Place Your Ad
Place Your Ad
Editorial Redaksi

Editorial : Blok Masela Bukan Mesin Bisnis Harapan Pengangguran

×

Editorial : Blok Masela Bukan Mesin Bisnis Harapan Pengangguran

Sebarkan artikel ini

Saumlaki, Kapatanews.com – Nama Blok Masela hari ini bukan lagi sekadar proyek migas. Di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Blok Masela telah berubah menjadi simbol harapan hidup ribuan anak muda yang selama bertahun-tahun menunggu pekerjaan, menunggu perubahan ekonomi, dan menunggu janji kesejahteraan yang terus diucapkan dari panggung ke panggung.

Karena itu, siapa pun yang membawa nama “pelatihan tenaga kerja Blok Masela” sesungguhnya sedang bermain dengan harapan rakyat.

Dan ketika harapan rakyat mulai diperdagangkan tanpa transparansi yang jelas, di situlah bahaya sesungguhnya dimulai.

Redaksi memandang, publik tidak boleh dibutakan oleh euforia pelatihan, seminar, perekrutan, maupun promosi besar-besaran yang membawa nama proyek INPEX Corporation. Masyarakat berhak bertanya dengan keras: apakah lembaga pelatihan tersebut benar-benar memiliki legitimasi resmi, atau hanya sedang menumpang besar di atas nama Blok Masela?

Pertanyaan ini penting. Sebab sejarah panjang proyek-proyek besar di negeri ini selalu melahirkan kelompok-kelompok yang menjadikan penderitaan masyarakat sebagai lahan bisnis baru. Ketika rakyat lapar pekerjaan, ada pihak yang menjual mimpi. Ketika anak muda putus asa mencari masa depan, ada pihak yang menjual harapan dengan bungkus pelatihan.

Ironisnya, masyarakat sering ditempatkan hanya sebagai objek.

Mereka diminta percaya. Diminta ikut pelatihan. Diminta membayar biaya. Diminta menunggu peluang kerja. Tetapi publik tidak pernah benar-benar diberi penjelasan utuh:

  • apakah ada kerja sama resmi,
  • apakah ada rekomendasi,
  • apakah ada pengakuan dari SKK Migas,
  • atau apakah semua ini hanya permainan narasi untuk membangun kepercayaan publik.

Inilah ruang gelap yang berbahaya.

Sebab ketika nama proyek strategis nasional mulai dipakai tanpa batas yang jelas, maka masyarakat kecil adalah korban pertama yang akan menanggung akibatnya. Anak-anak muda rela menjual ternak, meminjam uang, bahkan mengorbankan kebutuhan keluarga demi mengejar mimpi bekerja di Blok Masela.

Tetapi siapa yang bertanggung jawab jika harapan itu ternyata kosong?

Siapa yang akan menjawab jika ribuan peserta pelatihan akhirnya hanya memegang sertifikat tanpa pekerjaan?

Siapa yang akan bertanggung jawab jika rakyat ternyata hanya dijadikan pasar bisnis berkedok pemberdayaan tenaga kerja?

Redaksi menilai, diamnya pemerintah daerah justru memperbesar kecurigaan publik. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar tidak boleh menjadi penonton ketika nama Blok Masela mulai digunakan secara bebas di ruang publik tanpa pengawasan ketat.

Jika memang pelatihan itu resmi, buka seluruh dokumennya kepada masyarakat.

Jika memang ada kerja sama dengan INPEX atau SKK Migas, tunjukkan secara terbuka.

Jika tidak ada hubungan resmi, maka jangan biarkan rakyat digiring pada keyakinan seolah-olah pelatihan tertentu adalah pintu pasti menuju pekerjaan proyek Blok Masela.

Sebab dalam dunia migas, tidak ada ruang bagi manipulasi harapan.

Blok Masela bukan panggung sandiwara. Blok Masela bukan alat dagang psikologi masyarakat. Blok Masela adalah proyek bernilai triliunan rupiah yang menyangkut masa depan daerah dan generasi muda Tanimbar.

Redaksi percaya, rakyat Tanimbar bukan masyarakat bodoh yang bisa terus dibuai dengan slogan-slogan manis. Masyarakat hari ini mulai kritis. Mulai bertanya. Mulai membaca arah permainan di balik hiruk-pikuk pelatihan tenaga kerja.

Dan ketika rakyat mulai sadar bahwa harapan mereka dipermainkan, maka yang lahir bukan lagi antusiasme, tetapi kemarahan sosial.

Karena itu, sebelum semuanya terlambat, seluruh pihak harus berhenti menjadikan nama Blok Masela sebagai komoditas dagang. Jangan ada lagi pihak yang membangun kerajaan bisnis di atas kecemasan pengangguran masyarakat.

Rakyat Tanimbar membutuhkan kepastian, bukan propaganda.

Mereka membutuhkan pekerjaan nyata, bukan parade janji.

Dan lebih dari itu, rakyat membutuhkan kejujuran. Sebab di daerah yang terlalu lama hidup dalam janji pembangunan, kebohongan sekecil apa pun bisa berubah menjadi api ketidakpercayaan yang membakar segalanya.

Redaksi – Kapatanews.com

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP