Tual, Kapatanews.com – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Maluku Tenggara, Buce Rahakbauw, mengkritik DPRD Maluku Tenggara terkait konflik yang kembali terjadi di Ohoi Danar, Jumat (27/3/2026), karena dinilai tidak hadir langsung di lapangan.
Rahakbauw menyatakan konflik sosial di Ohoi Danar merupakan peristiwa berulang yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di wilayah Maluku Tenggara. Ia menilai respons DPRD sejauh ini lebih banyak disampaikan melalui pernyataan di media dibanding keterlibatan langsung di lokasi kejadian.
“DPRD jangan cuma duduk di kursi lalu berteriak di media. Kalau benar mereka wakil rakyat, mestinya mereka hadir, temui masyarakat, dan ikut menenangkan keadaan,” kata Rahakbauw.
Ia menjelaskan kehadiran anggota DPRD di tengah konflik dinilai penting untuk membangun komunikasi antara pihak yang bertikai serta meredam ketegangan. Menurut dia, peran tersebut juga menjadi bagian dari fungsi representasi lembaga legislatif.
“Ketika situasi mulai panas, seharusnya anggota dewan turun. Dengarkan korban, dekati keluarga pelaku, bangun komunikasi, bantu redam emosi,” ujarnya.
Selain DPRD, Rahakbauw juga meminta Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara untuk mengambil langkah konkret dalam menangani dampak konflik. Ia menilai pemerintah perlu memastikan pemulihan kondisi masyarakat, termasuk penanganan korban dan perbaikan fasilitas yang terdampak.
“Korban harus ditenangkan, rumah yang rusak diperhatikan, situasi dipulihkan supaya tidak kembali memanas,” katanya.
Rahakbauw menambahkan konflik sosial tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis masyarakat dan hubungan sosial antar warga. Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan pemulihan yang menyentuh aspek kemanusiaan.
Ia juga mengapresiasi aparat TNI dan Polri yang dinilai tetap berada di lapangan dalam menangani situasi konflik.
“Mereka selalu turun saat ada persoalan dan tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Rahakbauw mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan tidak terprovokasi, serta mempercayakan penanganan kasus kepada aparat penegak hukum guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada DPRD Maluku Tenggara telah dilakukan melalui Sekretariat DPRD. Namun hingga berita ini diturunkan, pihak DPRD belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik tersebut.
Konflik di Ohoi Danar kembali terjadi pada Jumat (27/3/2026) dan menambah rangkaian kejadian serupa di wilayah Maluku Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. Aparat keamanan masih melakukan pengamanan di lokasi untuk menjaga situasi tetap kondusif dan mencegah konflik meluas. (KN-14)





