Ambon – Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maluku, Ahmad Sadam, menegaskan bahwa perbedaan pendapat maupun persoalan yang melibatkan individu tidak boleh digiring menjadi isu suku, agama, ras, maupun identitas kelompok. Menurutnya, praktik semacam itu tidak mencerminkan karakter kader intelektual yang menjunjung tinggi etika, rasionalitas, dan integritas dalam menyampaikan kritik.
“Seorang kader intelektual seharusnya mampu membangun argumentasi berdasarkan fakta, data, dan nilai-nilai akademik, bukan membungkus persoalan individu dengan narasi agama maupun suku yang berpotensi menimbulkan polarisasi di tengah masyarakat,” ujar Ahmad Sadam.
Ia menilai bahwa penggunaan identitas keagamaan atau kesukuan sebagai alat untuk menyerang individu hanya akan mengaburkan substansi persoalan serta membuka ruang lahirnya prasangka dan konflik sosial yang tidak perlu. Kritik merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi, namun harus disampaikan secara bertanggung jawab, proporsional, dan berlandaskan etika.
Menurut Ahmad Sadam, Maluku memiliki sejarah panjang dalam menjaga persaudaraan dan merawat perdamaian. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda dan aktivis mahasiswa, memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ruang publik agar tetap sehat dan bebas dari provokasi yang memanfaatkan sentimen identitas.
“Nilai-nilai moderasi beragama, toleransi, dan semangat orang basudara harus terus menjadi fondasi dalam kehidupan bermasyarakat. Jangan sampai kepentingan sesaat justru mengorbankan persatuan yang telah dibangun dengan penuh pengorbanan,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh kader organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, maupun organisasi keagamaan agar mengedepankan budaya dialog, berpikir kritis, serta menghormati perbedaan pandangan. Menurutnya, kualitas seorang kader tidak diukur dari kerasnya serangan terhadap individu, melainkan dari kemampuannya menghadirkan solusi, gagasan, dan kritik yang konstruktif.
“Integritas seorang kader tercermin dari sikapnya dalam menyampaikan pendapat. Ketika kritik berubah menjadi serangan yang memanfaatkan isu agama dan suku, maka nilai-nilai intelektualitas telah ditinggalkan. Yang dibutuhkan hari ini adalah kedewasaan berpikir, bukan provokasi identitas,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Ahmad Sadam mengajak seluruh masyarakat Maluku untuk bersama-sama menjaga persatuan, memperkuat budaya saling menghormati, serta menolak segala bentuk narasi yang dapat memecah belah kehidupan sosial. Menurutnya, menjaga harmoni adalah tanggung jawab bersama demi terwujudnya Maluku yang damai, inklusif, dan berkemajuan (*)



