyaman dengan konsensus elit tertutup daripada debat ide yang terbuka.
3. Memori kekalahan dan evaluasi pusat. Pengalaman evaluasi keras terhadap DPD-DPD II Golkar di Maluku selepas pemilu 2019 menunjukkan bahwa struktur pusat sebenarnya peka terhadap penurunan suara di daerah. Namun jika pelajaran itu tidak diterjemahkan menjadi pembukaan ruang kompetisi dan regenerasi di Kota Ambon, maka memori kekalahan justru akan berulang karena partai menumpuk masalah di hulu rekrutmen.
4. Ketergantungan pada mesin tanpa narasi. Mesin partai yang kuat, tanpa figur yang mampu menyusun narasi segar soal kota, hanya akan menjadi “pabrik spanduk dan baliho”. Pemilih kini menuntut lebih dari sekadar slogan pembangunan; mereka mencari pemimpin yang mampu memaknai ulang relasi partai dengan ruang hidup warga: dari pasar Arumbai sampai perumahan di pinggiran Teluk Ambon.
Dalam bahasa personifikasi, Golkar Kota Ambon adalah “pohon beringin” yang akarnya dulu memeluk tanah, namun kini terlalu sibuk merapikan dahan-dahan di atas sampai lupa bahwa tanah di bawahnya mulai retak dan mengering.
Penutup:
Aklamasi Bukan Akhir Cerita Secara normatif, partai berhak mengatur mekanisme internalnya, termasuk membuka peluang aklamasi calon tunggal, sejauh sesuai AD/ART dan prosedur. Namun secara akademik, aklamasi yang lahir dari proses yang tidak kompetitif dan minim deliberasi selalu menyimpan “biaya tersembunyi” dalam bentuk penurunan legitimasi dan potensi penurunan suara di pemilu berikut. Jika Golkar Kota Ambon ingin membalik arah, maka Musda X semestinya tidak diperlakukan sebagai “ruang pengesahan nama”, tetapi sebagai panggung untuk menguji gagasan, rekam jejak, dan kapasitas membangun kepercayaan publik secara terbuka, bahkan jika secara formal hanya ada satu kandidat yang mendaftar. Tanpa itu, partai akan berjalan masuk ke pemilu sebagai “raksasa lelah”: besar secara struktur, tetapi ringkih ketika berhadapan dengan ayunan tangan kecil pemilih yang perlahan-lahan memindahkan coblosan mereka ke lambang lain di kertas suara. (redaksi)


