Place Your Ad
Place Your Ad
Place Your Ad
Opini

Di Antara Euforia Piala Dunia Dan Keterpurukan Sepakbola Maluku

×

Di Antara Euforia Piala Dunia Dan Keterpurukan Sepakbola Maluku

Sebarkan artikel ini

Oleh: Bung Tomson

Dua Wajah Sepak Bola Di Maluku

Ambon,Kapatanews.com – Setiap empat tahun sekali, Maluku kembali larut dalam euforia. Layar lebar dipasang di pelataran, di halaman kantor, di tepi pantai maupun di depan depan rumah warga. Bendera Argentina, Brasil, Prancis, Belanda dan lain lain berkibar di atas rumah-rumah warga.

Dari rakyat biasa di warung kopi, politisi yang duduk di kursi dewan, hingga Gubernur yang tampil dengan jersey di depan kamera. Semua mendadak menjadi analis, komentator, dan pecinta bola sejati. Debat tentang strategi, pemain, bisa berlangsung sampai subuh.

 

Semangat Itu Tinggi. Menggebu Dan Menyatukan.

Namun di saat yang sama, ada wajah lain dari sepak bola di Maluku. Wajah yang sepi. Lapangan yang tidak memenuhi standar. Turnamen yang mati suri. Dan mimpi anak-anak muda yang mentok karena tidak ada tempat untuk bertumbuh.

Inilah ironi kita: Semangat Piala Dunia setinggi langit, tapi kemajuan sepak bola Maluku tertinggal jauh di kancah nasional.

 

Euforia Yang Mahal, Ekosistem Yang Murah

Tidak bisa dipungkiri, antusiasme masyarakat Maluku terhadap Piala Dunia adalah salah satu yang terbesar di Indonesia Timur. Panitia nobar berlomba-lomba. Sponsor masuk. Media lokal ramai memberitakan.

Tapi coba bandingkan dengan ekosistem sepak bola daerah kita sendiri.
Berapa banyak kompetisi resmi PSSI Maluku yang digelar rutin setiap tahun?
Berapa stadion di Maluku yang memenuhi standar PSSI dan FIFA?
Berapa SSB di Maluku yang memiliki pelatih berlisensi dan program pembinaan jangka panjang?

Jawabannya memprihatinkan. Liga internal provinsi sering molor. Lapangan di kabupaten banyak yang masih tanah dan becek. Pembinaan usia dini berjalan seadanya, bergantung pada semangat para pelatih relawan.

Akibatnya, rantai pembinaan putus. Anak usia 12 tahun yang jago di kampung, berhenti di usia 17 tahun karena tidak ada kompetisi lanjutan. Tidak ada klub. Tidak ada beasiswa. Tidak ada jalan ke jenjang yang lebih tinggi.

 

Kita Jago Menonton, Gagal Membina

Fenomena Piala Dunia juga memunculkan satu pemandangan unik: semua orang jadi pejabat bola.
Rakyat mengadakan nobar. Politisi membagikan kaos dan mengunggah foto bersama supporter. Gubernur dan kepala daerah tampil di televisi dengan jersy tim kebanggaannya serata memberikan himbauan menjaga sportivitas.

Ini bagus. Ini bentuk kedekatan dengan rakyat.

Tapi pertanyaannya, di mana semangat itu ketika APBD disusun?
Di mana semangat itu ketika membahas anggaran untuk pembinaan SSB?

Semangat kita tumpah habis untuk “mereka” yang bertanding ribuan kilometer jauhnya.
Tapi pelit untuk “kita” yang bermain di tanah sendiri.

Tanpa komitmen anggaran, tanpa kebijakan yang berpihak, tanpa kepemimpinan yang konsisten, maka setiap 4 tahun kita hanya akan mengulang siklus yang sama: rame saat nobar, sepi setelahnya.

 

Maluku Tidak Kekurangan Bibit, Maluku Kekurangan Wadah

Secara sejarah, Maluku adalah salah satu lumbung pemain terbaik Indonesia.
Nama-nama besar dari tanah Maluku sudah mengisi skuad Timnas dari masa ke masa. Ciri khasnya jelas: kecepatan, fisik kuat, teknik individu, dan mental pantang menyerah. Itu bawaan.

Hari ini pun, pemain-pemain keturunan Maluku masih mendominasi Liga 1 dan Timnas. Itu bukti bahwa bibitnya ada.

Lalu apa yang kurang? Wadah.

Yang kurang adalah kompetisi berjenjang. Dari tarkam tingkat RT, ke tingkat desa, kecamatan, kabupaten, lalu provinsi. Yang kurang adalah sistem scouting yang benar-benar menjaring anak berbakat di pulau-pulau. Yang kurang adalah kepastian bahwa kalau anak rajin latihan, dia punya masa depan di sepak bola.

Selama ini, anak Maluku harus “berenang” sendiri ke Jawa maupun ke daerah lain untuk mencari klub. Tidak semua punya biaya dan keberanian itu. Akhirnya banyak yang menyerah.

 

Pindahkan Energi dari Layar ke Lapangan

Piala Dunia akan selalu datang dan pergi. Tapi sepak bola Maluku harus terus berjalan.
Untuk itu, kita butuh langkah konkret, bukan hanya seremonial.

Pertama, Komitmen Anggaran dan Kebijakan.
Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota harus mengalokasikan anggaran khusus untuk pembinaan usia dini. Gaji pelatih SSB harus diperhatikan agar mereka profesional, bukan sekadar relawan. Beri insentif bagi klub yang rutin menggelar kompetisi.

Kedua, Hidupkan Kompetisi Berjenjang.
Gelar Liga Maluku secara rutin setiap tahun. Turunkan sampai ke tingkat desa. Jadikan ini sebagai ajang seleksi. Libatkan TNI, Polri, BUMN, dan swasta sebagai sponsor.

Ketiga, Bangun dan Rawat Infrastruktur.
Minimal 1 lapangan standar di setiap kabupaten/kota. Bukan untuk megah, tapi untuk layak. Lapangan adalah rumah kedua bagi pemain muda.

Keempat, Libatkan Semua Elemen.
PSSI, KONI, media, kampus, dan komunitas. Jangan jalan sendiri-sendiri. Buat peta jalan sepak bola Maluku 10 tahun ke depan.

 

Jangan Hanya Jadi Penonton Sejarah

Basudara…
Kita boleh bangga saat tim kesayangan kita juara Piala Dunia. Tapi akan lebih bangga lagi kalau 10 tahun dari sekarang, ada pemain asal Ambon, Tual, atau Masohi yang mengangkat trofi bersama Timnas.

Jangan sampai kita hanya menjadi bangsa yang paling semangat menonton sejarah, tapi tidak pernah menciptakan sejarah sendiri.

Sudah saatnya. Pindahkan energi kita dari layar televisi ke lapangan hijau.
Karena Maluku tidak kekurangan cinta pada bola. Maluku hanya butuh kesempatan untuk membuktikannya (Redaksi)

Ikuti Kami untuk Informasi menarik lainnya dari KAPATANEWS.COM Di CHANNEL TELEGRAM Dan CHANNEL WHATSAPP