Saumlaki, Kapatanews.com – Di ujung timur Indonesia, di tanah yang selama puluhan tahun menyimpan harapan sekaligus kegelisahan bernama Tanimbar, sejarah seakan berhenti sejenak pada akhir Mei 2026. Angin Laut Arafura yang selama ini menjadi saksi bisu berbagai perdebatan tentang Blok Masela kembali berhembus lembut menyentuh pesisir. Namun kali ini, angin itu membawa sesuatu yang berbeda: secercah harapan yang selama bertahun-tahun dicari masyarakat.
Selama hampir tiga dekade, Blok Masela bukan sekadar proyek energi. Ia telah menjadi cerita panjang tentang mimpi, penantian, pertanyaan, dan harapan ribuan keluarga yang hidup di Kepulauan Tanimbar. Generasi berganti, anak-anak tumbuh dewasa, para orang tua menua, tetapi satu pertanyaan terus bergema di ruang-ruang kehidupan masyarakat: kapan manfaat besar itu benar-benar hadir untuk rakyat?
Tidak sedikit warga yang mulai kehilangan keyakinan. Polemik yang berlangsung bertahun-tahun membuat sebagian orang merasa bahwa jalan menuju kesejahteraan semakin jauh. Namun di tengah perjalanan panjang itulah, sebuah ikhtiar baru hadir.
Pada 30 Mei 2026, Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto bersama tim khususnya menginjakkan kaki di Bumi Duan-Lolat. Tidak datang dengan pidato yang menggelegar, tidak pula membawa janji-janji besar. Mereka datang membawa sesuatu yang sederhana tetapi seringkali paling sulit dilakukan dalam setiap konflik panjang: mendengar.
Dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya, dari satu kelompok masyarakat ke kelompok berikutnya, dialog dibangun dengan sabar. Setiap suara diberi ruang. Setiap keresahan didengarkan. Setiap harapan dicatat. Dalam suasana itulah, banyak warga mulai merasakan bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka benar-benar didengar.
Di Desa Lermatang dan berbagai titik pertemuan lainnya, percakapan berlangsung hingga malam. Tidak ada kemewahan ruang rapat besar. Yang ada hanyalah manusia-manusia yang duduk bersama, berbicara dari hati ke hati tentang masa depan tanah yang mereka cintai.
Mayjen TNI Dody Triwinarto melalui tim khususnya memilih jalan yang tidak selalu mudah. Jalan dialog. Jalan kesabaran. Jalan yang mengutamakan kemanusiaan. Sebab di balik setiap polemik, selalu ada manusia yang berharap didengar dan dihargai.
Hari pertama berlalu. Hari kedua datang. Kemudian hari ketiga, keempat, hingga hari kelima. Perlahan, sekat-sekat yang selama ini memisahkan mulai mencair. Ketegangan yang pernah terasa begitu kuat berubah menjadi percakapan yang lebih terbuka.
Mungkin bagi sebagian orang, lima hari hanyalah rentang waktu yang singkat. Namun bagi masyarakat yang telah menunggu hampir 27 tahun, lima hari itu terasa seperti sebuah jembatan yang menghubungkan masa lalu yang penuh polemik dengan masa depan yang mulai menghadirkan harapan.
Tidak ada tepuk tangan yang gemuruh. Tidak ada perayaan besar. Yang ada hanyalah senyum-senyum kecil masyarakat yang mulai percaya bahwa jalan menuju kesepahaman masih mungkin ditemukan.
Di mata banyak warga, keberhasilan membangun ruang dialog tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan sebesar apa pun pada akhirnya harus berakar pada manusia. Bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari investasi dan angka-angka ekonomi, tetapi juga dari kemampuan mendengar suara rakyat yang selama ini hidup berdampingan dengan proyek itu.
Ketika matahari mulai tenggelam pada 3 Juni 2026, rangkaian pertemuan itu memang berakhir. Namun bagi banyak warga Tanimbar, yang sesungguhnya baru dimulai adalah harapan. Harapan bahwa anak-anak mereka kelak tidak lagi hanya mendengar cerita tentang Blok Masela sebagai mimpi yang tertunda, tetapi sebagai kenyataan yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Di tanah yang dikelilingi laut biru itu, nama Mayjen TNI Dody Triwinarto dan tim khususnya mungkin akan dikenang bukan semata karena jabatan yang mereka sandang. Melainkan karena upaya menghadirkan ruang dialog ketika perbedaan nyaris tak menemukan jalan pulang.
Dan jika suatu hari nanti sejarah Blok Masela ditulis kembali, mungkin masyarakat akan mengenang bahwa pernah ada lima hari yang mengajarkan satu hal penting: bahwa di atas segala perbedaan, selalu ada ruang untuk duduk bersama, saling mendengar, dan membangun masa depan yang lebih baik bagi Tanimbar. (Nik Besitimur)



