Saumlaki, Kapatanews.com – Di banyak organisasi, komunitas, kelompok sosial, bahkan dalam lingkaran pertemanan, selalu ada kisah tentang orang-orang yang memulai perjalanan bersama. Mereka tumbuh dari titik yang sama, menghadapi tantangan yang sama, dan menikmati keberhasilan yang diraih secara kolektif. Mereka duduk dalam satu meja, berbagi mimpi yang sama, dan saling menguatkan ketika keadaan sulit.
Namun tidak semua kebersamaan berakhir dengan kebahagiaan.
Ada kalanya perjalanan panjang itu berubah menjadi arena persaingan tersembunyi. Orang-orang yang dulu saling mendukung perlahan berubah menjadi pihak yang saling menjatuhkan. Mereka yang dahulu berdiri berdampingan kini saling menatap dengan penuh curiga. Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun runtuh hanya dalam hitungan hari karena satu hal yang paling tua dalam sejarah manusia: kepentingan.
Fenomena inilah yang sering digambarkan masyarakat dengan istilah sederhana namun sangat tajam: pagar makan tanaman.
Pagar seharusnya melindungi tanaman. Pagar dibangun untuk menjaga agar tanaman dapat tumbuh dengan aman dari berbagai ancaman. Namun ketika pagar justru menjadi perusak tanaman itu sendiri, maka kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih menyakitkan daripada serangan dari luar.
Sebab pengkhianatan yang datang dari orang dekat selalu meninggalkan luka yang lebih dalam.
Dalam banyak kasus, konflik tidak selalu lahir dari perbedaan pandangan. Tidak sedikit pertikaian muncul karena ambisi pribadi yang tidak terpuaskan. Ketika seseorang merasa keinginannya tidak dipenuhi, ketika hasratnya tidak memperoleh tempat, atau ketika kepentingan pribadinya tidak mendapat dukungan, maka berbagai cara mulai dicari untuk mencapai tujuan tersebut.
Awalnya tampak biasa.
Senyum masih diberikan. Sapaan masih terdengar ramah. Pertemuan masih berlangsung seperti biasa. Namun dibalik itu, mulai tumbuh benih-benih ketidakpuasan yang perlahan berkembang menjadi strategi.
Strategi untuk mengendalikan.
Strategi untuk memanfaatkan.
Strategi untuk menciptakan konflik.
Mereka yang merasa gagal mendapatkan apa yang diinginkan sering kali memilih jalan lain. Jika pintu depan tertutup, maka mereka mencari pintu belakang. Jika tidak bisa mendapatkan dukungan secara langsung, maka mereka mencoba membangun pengaruh melalui bisikan-bisikan yang memecah persatuan.
Konflik kemudian dijadikan alat.
Persahabatan dijadikan kendaraan.
Kepercayaan dijadikan senjata.
Dan orang-orang yang dahulu dianggap saudara perlahan berubah menjadi target.
Di sinilah wajah asli sebuah pengkhianatan mulai terlihat.
Masyarakat sering menyebutnya sebagai fenomena “teman makan teman”. Sebuah ungkapan yang terdengar sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Sebab tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang pernah dibantu justru menjadi pihak yang pertama melempar batu ketika kesempatan itu datang.
Lebih ironis lagi ketika praktik itu terjadi dalam hubungan senior dan junior.
Dalam tatanan sosial, seorang senior seharusnya menjadi pelindung, pembimbing, dan pemberi arah bagi mereka yang lebih muda. Senior hadir untuk membangun generasi berikutnya agar menjadi lebih baik. Ia menjadi tempat belajar, tempat bertanya, dan tempat mencari pengalaman.
Namun realitas tidak selalu berjalan demikian.
Ada kalanya posisi senior justru digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan kepentingan pribadi. Junior yang memiliki potensi mulai dianggap ancaman. Mereka yang berkembang dianggap pesaing. Mereka yang mulai mendapatkan perhatian dianggap harus dibatasi.
Alih-alih membimbing, sebagian memilih mengendalikan.
Alih-alih mendukung, sebagian memilih menjatuhkan.
Alih-alih membuka jalan, sebagian justru menutup akses agar tidak ada yang mampu melampaui posisi yang telah mereka nikmati selama bertahun-tahun.
Fenomena “senior makan junior” bukanlah cerita baru. Ia hadir dalam berbagai bentuk dan di berbagai tempat. Kadang dilakukan secara terang-terangan, namun lebih sering bergerak dalam senyap.
Karakter seseorang tidak diuji saat keadaan sulit. Karakter justru diuji ketika kekuasaan, pengaruh, dan kesempatan berada dalam genggamannya.
Sebab saat itulah terlihat apakah seseorang benar-benar bekerja untuk kepentingan bersama atau hanya menggunakan kebersamaan sebagai kendaraan menuju kepentingan pribadi.
Yang paling berbahaya adalah ketika individu-individu seperti ini mampu menyamarkan niat mereka di balik narasi persatuan. Mereka berbicara tentang loyalitas, tetapi memecah kelompok dari dalam. Mereka berbicara tentang kebersamaan, tetapi diam-diam menciptakan kubu. Mereka berbicara tentang perjuangan, tetapi hasil perjuangan hanya diarahkan untuk memenuhi kepentingan segelintir orang.
Mereka memanfaatkan tenaga orang lain.
Memanfaatkan jaringan orang lain.
Memanfaatkan kepercayaan orang lain.
Namun ketika keuntungan datang, mereka berdiri paling depan untuk menikmati hasilnya.
Sementara mereka yang bekerja keras sejak awal perlahan disingkirkan.
Inilah ironi yang sering terjadi dalam berbagai organisasi maupun komunitas. Orang yang paling banyak berbicara tentang pengorbanan belum tentu menjadi orang yang paling banyak berkorban. Sebaliknya, mereka yang bekerja dalam diam justru sering menjadi korban dari permainan kepentingan.
Ketika hawa nafsu terhadap jabatan, pengaruh, keuntungan ekonomi, atau kepuasan pribadi menjadi tujuan utama, maka nilai-nilai kebersamaan mulai kehilangan makna.
Kejujuran menjadi hambatan.
Loyalitas menjadi ancaman.
Integritas menjadi musuh.
Dan konflik menjadi instrumen yang dianggap efektif untuk mencapai tujuan.
Padahal sejarah selalu menunjukkan satu pelajaran yang sama.
Tidak ada bangunan yang runtuh karena serangan dari luar apabila pondasinya masih kuat. Bangunan hanya akan roboh ketika kerusakan sudah dimulai dari dalam.
Demikian pula sebuah komunitas, organisasi, atau kelompok. Ancaman terbesar bukan selalu datang dari pihak luar. Ancaman terbesar justru muncul ketika orang-orang di dalamnya mulai saling memangsa demi kepentingan sesaat.
Ketika pagar mulai memakan tanaman.
Ketika teman mulai menjatuhkan teman.
Ketika senior mulai menyingkirkan junior.
Ketika kepentingan pribadi lebih besar daripada tujuan bersama.
Saat itulah kehancuran perlahan menemukan jalannya sendiri.
Pada akhirnya, masyarakat akan melihat siapa yang benar-benar bekerja untuk kepentingan bersama dan siapa yang hanya menjadikan kebersamaan sebagai alat untuk memenuhi ambisi pribadi. Sebab waktu memiliki cara yang unik untuk membuka tabir yang selama ini disembunyikan.
Topeng bisa dipakai dalam waktu lama, tetapi tidak selamanya.
Konflik bisa direkayasa, tetapi kebenaran akan tetap menemukan jalannya.
Dan ketika semua terbuka, sejarah akan mencatat satu hal yang tidak pernah berubah sejak dahulu: bahwa mereka yang tumbuh bersama seharusnya saling menguatkan, bukan saling menghancurkan. Sebab ketika pagar memilih memakan tanaman yang dijaganya sendiri, yang tersisa bukan lagi kebun yang subur, melainkan ladang yang penuh luka akibat pengkhianatan dari orang-orang yang pernah dipercaya. (Red)



